Posted by Abdul Adzim Irsad On Juni - 19 - 2011 1 Comment

Masjidilharam, makkah

Muhammad

QS al-Isra’ (17:1) yang artinya:’’ Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang Telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.

Hampir semua ulama’ linguistik sepakat bahwa perjalan Nabi Saw dari Masjidililharam menuju Masjidil Aqsa, hingga naik kelangit ke-7 bukan sebuah mimpi, tetapi perjalanan nyata. Alasan yang disampaikan oleh mereka ialah’’ bi-abdidi’’ yang artinya ’’hamba-Nya’’ mengisaratkan ’’ fisik’’ Nabi Saw secara utuh. Sebab, Nabi Saw menjadi obyek, perjalanan itu bukan kehendak Nabi Saw, tetapi atas kehendak-Nya. Oleh karena itu, perjalanan itu begitu cepat, sehingga membuat orang yang mendengarnya sulit mempercayainya. Sebab, kondis seperti itu tidak mungkin dilakukan oleh seorang manusia.

Abu Bakar, satu-satunya rekan Muhammad yang percaya seratus persen dengan berita ini. Oleh karena itu, Nabi Saw memberinya ’’julukan al-Siddiq’’ yang artinta orang yang jujur. Alasan Abu Bakar mempercayai Muhammad, bukan karena rekan, tetapi karena selama bersahabat dengan Muhammad sejak kecil hingga dewasa, Muhammad tidak pernah berbohong. Jadi, sangat mustahil Muhammad berbohong. Apa-pun yang disamapaikan oleh Muhammad, pasti benar adanya.

Sebelum naik ke ngit tujuh terlebih dahulu Nabi transit di Masidil Aqsa dan sholat berjama’ah bersama-sama para arwah Nabi dan Rosul yang telah mendahuluinya. Lalu beliau dan Malaikat Jibril bersama-sama naik kelangit, sesampai pada langit pertama, Jibril bertemu dengan Nabiyullah Adam as. Nabi Saw tertegun ketika melihat keadaan beliau. Sesaat Adam as menangis tersedu-sedu jika menoleh kearah kanan, sesekali tersenyum gembira tatkala menoleh kearah kanan. Kondisi seperti ini membuat Nabi Saw ingin bertanya, apakah gerangan yang membuat Nabi Adam menangis dan tersenyum.

Kemudian Nabi bertanya “kenapa engkau menangis ketika menolah kekiri dan tersenyum ketika menoleh kekanan?, Adam as menjawab “Aku berduka cita, sedih, karena ketika melihat kekiri aku dapat anak keturunanku hidup dalam kemurkaan Allah dan menjadi penghuni neraka, sedangkan aku merasa bersyukur dan senang dan bahagia jika menoleh ke kanan karena aku dapati mereka (keturunanku) masuk dalam kelompok orang-orang sholeh yang menjalani perintah-Nya dan menjadi penghuni surga ilahi. Itulah pengalaman pertama ruhani Nabi dilangit paling bawah.

Lalu malaikat Jibril dan Muhammad menuju langit kedua dan mengucapkan salam, ternyata didapai dua orang pemuda yang sangat tampan sekali, ternyat kedua pemuda tersebut yaitu   Isa bin Maryam dan Yahya bin Harun. Kemudian dilanjutkan naik kelangit yang ketiga bertemu dengan pemuda yang sangat tampan rupawan, ternyata dialah Nabiyullah Yusuf bin Ya’kub as, lalu dilanjutkan kelangit kempat dan disitu bertemu dengan Idris as. Lalu pada langit yang kelima bertemu dengan seorang lelaki yang sedang bercerita dan dikelilingi oleh para pengikutnya, ternyata dia adalah nabi Harun dan bani Israil (pengikutnya terdahulu).  Kemudian ketika smapai dilangit yang ke enam bertemua dengan Nabi musa, tapi beliau sedang menangis, lalu Nabi bertanya…! Kenapa engkau menangis!dia menjawab: ’’kerena sesungguhnya banu israil mengatakan bahwa saya lebih mulya disisi Allah dari pada Anak adam ( Muhammad).

Lalu Nabi dan Jibril menuju langit yang ketujuh, didapai seorang lelaki yang bijak sedang duduk diatas kursinya didepan pintu surga beliau  dikelilingi sekelompok kaum dengan wajah yang bersih dan penuh dengan cahaya, sebagian lagi dengan wajah yang sedikit kusam lalu mereka bangkit dan mencuci/ mandi disebuah sungai  dan kemudian mereka keluar dengan wajah cerah dan bersih seperti sahabt-sahabatnya.

Nabi bertanya,:“siapa dia Ya Jibril? Dia menjawab “ Bapakmu Ibrahim as”, mereka yang wajahnya bersih dan penuh dengan cahaya adalah kaum yang tidak pernah menodai keimnananya  dengan kedholiman, sedangkan mereka yang wajahnya kusam dan kemudian bercahaya setelah mandi adalah sekelompok kaum yang melakukan amal sholeh tapi sering juga melakukan dosa dan menodai keimanan dengan kedholiman lalu mereka bertobat kepada Allah Swt. Sedangkan Nabi Ibrahim menyandar pada sebuah bangunan, itulah yang dinamakan “Baitul Ma’mur”. Setiap hari ada sekitar tujuh puluh malaikat Allah masuk di Baitul Ma’mur.

Lalu jibril membawa Nabi Saw ke tempat yang dituju yaitu “Sidrotul Muntaha “disitu beliau mendapati empat aliran sungai yang sangat besar, keduanya nampak jelas, dan keduanya tertutup. Dua aliran sungai yang tertutup berada dalam surga-Nya sedangkan yang terlihat jelas adalah aliran sungai Nil dan Furat, keduanya ada mengalir didunia Fana’. Lalu Nabi dengan bimbingan Jibril as bertemua dengan (Allah Swt), dengan Qudrat Iradat-Nya Rosulullah Saw  mendapatkan perintah suci dari Azizul Jabbar tentang perintah sholat.

Pertemuan Kholiq denan hambanya (Rosulullah) merupakan interaksi special dan kontinyu antara kholiq dan mahluqnya terus menerus sampai sekarang ini. Sholat kelima puluh kali yang diwajibkan Allah atas umat Muhammad ternyata mendapat kritikan dari nabi-nabi yang terdahulu, mereka beralasan bahwa umat Muhammad Saw lemah dan kecil-kecil sehingga dikhwatirkan tidak optimal dalam menjalankan kewajibannya.

Lalu Nabi di suruh kembali kepada Robbul Izzati untuk memohon tahfif (keringanan), akhirnya Allah Swt memberikan tahfif sepuluh kali, namun nabi-nabi terdahulu masih keberatan dengan keringanan tersebut dan memohon pada Muhammad agar kembali lagi pada-Nya untuk memohon taffif lagi.  Permohonan tahfif ini terjadi berkali-kali sampai akhirnya menjadi lima kali dalam sehari, tapi para nabi masih merasa kasihan dengan umat Nabi dan meminta agar kembali memohon keringanan, namun Rosulullah Saw merasa malu sehingga menerima kewajiban lima kali dan sehari sebagai kewajiban atas dirinya dan umatnya dengan ihlas.

Pengalaman Ruhani Nabi Saw selama dalam perjalanan singkat, cepat, dan berkualitas itu mengisaratkan dapat dikaji dalam dua bidang ilmu:

1-      Ilmu Pengetahun dan Tehnologi: Nabi Saw sudah mengambarkan kepada semua manusia, bahwa perjalanan ke-ruang angasa sudah bisa ditempuh saat ini, dan bukan suatu yang mustahil. Jadi, tidak heran jika tehnologi modern mampu membuktikan  bahwa perjalanan ke-ruang angkasa bisa ditempuh dengan mudah, serta waktu yang cepat. Selanjutnya, Nabi Saw ingin menyampaikan agar supaya umatnya belajar sungguh-sungguh, agar supaya bisa menerobos langit (planet-planet). Barangkali, ketika bumi ini penuh, manusia bisa mencari tempat alternatif.

2-      Kajian Ilmu Agama :Sesungguhnya, esensi perjalanan isra’ mi’raj Nabi Saw pelajaran berharga bagi setiap manusia yang ber-iman, bahwa untuk menjumpai tuhan tidak mudah. Sebab, penyakit hati, seperti; iri, dengki, takabur, riya’ itu harus dibuang jauh-jauh. Sebab, beningnya hati, kejernihan fikiran, akan menjadi penentuan bisa menemukan tuhan yang sebenarnya. Sedangkan, arti perjalanan itu merupakan isarat bahwa ber-iman itu perlu sebuah tindakan, seperti; sholat, zakat, puasa, dan haji. Artinya, fisik dan hati juga harus dibersihkan, agar supaya bisa menemukan tuhan sebenarnya dalam hidupnya.

Oleh sebab itu, sebelum melakukan perjalanan, Nabi Saw di datangi oleh utusan Allah Sawt. Ternyata, kedua malaikat itu tidak serta merata langsung mengajak menjumpai tuhan. Pertama kali yang dilakukan ialah mem-bedah dada Nabi, kemudian mencuci hatinya hingga bersih dari segala penyakit dan kotoran hati. Air yang digunakan, bukan air sembarangan, tetapi mata air yang mengalir dari sudut baitullah (Air Zam-zam). Konon, menurut beberapa literatur hadis, sumber mata air itu berasal dari surga. Ketika fisik dan hatinya bersih, barulah bisa melakukan perjalanan, hingga berhadapan langsung dengan Allah Swt.

Untuk bisa ber-interkasi dengan Allah Swt sebagaimana yang diajarkan Nabi Saw, yaitu sholat lima waktu. Ternyata harus bersih lahiriyah (suci dari hadas kecil dan besar), tempat dan juga pakaian yang dikenakan. Akan lebih sempuran, jika fikiran, hatinya juga bening, sehingga benar-benar-benar merasakan kehadiran tuhan. Di sisi lain, makanan dan minuman yang dikonsumsi sehari-hari bukan hasil dari perbuatan yang kotor. Inilah esensi dari interaksi dengan Allah Swt melalui sholat lima waktu. Wallau a’lam

 

 

One Response so far.

  1. Warner Mclaws mengatakan:

    I just want to tell you that I am just beginner to blogging and site-building and seriously loved you’re blog site. Most likely I’m likely to bookmark your blog . You really come with incredible articles. Thanks a bunch for sharing your web-site.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook