Posted by Abdul Adzim Irsad On September - 3 - 2013 0 Comment

UIN MalangMalang kota kecil yang terletak disebelah selatan pula Jawa. Kota Malang namanya, tetapi nasibnya tidak malang. Udaranya  begitu sejuk dan menyejukkan. Maklumlah, kota Malang di kelilingi pegunungan, sehingga suhunya tidak begitu panas. Walaupun sesekali terasa panas, tetapi tidak terlalu menyengat, karena masyarakat begitu ramah dan menyejukkan.

Malang memiliki banyak kampus besar yang tempatnya saling berdekatan. Masing-masing memiliki kelebihan dan keistimewaan, sehingga membuat daya tarik sendiri bagi orang yang ingin memasuki kota Malang.Apalagi, Malang juga memiliki tempat-tempat wisata yang begitu mengoda parawisata, seperti; Pulau Sempu, Para Layang Batu, Air Terjun (Coban Rondo) dll.

Kampus-kampus besar yang menjadi jujukan mahasiswa luar jawa dan luar negeri antara lain, UB (Universitas Brawijaya), UIN (Universitas Islam Negeri Malang), UM (Universitas Negeri Malang), Poltek, UMM (Universitas Muhammadiyah Malang), UNISMA (Universitas Islam Malang), UNMER (Universitas Merdeka Malang), ITN (Institut Tehnolologi Nasional), ABM, Universitas Wisnuwardana, Stiken, Universitas Kanjuruan. Dan masih banyak kampus-kampus lain yang menyebar di kota Malang yang kecil.

Menariknya, beberapa kampus negeri menjadi serbuan mahasiswa asing. UIN misalnya, banyak sekali mahasiswa asing dari Libya, Sudan, Rusia, Thailand, Malaysia, Madasgar. Tahun ini, ada sekitar 60 mahasiswa dari Libya yang belajar di Jurusan Bahasa Arab program pasca sarjana dan doctor. Dan, sebagian lagi belajar di S1. Ada kisah menarik, beberapa mahasiswa dan mahasiswi asal Rusia menarik perhatian mahasiswa dalam negeri, karena memang mereka termasuk dari benua Eropa, sehingga wajahnya menjadi idola. Sampai-sampai ada yang menikah.

UB (Universitas Brawijaya) salah satu kampus yang paling banyak mahasiswa mahasiswa asingnya yang belajar Ilmu kesehatan (Fakultas Kedokteran). Puluhan, bahkan ratusan mahasiswa dari Malasyia, India, dan Pakistan, belajar di Fakultas Kedokteran, dan sebagian lagi di jurusan lain.

Tidak hanya kampus, banyak sekali pesantren-pesantren yang santrinya berasal dari mancanegara. Di Desan Ngantang misalnya, pesantreannya KH Ihya’ Ulumuddin, semua santrisantri berasal dari negeri Jiran. Belum lagi pesantren modern yang menyebar di kota Malang, menjadikan kota Malang semakin menarik mahasiswa manca Negara.

Tidaklah berlebihan jika suatu ketika, Malang, dan Indonesia pada umumnya menjadi kiblat peradapan umat islam nusa tenggara, bahkan dunia. Wakil Menteri Agama (Wamenag) Nasaruddin Umar mengatakan:’’ potensi umat Islam di Asia Tenggara khususnya Indonesia sangat luar biasa. .Bahkan Indonesia sebagai negara  berpenduduk muslim terbanyak bisa menjadi  ‘kiblat’ peradaban Islam.

“Kiblat ibadah adalah Mekah. Asia Tenggara khususnya Indonesia akan menjadi kiblat peradaban,” kata Wamenag Nasaruddin Umar selaku keynote speech pada seminar “Ahlusunnah wal jamaah di Asia Tenggara” di  Jakarta, baru-baru ini.

Wamenag beralasan, Asia Tenggara saat ini merupakan kawasan yang terbebas dari konflik dunia Islam, tidak seperti Timur Tengah.  Hal itu karena konflik antara Israel dengan Palestina yang menyeret negara-negara di kawasan Timur Tengah.

Selain itu, saat ini laju pertumbuhan ekonomi di Asia Tenggara terutama Indonesia meningkat signifikan bahkan cukup mengejutkan. “Bagaimana mungkin jadi pusat peradaban jika tidak didukung ekonomi,” imbuh Nasaruddin. Maka dengan geo politik dan geo ekonomi yang stabil kawasan Asteng, menurut dia bisa menjadi super power baru. Namun Wamenag mengingatkan kekuatan umat muslim di tanah air ini  tidak akan pernah terwujud jika potensi  yang dimiliki umat tidak diimplementasikan secara baik.

Mengenai paham ahlusunnah wal jamaah, biasa disingkat aswaja di Asia Tenggara, Wamenag mengatakan, paham aswaja lebih mengedepankan konsep Islami ketimbang Islam itu sendiri. “Lebih mementingkan subtantif ketimbang aspek formal,” ujarnya.

Karena itu lanjut dia, kita harus bertoleransi dengan keragaman lokal, melestarikan segi-segi positif serta mengambil yang lebih baik. “Kita tidak boleh terlalu longgar tapi juga tidak boleh super ketat atau radikal,” jelasnya.

Sebelumnya Sekjen Kementerian Agama Bahrul Hayat saat membuka seminar mewakili Menteri Agama mengatakan, aswaja merupakan fenomena sejarah yang mengandung semangat inklusivisme yang bersedia membuka proses dialog, toleransi, rekonsiliasi dan mengakui semua kelompok yang berbeda paham sebagai umat yang satu- umat Islam.

Watak moderat dan rasional yang dimilikinya menyebabkan aswaja berkembang pesat dan diterima umat Islam di sebagian besar dunia muslim, termasuk di kawasan Asteng, termasuk didalamnya Indonesia. Aswaja menawarkan ‘paham jalan tengah’ sehingga paham ini dianut oleh kalangan awam hingga terpelajar, mulai rakyat jelata hingga penguasa.”Watak moderat merupakan karateristik aswaja yang paling menonjol, disamping adil, seimbang dan toleran.”

Sekjen berharap, seminar yang diikuti peserta dari kawasan MABIMS (Menteri-menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura), mampu memperjelas dan memperkokoh keberadaan dan fungsi aswaja sebagai manhaj, disamping merumuskan strategi untuk mengembangkan aswaja sebagai perekat muslim Indonesia khususnya, dan muslim di ASEAN pada umumnya dalam upaya memperkuat harmoni kehidupan umat beragama di negeri serumpun


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook