Posted by Abdul Adzim Irsad On Agustus - 6 - 2012 1 Comment

Hajar AswadDi anatara tempat-temapt istimewa di sekitar rumah tuhan yang sakral itu, ternyata ada yang menarik untuk diperhatikan dan kaji secara mendalam. Dia-lah sudut Ka’bah, tempat Hajar Aswad melekat. Batu ini tidak pernah henti-hentinya diperebutkan oleh jutaan manusia yang datang dari penjuru dunia. Ketika musim haji tiba, semua orang berlomba-lomba agar dapat mengecup hajar Aswad, walaupun dengan cara menyewa (jasa) agar bisa mengecup, atau menciumnya.

Mencium Hajar Aswad menjadi salah satu kebangaan setiap orang yang datang ke-Makkah, baik Haji atau Umrah atau menjadi tenaga musiman (setiap tahun). Bahkan, jama’ah haji atau umrah yang telah sukses mengecupnya, tak henti-hentinya bercerita kepada tetangga dan kerabatnya, atas kesuksesan perjuangan mengecup mutiara hitam (ruby) dari surga (Hajar Aswad) itu. Sungguh mulia batu itu, hanya sekedar mengecup menjadi sebuah kebanggan. Inilah magnit dan kekuatan batu surga yang tidak ternilai harganya.

Yang mengecup batu itu tak terhitung jumlahnya, sejak dunia ini ada hingga suatu ketika akan kembali kepada-Nya. Jin dan manusia, bahkan malaikat-pun turut serta antre mengecup mutiara itu (Hajar Aswad). Nabi dan rosul, kekasih Allah (Aulia’), sahabat, hingga orang yang penuh dosa-pun berebut mengecupnya.

Di dalam sebuah riwayat, diceritakan, suatu saat para malaikat pernah beramai-ramai berdesak-desakan mengecup Hajar Aswad. Lalu datang malaikat Jibril dihadapan Rasulullah Saw. dengan membawa tongkat berwarna merah yang di atasnya penuh dengan debu.  Rasulullah  bertanya, “Debu apa yang aku lihat di tongkatmu ini, ya Ruhkul Amin (Malaikat Jibril)?” Jibril Menjawab, “Sesungguhnya aku telah menziarahi Baitullah, sedang para malaikat berdesak-desakan pada Al-Rukun (Hajar Aswad). Debu yang engkau lihat ini bekas dari sayap-sayap mereka.”[1]

Jika malaikat Jibril yang sangat mulai ikut serta berebut mencium hajar Aswad,  bagaimana dengan manusia? Suah jelas jawabanya, dan tidak perlu ditanyakan lagi. Kendati demikian, tidak serta merta-merta berebut mencium hajar Aswad dengan segala cara, seperti sikut-sikutan, mendorong, hingga menyakiti sesama. Padahal ini bertengtangan dengan ajaran agama. Atau berusaha mencium hajar Aswad dengan menyewa (jasa) yang cukup tinggi, padahal masih banyak orang fakir nan miskin lebih membutuhkan. Inilah yang mesti dihindari, sebab orang berangkat ke Makkah, haji atau Umrah semata-mata mengharap ridho-Nya, agar menjadi haji yang mabrur (diterima).



[1].  Said Bagdas, Fadlu al-Hajar al-Aswd wa Maqomi Ibrahim 52 –Darul al-Basyair al-Islamiyah.

.

One Response so far.

  1. Fletcher Krase mengatakan:

    I just want to mention I’m new to weblog and truly liked your blog site. Very likely I’m planning to bookmark your blog post . You certainly come with terrific article content. Thanks a bunch for sharing with us your website page.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook