Posted by Abdul Adzim Irsad On Mei - 13 - 2013 0 Comment

Ka'bahSebelum Rosulullah SAW dilahirkan, Makkah menjadi tempat suci dan di sucikan. Tetapi, sebagian dari mereka menodahi  kota suci Makkah dengan kesyirikan, yaitu meletakkan beraneka ragam berhala di sekitarnya. Sebagian lagi menodahi kesucian baitullah dengan twoaf dalam keadaan telanjang. Mereka melakukan itu karena memang tidak mengerti, dan mereka masih jahiliyah (masa kebodohon), yaitu sebelum datangnya Islam.

Ketika Rosulullah SAW lahir, sedikit demi sedikit Makkah berubah, hingga ahirnya kota suci Makkah benar-benar sakral (suci). Nabi SAW sendiri yang memulyakannya, sebagaimana Nabi Ibrahim memulyakan kota suci Makkah. Kota Makkah benar-benar memberikn berkah bagi setiap orang yang tinggal di dalamnya, sebagimana penjelasan kitab suci Al-Quran.

Sepeninggal Rosulullah SAW, kota suci Makkah menjadi tempat istimewa. Sebagian besar penghuninya adalah sahabat Rosulullah SAW, serta orang-orang yang suka ilmu agama. Para khuffad dan muhaddis (pengahafal) al-Qur’an dan penghafal hadits Rosulullah SAW bertebaran di al-Haramain (Makkah dan Madinah). Mereka menjai penyambung lisan Rosulullah SAW sekaligus menyampaikan pesan-pesan Al-Quran.

Di antara para penyambung lidah Rosulullah SAW sekaligus ahli tafsir adalah, Abdullah Ibnu Abbas, sepupu Nabi SAW. beliau dikenal sebagai mufassir pertama dari kalangan ahli Makkah (Muhajirin). Beliau dikenal dengan keluasan ilmunya, seperti dalam bidang hadits, seputar hukum, dan dalam menafsirkan al-Qur’an, sehingga beliau dikenal dengan “hibr al-Ummah (wali umat ini).

Ada juga Anas bin Malik, seorang sahabat Nabi penghafal hadits Nabi SAW. Beliau salah satu sahabat Nabi SAW yang paling panjang usianya, paling banyak anaknya, serta paling banyak pula harta bendanya. Konon, putra-putri Anas Ibn Malik mencapai 125. Semua itu berkah dari doa Rosulullah SAW. Ada juga Abdullah bin Umar al-Khattab seorang ahli zuhud dan tasawwuf, yang juga termasuk penghafal al-Qur’an dan hadits Nabi. Masih banyak lagi para sahabat yang ahli tafsir, hadits dan fikih. Mereka semua adalah penduduk kota al-Haramain.

Pada Masa al-Khulafaur al-Rosyidin, Makkah mendapatkan perhatian khusus, sebagimana Rosulullah SAW mensucikan kota suci. Mereka tidak mengotori Makkah dengan berbagai bentuk kemaksiatan.  Agamawan dan ilmuwan senatiasa mensakralkan kota suci Makkah. Makkah telah melahirkan ulama’-ulama’ besar dalam berbagai disiplin ilmu, sejak para sahabat Nabi sampai saat ini.

Seiring dengan berjalannya waktu, kesakralan kota suci Makkah seringkali ternoda oleh pejabat-pejabat waktu itu. Makkah tetap suci dan sacral. Pada masa pemerintahan Dinasti Kholifah Umayyah. Kota Makkah yang aman dan nyaman serta bebas dari hiruk pikuk politik menjadi tujuan setiap orang. Kondisi Masjidilharam yang megah sewaktu itu menjadi daya tarik setiap orang untuk datang dan bermukim di Makkah. Banyaknya bagunan mewah dan megah, membuat kota Makkah sedikit berkurang kesakralanya.

Kondisi tersebut semakin parah ketika kehidupan di kedua kota itu (Makkah dan Madinah) menjadi lebih mewah. Dampaknya menjadi semakin buruk. Setiap tahun jamaah haji yang datang dari seluruh dunia Islam memberikan pemasukan segar tersendiri bagi kawasan itu. Akibatnya, mayoritas penduduknya hanya mengeruk keuntungan dan berlomba-lomba mendapatkan kesejahteraan untuk dirinya.[1]

Selanjutnya, berbagai kemewahan memenuhi kota suci Makkah. Akhirnya, nilai kesakralan telah dikotori dengan beraneka ragam kenikmatan duniawi. Makkah bukan menjadi tujuan ruhani, melainkan menjadi pusat kenikmatan duniawi. Orang datang ke kota sici bukan untuk mencari ridho Allah SAW atau berlomba-lomba mendekatkan diri kepada ilahi. Tetapi, kadang hanya sekedar berlibur, karena di sekeliling baitullah bertaburan keindahan dan kenikmatan duniawi.

Konon, pada masa pemerintahn Marwan, Makkah dan Madinah menjadi pusat kenikmatan dunia. Club-club music mudah ditemukan. Banyak penduduk kota Makkah dan tamu-tamu dari luar Makkah mendatangi tempat-tempat tersebut. Mereka mendengarkan indahnya musik dan bait-bait syair yang didendangkan para biduwanita (penyanyi perempuan). Mereka dari kalangan bangsawan dan pengunjung, menggantungkan jubahnya sebelum bersenang-senang dan bermaian catur, memainkan dadu, atau sekedar membaca.[2]

Begitulah kaum berharta ketika memperlakukan kota suci Makkah. Mereka tidak lagi betah di dalam masjid membaca al-Qur’an, berdzikir, atau berthowaf, mereka lebih betah ditempat-tempat mewah yang menyedikan keindahan dan kenikmatan dunia.

Memang, kecenderungan orang kaya dan berduit ternyata bukan mendekatkan diri kepada-Nya ketika sedang berada di Makkah. Picnic (pelesir) menjadi pilihan. Padahal itu sangat bertentangan dengan ajaran Rosulullah SAW. Pada masa modern, bagi orang tertentu haji dan umrah kadang menjadi life style (gaya hidup). Mereka berlomba-lomaba menunaikan ibadah haji dan umrah, tetapi kadang tujuannya tidak karena Allah SWT. Tidak aneh jika kemudian ditemukan orang sering datang ke Makkah menunaikan umrah, kadang sebulam sampai tiga kali, tetapi tidak ada perubahan signifikan dalam hidupnya.

Kondisi seperti itu pernah memprediksi oleh Rosulullah SAW bahwa suatu ketika di antara umat beliau terdapat orang yang datang berhaji ke Makkah dengan niat “pelesir” bagi para pejabat dan niat “bisnis” bagi para pengusaha. Prediksi Nabi telah menjadi kenyataan pada zaman pemerintahan Marwan, serta para penguasa-penguasa Bani Umayyah lainnya. Dan jaman sekarang semakin nyata ketika umrah dan haji tidak lagi menjadi ibadah melainkan menjadi gaya hidup, rekreasi, picnic, belanja, serta bisnis belaka. Betul apa yang disampaikan Rosulullah SAW dalam hadisnya yang artinya:’’sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niat’’.

 



[1] . Hitti.K.Philip, History Of The Arabs.2008. (PT.Serambi Ilmu Semesta-Jakarta). Hlm 296

[2] . Ibid, 297


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook