Posted by Abdul Adzim Irsad On Juli - 20 - 2014 0 Comment

Lailatul QodarSetiap tahun Jibril as turun ke bumi untuk memimpin para malaikat guna menyapa dan mendokan orang-orang  mukmin yang berlomba-lomba memburu berkah malam lailatul qodar. Jumlah para malaikat yang ikut rombongan bersama Jibril as begitu banyak, bahkan jumlah itu bisa memadati alam semesta hingga waktu fajar. Rosulullah SAW bersabda:” Malaikat yang turun pada saat itu ke bumi lebih banyak dari jumlah batu kerikil (HR Ahmda, Ibn Huzaiman).

Tidak berlebih-lebihan jika Nabi SAW mewanti-wanti agar supaya meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadahnya pada sepuluh terahir bulan suci Ramadhan. Beliau SAW benar-benar menyiapkan dirinya secara totalitas untuk menyambut sepuluh terahir bulan suci Ramadhan.

Tidak lupa, beliau menghidupkan malam-malam istimewa itu dengan, membumikan Al-Quran, bedoa serta bermunajat kepada Allah SWT. Tentu saja, Nabi SAW juga membangunkan dan mengajak tahajud istiri-istrinya untuk menyambut malam penuh berkah (lailatul qodar).  Tidak lupa, Nabi SAW mengajarkan doa singkat kepada Aisyah ra:” Allahuma Innaka Afuwun Tuhibbu Al-Afwa Fa’fu Anna’.

Sebuah hadis shahih seputar anjuran menghidupkan malam lailatul qodar dengan sholat malam. Rosulullah SAW bersabda:”barang siapa melaksanakan sholat malam (qiyam ramadhan), atas dasar iman dan semata-mata karena Allah SWT, maka Allah SWT akan mengampuni dosa-dosa yang pernah dilakukan (HR Muslim).

Ibadah qiyam ramadhan cukup banyak, seperti; sholat tahajud, tarawih, witir. Jika dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, atas niatan karena Allah SWT, maka dosa-dosa yang pernah dilakukan akan mendapatkan ampunan. Dosa-dosa yang tidak mendapatkan ampunan antara lain; menyekutukan Allah SWT, durhaka kepada orangtua, mendem (mabukria), tidak saling menyapa (satru).

Tidak saling menyapa (satru) itu termasuk dosa-dosa besar. Jangan sampai sesama muslim karena berbeda pilihan politiknya, berbeda pendapat dalam urusan khilafiyah, sepert; masalah tahlilan, istighosahan, tawasulan, kemudian tidak menyapa, bahkan menuduh sesame muslim mengada-ngada yang tersesat (bidah dhalalah) dan ahirnya menjustifikasi masuk neraka. Jika sampai demikian, walaupun jidatnya hitam (banyak tahajud), tetapi hatinya penuh dengan iri, dengki, hasud, maka Allah SWT tidak akan memaafkan.

Ada yang menarik pada malam-malam sepuluh terahir. Sebagian orang Jawa, memiliki keyakinan bahwa sepuluh hari terahir itu waktu sangat istimewa, oleh karena itulah mereka menyambutnya dengan saling memberi (ater-ater) makanan kepada tetangga dan kerabatnya. Ater-ater ini adalah tradisi Jawa, sekaligus bentuk silaturahmi yang bertujuan membangun ukhwah islamiyah sesame muslim yang menjalankan ibadah pusa.

Bukankah Nabi SAW mengajarkan kepada umatnya untuk saling memberi dan menebarkan salam. Sebuah pesan istimewa yang disampaikan Rosulullah SAW kepada sahabat Abu Hurairah ra:”berikanlah makan (berbagi), tebarkan salam (ciptakan kedamaikan), membangun silaturahmi, dan sholatlah ditenggah malam ketika manusia sedang terlelap, maka engkau akan masuk surga dengan selamat’’.

Empat pesan itu bisa dimaksimalkan di bulan suci Ramadhan, khususnya ketika memasuki 10 terahir bulan Ramadhan. Banyaknya berbagi materi, keluarkan zakat tepat waktu, jangan sampai menunda. Karena Nabi SAW berpesan:’’jagalah harta kalian dengan berzakat’’. Orang yang rajin sedekah, zakatnya tepat waktu, maka Allah SWT akan melimpahkan rejekinya, dan mengandakan rejekinya.

Selanjutnya, wajib bagi umat islam dimana saja berada membangun ukhwah islamiyah dengan cara saling menyapa (tebarkan salam). Bukan hanya menebarkan salam, tetapi lebih pada itu, yaitu mampu menciptakan kedamaian dan ketentraman sesama umat beragama. Silaturahmi bagian dari ajaran kitab suci Al-Quran, yang senantias dilaksanakan oleh Rosulullah SAW.  Secara khusus, islam mensinyalir bahwa silaturahmi itu membawa berkah dan menambah rejeki, serta menambah usia semakin berkah.

Selanjutnya, sholat malam yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Pada bulan puasa, Nabi SAW menganjurkan sholat malam. Dengan sholat malam kualitas hidup lebih bermakna, serta menjadi wajah berseri-seri dan kulit menjadi lebih muda, serta ruhani dan mental semakin kuat. Nabi SAW tidak pernah meninggakan sholat malam, tetapi beliau tetap tidak mewajibkan kepada umatnya. Lailatul Qodar moment paling sempurna untuk melaksanakan sholat malam, sebab satu kebaikan nilainya lebih baik dari seribu bulan.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook