Posted by Abdul Adzim Irsad On September - 21 - 2015 0 Comment

Sayyid MuhammadTelah tersebar berita ke seluruh Nusantara bahwa Wahabisme di Aceh telah dilarang, bahkan ulama dan masyarakat islam bersatu padu menyuarakan untuk mengusir faham Wahabi dari negeri Serambi Makkah. Tidaklah berlebihan, jika dunia ketakutan dengan adanya Wahabi. Dakwah wahabi itu tidak membawa ketenangan, justru menimbulkan kekecauan terhadap kesatuan dan keutuhan umat Islam sendiri. Amalan-amalan, seperti; sholawatan, dzikir berjamaah yang dipandang sunnah oleh ulamaulama Salafussolih, justru disesatkan (bidahkan). Bahkan, pemahaman bidah secara sempit, sehingga orang yang ikut sholawatan itu dianggab tersesat dan “Masuk Neraka”.

 Wajarlah, jika puluhan, bahkan ratusan ribu masyarakat Aceh itu melakukan pawai besar-besaran menyuarakan anti Wahabi. Solidaritas masyarakat dan warga Ahlussunah Waljamaah Nusantara di Aceh menjadi contoh nyata, bahwa Islam yang berkembang di Negeri Nusantara bukanlah islamWahabi” yang selama ini meresahkan masyarakat dunia dan Indonesia. Tidak aneh pula, jika sebagian terorisme itu akibat pemahaman agama yang sempit.

Saat ini, yang mengaku sebagai NU garis, dimana saja berada, baik di Aceh, atau dibelajhan Nusantara merasa resah dengan sikap-sikap Wahabi Salafisme. Sebab, Sayyid Muhammad yang merupakan sang guru dilecehkan oleh seorang laki-laki yang beranama “Firanda”. Masak, seorang Firanda secara ujuk-ujuk menyesatkan dan menghinakan Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki syirik (menyekutukan Allah SWT), sebagimana pemahaman Firanda dalam buku “Al-Mafahim”. Bahkan Firanda mengatakan, Malaikat saja tidak bisa memiliki hak otonomi, apalagi Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, Sayyid Muhamamd itu melakukan ke-Syirikan, seperti halnya Syiah.

NU Garis Lurus yang selama ini mati-matian menuduh Islam Nusantara sesat, wajib hukumnya marah terhadap Firanda, pantas meminta Firanda untuk tabayyun kepada Firanda. Diskusi itu sangat penting dalam islam. Sedangkan menuduh orang islam syirik itu perbuatan Syetan,. Salah satu perkejaan yang paling disukai Syetan dan Iblis itu menyesatkan orang islam dan paling benci terhadap persatukan dan kerukukan umat. Pekerjaan Syetan dan Iblis itu bukan mengajak orang bersadahat, melaikan menjadikan orang itu kufur dan syirik.

Mestinya, NU garis lurus itu focus menantang wahabi dalam berdiskusi, bukan lebih suka dan sibuk ngurusi “ Islam Nusantara” yag notabene masih dalam koridos Ahlussunah Walajamaah. Jangan sampai tenaga habis untuk memusuhi gagasan Islam Nusantara, sementara Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki sang Guru dilecehkan dan disesatkan oleh Wahabi. Firanda, secara terang-terangan menyesatkan seorang Ulama’ besar Makkah, sekaligus guru dari banyak ulama dan Kyai Indonesia.

Barangkali, tokoh-tokoh penting di Idonesia, seperti; Nazih Maemun, Lutfie Bashori Alwi, Ali Karar Madura, di antara santri-santri Sayyed Muhammad Alawi Al-Maliki yang garang dan kokoh di dalam menyuarakan dan menyerukan Ahlussunah Waljamaah. Mereka adalah pejuang sejati menegakkan Ahlussunah Walajaah, bukan karena dapat duit (real), seperti halnya Firanda yang setiap bulan mendapatkan gaji.

NU Garis Lurus itu mestinya merujuk tokoh penting yang begitu alim, santun dan dalam ilmu dan spritualnya, serta luhur budi pekertinya. Beliau adalah yaitu Syekh Al-Alim Maemun Zubair, beliau bukan hanya memulyakan Sayyid Muhamad Alawi, beliau juga sangat ta’dim terhada Sayyid Ahmad Ibn Muhammad Alawi Al-Maliki. Tidak tanggung-tanggung, Mbah Maemun itu kalau salaman dengan Sayyid Ahmad Ibn Muhammad Alawi Al-Maliki “cium tangan”. Syeh Said A-Bunani saja, ketika melihat Sahabat Anas Ibn Malik ra, langsung mencium tangan”. Kemudian beliau berkata “tangan beliau pernah bersentuhan dengan tangan Rosulullah SAW”.

Lebih tawadu’ lagi, Mbah Maemun Zubair juga sering rawuh ketika pada Khaul Gus Dur, bahkan saat Abdurahman Wahid wafat, Mbah Maemun Zubair justru mentalkin Gud Dur. Padahal, semasa hidupnya, Mbah Maemun Zubair kadang kurang sefaham dengan Gus Dur. Tetapi, karena kedalaman ilmu dan ke-agungan budi pekertinya, Mbah Maemun Zubair tidak sampai meng-kafirkan, menyesatkan Gus Dur. Apakah, tokoh-tokoh yang sering berkata-kata terhadap sesama muslimkafir, syirik, sesat, ahli neraka” pantas dikatakan sebagai pewaris para nabi?

KH Bahrul Munir Trengalek Al-Hafidz, pernah bercerita kepadaku bahwa Mbah Maemun Zubair itu pernah mengatakan kepada dirinya “ Saya ngak berani dengan Gus Dur. Gus Dur itu titisanya Mbah Muhammad Hasyim Asyary”. Sedang Sayyid Muhamad itu dikatakan sebagai “Punjere Sayyid”. Artinya, seringkali orang mengatakan “sesat” dan “kufur” itu ternyata karena luapan benci, padahal orang tersebut istimewa di mata  “Mbah Maemun Zubair”.

NU garis Lurus itu begitu anti dengan Gus Dur, begitu anti dengan Islam Nusantara, begitu anti dengan NU yang sekarang di pimpin oleh Said Aqil Siradj. Bahkan, NU Garis Lurus itu menuduh NU Nusantara itu hasil rekaysasi JIL dan Syiah. Selama itu masih perbedaan pendapat, itu wajar dan sah-sah saja. Yang tidak wajar itu, ketika menyesatkan orang-orang NU yang tidak sefaham dengan dirinya.

Padahal, Mbah Mamun, Habib Lutfi pekalongan sudah menjelaskan bahwa Islam Nusantara itu sama persis dengan Akidah Ahlussunnah Waljamaah, madhab dan akidahnya tidak berbeda. Kalau-pun ada yang tidak setuju dengan gagasan Islam Nusantara, maka diam itu lebih baik.

NU Garis Lurus, paling keras menyuarakan dan menyudutkan Islam Nusantara, dan NU yang dipimpin oleh Said Aqil Sirajd. Padahal, NU tidak ada masalah, kalau terjadi khilafiyah itu sudah biasa, tetapi itu masalah fariyah, bukan masalah “usuliyah”. Menariknya, masalah fariyah (khilafiyah) sementara masalah usuliyah menjadi khilfiyah karena adanya gesekan politik.

Sekarang, dan yang akan datang, wahabisme tidak akan menyerah, mereka akan terus menyerang, dan mencari celah untuk menyerang Ahlussunah Waljamaah dengan berbagai cara, baik dengan pendekatan materi, pendidikan, bahkan pendekatan pernikahan. Bahkan, pascara gerakan Ahlussunah Waljamaah anti Wahabi, mereka memiliki keyakinan bahwa wahabi semakin kuat dan mantab. Memang sah-sah saja, meng-klaim begitu, yang penting Ahlussunnah Waljamaah itu sedang bersiap-siap anti wahabi di seluruh dunia dan Nusantara.

Tidak aneh, dan ini menjadi realitas nyata bahwa sarjana-sarjana lulusan Arab Saudi, seperti Firanda, Syafiq, Badrussalam, menyuduutkan ualama-ulama ualama-ulama Nusantara, bahkan kadang menyudutkan para penyebar islam seperti Walisongo. Ada yang menarik dari mereka, ternyata wahabis salafi di Yaman, juga sering mengkafirkan satu sama lainnya, itu sudah biasa. Itulah yang disampaikan oleh Agus Maftuh penulis buku “Negara Tuhan” ketika bertutur tentang Wahabis Salafi.

Jika disandingkan dengan “Syekh Abdul Hamid Ali Kudus, Syekh Muhamamd Yasin Al-Fadani, Syekh Maihfudz Al-Turmusi, Syekh Nawawi Al-Bantani”, Firanda, Syafiq, Badrussalam tidak ada apa-apanya. Mereka, seringkali kualahan menghadapi Idrus Romli yang notabene lulusan Pondok Pesantren Sido Giri, bukan lulusan Islamic University Madinah. Idrus Romli secara terang-terangan menolak faham Wahabi Salafi. Idrus Romli terbuka, mau dialog, bahkan tokoh-tokoh Salafi kadang bersilaturhami dikediamanya.

Jika ulama-ulama Nusantara belajar beragam disiplin ilmu di Makkah dan Madinah atas dasar biaya sendiri, perjuangan sendiri. Sementara sarjana-sarjana di atas bisa belajar, karena beasiswa. Bisa jadi, tanpa beasiswa, barangkali mereka belum tentu bisa belajar di Arab Saudi. Sama-sama lulusan dua, tanah suci (Al-Haramaian), tetapi kedalaman ilmu, keluhuran budi pekerti dan ahlaknya jauh berbeda.

Jika ulama-ulama Nusantara di atas sangat ramah, santun, berjuang mati-matian menegakkan agama Allah SWT di bumi Nusantara, serta menjunjung tinggi Syariah, sekaligus mengusir penjajahan Belanda. Bahkan, Ulama-ulama Nusantara di Makkah dan Madinah, menyerukan kepada murid-muridnya, seperti; Syekh Hasyim Asyary, Ahmad Dahlan, Wahab Hasbullah, berusaha mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia sekaligus melawan penjajah yang merusak moral dan agama, akidah umat islam.

Sementara, sarjana-sarjana lulusan Arab Saudi, tidak ada yang dikerjakan, kecuali sibuk “menyesatkan (membidahkan) amalan-amalan umat islam yang selama ini dilaksanakan. Padahal, amalan-amalan itu sudah dijelaskan oleh Syekh Abdul Hamid Ali Kudus Al-Idunisia, Syekh Nawawi, juga Syekh Muhammad Yasin Al-Fadani. Mereka Imam dan juga pernah menjadi pengajar resmi Imam Masjidilharam. Kualitas ilmu mereka bukan saja di akui ulama Saudi waktu itu, tetapi juga di akui ulama dunia, seperti; ualam Al-Azhar Syarif Mesir.

Barangkali, mengatakan “Firanda” itu sesat tidak pantas, karena Dia orang yang pernah belajar ilmu agama di Islamic University Madinah. Kendati demikan, bukan berarti orang yang belajar ilmu agama itu dikatakan “seorang ulama”. Sebab, kriteria ulama’ menurut Al-Quran adalah orang yang memiliki khosyah (takut) kepada-Nya. Dengan artian menjaga tutur, sikapnya dengan baik. Tidak pantas meng-kafirkan, mensyirikan orang islam yang nyata-nyata ber-ibadah kepada Allah SWT.

Sikap Firanda mengakatakan “Sayyid Muhammad itu Syirik”, sebagaimana dalam ceramahnya, barangkali itu perkataan yang tidak pantas. Seorang ulama itu tidak akan men-syirikan orang yang menyembah Allah SWT. Sedangkan Iblis, berusaha mengajak orang berbuat Syirik.

Saya membaca beberapa syair yang mengingatkan Firanda, seputar sikapnya terhadap Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki, tetapi saya tidak tahu, siapa penulis syair itu, yang jelas, syair itu ada, sebagai berikut:

Hai pimpinan wahabi Firanda # engkau yang mensesatkan Muhammad Al-Maliki

Al-Maliki itu orang alim dan musnid # Yang beroleh ilmu manfaat dan kemuliaan..

 Jagalah lisanmu selalu, Dari melecehkan # seorang alim yang taqwa dan bertauhid.

Karena orang berilmu dan bertaqwa dan bertauhid # Seorang wali, jika bukan wali, lantas apa?

Apakah kau tidak takut dengan ancaman # Bagi orang yang menyakiti seorang wali, sebagaimana  yang di sebutkan di dalam hadits.

Bagaimana jika beliau seorang keturunan Nabi ahmad # Apa kamu tidak akan merasa malu di saat nanti berjumpa dengannya?

Berbeda pendapat itu bias, bahkan sudah terjadi sejak dijaman Nabi Muhammad SAW, yang tidak biasa ialah “menyesatkan, mengkafirkan, mensyirikkan” orang beriman karena berbeda dengan pemahaman dirinya. Apa artinya seruan Nabi Muhammad SAW, agar umatnya bersaudara “jadilah kalian hamba bersaudara” sementara lisan-lisan yang hafal kitab suci, dan hadis Nabi SAW, dikotori dengan kata-kata “syirik, bidah sesat’ kafir” bukankan yang pantas mengatakan itu adalah “Syetan dan Iblis” yang memang bertugas menyesatkan manusia dari jalan yang benar dan lurus. Dahkwah Nabi Muhammad SAW itu mengajak orang tidak ber-iman menjadi ber-tauhid, bukan merusak orang ber-tauhid menjadi keluar dari agama Islam.

 

 

 

 


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook