Posted by Abdul Adzim Irsad On Agustus - 27 - 2013 0 Comment

Tidak satupun dari kekasih Allah SAW, mulai utusan (nabi), sahabat, wali, ulama, kecuali diberikan kelebihan. Kelebihan yang diberikan Allah SWT kepada para Nabi dan utusanya disebut dengan mu’jizat. Kelebihan dan kehebatan yang diberikan Allah SWT kepada para sahabat dan kekasih Allah SWT (waliyullah) disebut dengan karamah. Sedangkan kelebihan yang dimiliki orang-orang sholih disebut dengan maunah. Sementara, kelebihan yang diberikan Allah SWT kepada orang-orang yang rajin bermaksiat, atau orang yang tidak ber-iman kepada Allah SWT disebut dengan Istidroj.

Dalam tulisan ini, akan diperbincangkan tentang kelebihan-kelebihan (mu’jizat) yang dimiliki Rosulullah SAW, sebagai seorang nabi sekaligus utusa-Nya. Mu’jizat Rosulullah SAW dibagi menjadi dua. Yang pertama yaitu mu’jizat yang bersifat temporer (sementara). Artinya mu’jizat yang terjadi pada saat-saat tertentu sebagai bukti bahwa Muhammad itu utusan Allah SWT. Mu’jizat ke-dua, bersifat selamanya, yaitu kitab suci Al-Quran yang sudah menjadi mushaf.

Sejak dilahirkan, Muhammad SAW sudah memiliki tanda-tanda khusus sebagai seorang kekasih Allah SWT. Tanda-tanda kenabian sebelum beliau di angkat menjadi utusan Allah SWT disebut dengan istilah ‘’irhas’’. Cukup banyak Irhas yang dimiliki Rosulullah SAW, sejak kelahirannya, remaja, hingga dewasa.

Dalam sebuah riwayat, dimana saat Muhamamd SAW pergi ke Syam bersama panyanya.  Tepat, di dataran tinggi di Syam, tinggal seorang pendeta bernama Buhaira. Pendeta yang satu ini sangat unik, karena Ia selalu memperhatikan setiap orang yang lalu-lalang pergi ke daerahnya. Buhaira seorang pendeta yang mendalami kitab suci (Ahli Kitab). Di sisi lain, sebagai pemeluk agama samawai, Buhaira sosok yang amat tekun beribadah menyembah Tuhan, juga membaca kitab-kitab lama.

Salah satu keahlianya iala, Buhaira rajin membaca Injil Barnaba. Salah satu satu kitab suci yang isinya menceritakan seputar utusan Allah SWT. Sebagai seorang pendeta, Buhaira mengerti betul kandungan kitab suci Injil Barnaba. Di dalam keterangan Injil Barnaba, tertulis; Isa al-Masih pernah berkata bahwa akan datang seorang Rasul sesudahnya yang bernama Ahmad, dan bila Rasul Ahmad ini berjalan akan dilindungi awan.

Suatu hari Pendeta Buhaira melihat serombongan kafilah Arab menuju Syam. Melihat rombongan ini, Pendeta Buhaira terheran-heran, karena selalu diikuti oleh awan di atasnya. Tanpa berpikir panjang, Buhaira mendatangi Kafilah yang dipimpin langsung oleh tokoh Makkah yang bernama Abu Thalib. Selanjutnya, Sang Pendeta Buhaira mempersilahkan rombongan itu untuk mampir di kediamannya.

Buhaira mengawasi rombongan setiap Kafilah satu persatu. Di situ terdapat seorang anak bernama Muhammad. Dia memperhatikan karakteristik dan gerak-gerik anak tersebut, barangkali anak ini yang disinyalir dalam Injil Barnaba.

Setelah memperhatikan dengan seksama, Pendeta Buhaira mengambil kesesimpulan bahwa ciri-ciri yang tercantum dalam Barnaba persis dengan apa yang dilihatnya pada diri Muhammad. Akhirnya, ia yakin bahwa anak itulah yang disinyalir dalam Injil Barnaba. Sebagai seorang pendeta yang mengerti dan faham dengan pesan Allah SWT di dalam kitab suci Injil, maka Buhaira yakin bawa Muhammad inilah yang diutus Allah menjadi Nabi dan Rasul sesudah Isa al-Masih AS.

Selanjutnya Pendeta Buhaira mendekati Abu Tholib dan memberinya nasihat agar Muhammad ini dijaga dengan sebaik-baiknya, jangan sampai lengah sedikitpun, sebab Muhammad ini kelak akan menjadi Nabi akhir zaman yang membawa risalah kenabian seperti Nabi Isa AS.

Nasihat dan keyakinan Pendeta Buhaira ini, menjadikan Abu Tholib semakin sayang terhadap anak saudaranya yang bernama Muhammad ini. Bahkan, rasa hormat dan sungkan juga tumbuh dalam hatinya.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook