Posted by Abdul Adzim Irsad On Juni - 16 - 2012 2 Comments

Etika Do'aSuatu ketika ada seorang lelaki dengan berbusana compang camping penuh debu, rambut kusut nan kumal, kondisi mengenaskan. Lelaki itu layaknya pengembara, dengan gaya orang kurang waras, tiba-tiba lelaki itu menegadahkan wajahnya ke langit dengan mengangkat kedua tanganya  seraya mengatakan:’’ Ya Rab Ya Rab (wahai Tuhanku..wahai tuhanku…) makanannya haram, minumanya juga haram, busananya juga haram, dan memenuhi gizi dengan barang haram, mana mungkin dikabulkan sebuah do’a (HR Muslim).

Nabi Saw menyindir kita semua, bahwa apa yang dikonsumsi manusia, baik itu makanan dan minuman, serta busana yang dikenakan mempengaruhi kualitas do’a seseorang. Proses saat mendapatkan makanan dan minuman juga harus bersih dari cara-cara kotor, seperti; menipu, berbohong, mengelabuhi, curang, korupsi, menyogok, ngentit, ngutil, nyopet, mencuri, merampok, riba, dan masih banyak lagi praktek haram lainnya. Nabi Saw tidak menyukai orang memperkaya diri dengan cara menipu (al-ghis). Nabi paling benci lagi memperkaya diri dengan ribawi (rentenir). Sampai-sampai beliau Saw mengatakan:’’dosa paling ringan bagi pelaku riba, ibarat seorang anak menikahi ibu kandungnya sendiri’’.

Rakyat Indonesia sudah banyak yang kecebur dalam lubang praktek-praktek mencari rejeki yang tidak halal. Korupsi gila-gilaan, mulai dari tingkat elit sampai orang alit juga tersandung namanya praktek haram. Pemilihan presiden, Pilkada, Pilwali, Pilek, Pilgub, sampai pemilihan ketua umum organisasi keagamaan banyak yang mengunakan praktek yang tidak dibenarkan.  Sebelum menjadi gubernur, dengan dalih sumbangan, sedekah kepada rakyat miskin sudah menjadi trasisi. Sudah pasti, karena para calon bupati, gubernur ingin dipilih. Sebelumnya tidak tidak sesering, bahkan kadang tidak pernah sama sekali. Tetapi, karena memiliki tujuan politik, maka sedekah politik dilakukan, dengan alasan mengentaskan kemiskiknan.

Rakyat yang tidak mengerti apa-apa mendapatkan pembagian sembako, uang, sarung, buku, dan souvenir-sovenir. Di balik sedekah itu, ada tujuan politik. Sudah tentu, cara seperti tidak diperbolehkan dalam agama, bagaimana mungkin, masyarakat di jejali dengan cara-cara seperti ini. Uang yang dibagikan dengan cara tidak benar, menjadikan do’a yang dipanjatkan tidak dikabulkan. Bukannya Allah Swt tidak sayang, tetapi karena Allah Swt itu baik, pasti akan menerima yang baik.

Jadi, jika kita sering mengeluh kenapa do’a tidak segera dikabulkan? Marilah kita intropeksi diri, banyak hal yang belum bisa kita lakukan sebagai hamba Allah Swt yang sejati:

1-      Memenuhui kewajiban Allah Swt, seperti melaksanakan kewajiban-kewajian dan meinggalkan larangan-laranganya. Nabi Saw pernah mengatakan:’’ jagalah Allah Swt, niscaya Allah Swt akan menjagamu’’.

2-      Biasakan membuat orang lain senang, jangan sampai lisan, tindakan, menyakiti orang lain, karena hal itu sama dengan menyakiti diri sendiri. Bukankah Nabi Saw pernah mengatakan:’’barang siapa memudahkan kesulitan orang lain, maka Allah Swt akan memudahkan urusannya’’.

3-      Biasakan menyenangkan hati kedua orangtua, bahagiakan mereka, kebagiaan, kesuksesan seseorang itu bukan karena kecerdasan, tetapi ridho kedua orangtua. Bukankah Nabi Saw mengatakan:’’ Ridho Allah Swt, terletak pada ridho kedua orangtua, dan murka Allah Swt terletak pada murka kedua orangtua’’.

4-      Bisakan membuka pagi dengan sedekah, walaupun itu kecil, seperti senyuman, membuat orang tersenyum. Membuka pagi hari dengan menyapa Allah Swt dengan sholat dhuha. Nabi Saw mengingatkan:’’enam rakaat dhuha, maka Allah Swt akan mencukupi kebutuhan sepanjang hari, dan 8 rakaat dhuha, Allah Swt akan membangun istana di surga’’. Jika tidak mampu, Nabi Saw menyarakan cukup dua rakaat, sebagai pembuka pintu rejeki.

5-      Memperbanyak silaturahmi, baik menyapa lewat salam (ketika bepapasan), atau mengunjungi, atau dengan cara salaing member. Karena dengan saling mengunjungi, Allah Swt membukakan pintu-pintu rejeki. Jangan sekali-kali mengatakan kepada saudara, kerabat dan tetangga:’’ ngak dulur-duluran’’ (memutus tali silaturahmi). Di samping dosa, Allah Swt menutup rejekinya sendiri. Tidaklah berlebihan jika Nabi Saw mengatakan:’’silaturahmi menambah usia’’ bahkan bisa menambah rejeki semakin berkah.

Jangan berharap do’a kita akan dijawab lebih cepat jika yang konsusmsi adalah barang-barang panas, kecuali setelah taubat dan berjanji memperbaiki diri. Jangan berharap jika do’a kita dikabulkan, jika ibadahnya masih bolong-bolong. Jangan harap bisa mendapatkan kemudahan dari orang lain, jika sering mempersulit dan menyakiti sesama. Dan, jangan berharap bahagia dunia ahirat, jika masih sering menyakiti kedua orangtua, karena Nabi Saw menjamin surge itu berada di bawah telapak kaki ibu. Itu artinya, kebahagiaan di dunia dan ahirat tergantung sejauh mana seorang anak membahagiakan kedua orangtuanya. Wallau a’lam

2 Responses so far.

  1. Randy mengatakan:

    cas qur’an says cas qur’an says dont kill innocent man,cas hatdeeh says that killing one innocent man is like killing entire earth cas u dont kill just that man but u also kill all his/hers bloods (children that they would have and grandchildren and on and on ) so its same like u kill entire world,cas we all trace back to 1 man and 1 woman now u gonna trust me or them ?

  2. Burton Hazzard mengatakan:

    I simply want to tell you that I am new to blogging and definitely savored your page. Almost certainly I’m want to bookmark your website . You really have great well written articles. Cheers for sharing your web-site.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook