Posted by Abdul Adzim Irsad On Agustus - 7 - 2013 0 Comment

air mataSuatu ketika saya melihat seorang wanita sedang mengendong anak anak berusia 2 tahun. Disampingnya dua putranya yang usianya 4 dan enam tahun.  Seringkali wanita ini datang dengan membawa barang dagangan seorang diri. Sementara sang suami sedang menempuh pendidikan tinggi. Sang suami jarang sekali menemani istrinya, kecuali waktu-waktu tertentu. Sang istri-pun rela bekerja keras menyulam, menjahit dan menerima pesanan agar supaya roda perekonomian berjalan dengan baik. Sekaligus membantu suaminya yang sedang menempuh S2 fakultas kedokteran.

Bagi keluarga itu, apa yang dilakukan merupakan sebuah perjalanan dan perjuangan panjang yang harus ditempuh dengan penuh dengan kesabaran. Memang, inilah realitas kehidupan rumah tangga yang mesti dijalani, walaupun sang istri kadang mengeluh. Bagimana  tidak. Setiap suami datang, kadang minta jatahnya, ma’lum lama tidak bercinta. Dan….ternyata, hamil lagi…sang istri hanya bisa mengucapkan al-hamdulillah, walupun dalam hatinya terasa sedih…. Dalam kesedihan itu, sang wanita itu senantiasa berdo’a kepada-Nya agar supaya mimpi sang suami dapat menjadi kenyataan. Menjadi dokter spesialis, yang kemudian menghasilkan uang pada setiap praktek dan seminarnya.

Bulan-pun silih berganti, dan ahirnya. Sang suami berhasil menyelesaikan pendidikan masternya dengan predikat Dokter Spesialis. Wah….hebat, ternyata mimpin tidak lagi menjadi angan-angan. Keberhasilan itu berkat dari kegigihan dan kesabaran suami istri yang sepakat menjalin cinta sejak akad nikah diucapkan. Gelar spesialis itu membuat tenar dan tersohor. Sehingga, setiap praktek bisa menghasilkan uang yang cukup banyak. Keberhasilan mengantarkan dirinya menjadi orang yang dibanggakan keluarga, sebab istri tidak lagi menjahit dan menyulam setiap hari.

Rumahnya juga terlihat mentereng, mewah, perabotanya juga lumayan dibangdingkan dengan sebelumnya. Hp, mobil, notebook juga bermerek. Inilah keberhasilan yang menjadi dambaan setiap orang. Orangtuanya cukup bangga dengan dirinya. Di setiap kesempatan, ketika bertemu dengan tetangga, sanak saudaranya, tak henti-hentintya menceritakan tengtang dirinya. Sungguh, Dokter itu menjadi kebahagiaan Ibunya, serta mertuanya. Berbeda sekali ketika sang Ibu menceritakan anak yang lain yang bukan dokter.

Kebahagiaan itu ternyata tidak membuat dirinya betah dirumah. Ketika menjadi orang terkenal, ternyata semakin banyak orang yang datang meminta menjadi pemateri. Banyak pasien yang datang, tentunya dengan membawa uang yang cukup, sebab dokter spesialis itu mahal, sehingga mereka yang datang tahu diri.

Kenyaatann inilah menjadikan istri merasa dalam kesunyiaan. Seorang dokter umum pernah ditanya, kenapa anda tidak melanjutkan kespesialis. Dia menjawab dengan enteng:’’ Saya kasihan dengan anak dan istriku’’. Memang kenapa? dia menjawab lagi;’’ dulu, ketika Aayahku menjadi dokter spesialis bius, saya tidak pernah mendaptkan kasih sayang dari ayahku. Sebab, setiap hari dia berangkat pagi, kadang petang baru kembali. Dan, saya sudah tertidur dipelukan ibu. Alasan inilah yang membuat saya tidak mau melanjutkan kejengjang spesialis.

Secara tidak langsung, ternyata peranan istri itu sangat mulia. Ia rela ditinggal berhari-hari, oleh suaminya demi menjalani pendidikan. Setelah rampung, sang istri hanya duduk manis dirumah bersama-sama anaknya. Meja makan kadang sepi, karena suami sering makan bersama rekan-rekannya diluar rumah. Ketika putra-putrinya berangkat sekolah, rumah menjadi lenggang. Yang ada hanya pembantu dan seorang istri yang sedang menunggu kedatangan putra-putrinya.

Peranan istri sangat luar biasa di dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Ia rela membantu mengantarkan suami menjadi dokter spesialis. Dibalik keberhasilan itu, wanita itu sering menangis dimalam hari. Sebagai seoarng wanita, sekaligus sebagai suami ingin rasanya mendapatkan belaian dan kasih sayang dari suaminya setiap saat. Akan tetap, ini sudah menjadi sebuah pilihan dan kenyataan yang tidak mungkin dipungkiri. Yang bisa dilakukan ialah, pasrah, dan sabar, serta tawakkal kepada-Nya. Dalam hatinya, sering berdo’a semoga sang suami tidak kecantol wanita-wanita cantik yang mengelilinginya setiap hari.

Begitulah sosok wanita yang saya amati. Yang tersirat dalam cerita ini adalah betapa besar pengorbanan sang istri di dalam membantu kesuksesan sang suami. Kepada para lelaki yang sudah mapan financial. Jangan sekali-kali melukai hati istrinya dengan tindakan yang tidak baik, seperti selingkuh, poligami. Dan, jangan sekali-kali menyakiti istrinya dengan kata-kata kasar. Sebab, Nabi Saw senantiasa memilih kata-kata yang lembut di dalam memanggil istrinya. Nabi Saw juga berpesan, nasehatilah istrimu dengan kebaikan, sebab watak wanita itu keras. Apalagi ketika sedang penat, dan lelah seusai mengendong putri-putrinya, memasak, atau mencuci pakaian, atau bersihbersih rumah. Pergaulilah istrimu dengan ma’ruf (baik). Jang sekali-kali menyakiti istrimu…(Wallua’lam)

 

 


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook