Posted by Abdul Adzim Irsad On November - 3 - 2012 0 Comment

Seperti lazimnya bangunan, Ka’bah (Baitullah) yang berdiri tegak dan kokoh sekarang ini juga sudah berkali-kali dipugar. Kendati berkali-kali direnovasi, batu-batu pondasi yang melekat tetap asli. Renovasi Baitullah dari masa sebelum Islam sampai masa Rosulullah Saw– telah dilakukan sebanyak lima kali, sebagaimana diungkapkan oleh  ulama’ modern Syeh Prof. Dr. Wahbah Zuhaili.

Ka'bah

Pembangunan pertama dilakukan oleh Malaikat. Selanjutnya Nabi Adam as, Syits, Ibrahim al-Khalil, Al-Amaliqah, Jurhum, Qushay bin Kilab, kaum Quraisy, Abdullah bin Zubair (tahun 65 H), Al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi (tahun 74 H), Sultan Murad (Khilafah Utsmaniyah tahun 1040 H). Dan yang terakhir adalah Raja Fahad bin Abdul Aziz (tahun 1417 H). Berdasarkan Alqur’an, Ibrahimlah orang yang pertama kali merenovasi Kakbah (QS Al-Baqarah (2:127). Sedangkan renovasi kaum Quraisy telah dijelaskan dalam hadits Nabi SAW (Bukhori, Muslim, Tirmidzi).

Yang paling menarik pembangunan Kakbah pada masa pemerintahan Abdul Malik Ibn Marwan, karena kental dengan nuansa politik. Ini sangat mirip dengan kisah rencana pembongkaran Makam Nabi Muhammad SAW yang dilakukan oleh Wahabi. Di mana-orang sunni yang sering berziarah ke Makam Nabi SAW dianggab syirik, dan penuh dengan khurafat. Dan, penyebab utamanya ialah adanya Makam Nabi Muhammad SAW. Komite Hijaz yang dipimpin oleh KH Wahab Hasbullah bersama Syekh Ghonaim al-Misri yang diutus mewakili NU untuk menemui Raja Abdul Aziz Ibnu Saud, ahirnya berhasil menyakinkan, sehingga Makam Nabi SWT tidak jadi dibongkar.

 

Terkait dengan renovasi Ka’bah yang dilakukan oleh Abdullah Ibn Zubair. Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa dinding Kakbah juga terkena api akibat terbakarnya kemah-kemah yang didirikan di samping Ka’bah. Kebakaran kemah meyebabkan kiswah Ka’bah terbakar dan dindingnya juga terkena api sehingga merusak keindahan Ka’bah. (Almaliki:17).

Sebagai pemimpin waktu itu, Ibnu Zubair mengatakan:“Seandainya salah satu diantara kalian rumahnya terbakar tentu tidak kalian tidak akan ridho sampai bisa memperbaruinya. Terus bagaimana dengan rumah Tuhan kalian (Baitullah). Saya ber-istikharah sebanyak tiga kali, kemudian muncul niat untuk melaksananannya (Al-Fasi:1/159)

Pada akhir bulan Dzulhijjah tahun 64 H renovasi dimulai.  Adapun bentuk Ka’bah setelah direnovasi Ibnu Zubair tidak berubah, hanya saja sedikit lebih menarik dari sebelumnya. Setelah renovasi yang dilakukan Ibnu Zubair, pintu Baitullah yang tadinya hanya satu, beliau menjadikannya dua pintu. Pintu pertama bagi yang memasuki Ka’bah, dan pintu kedua bagi yang keluar dari Ka’bah.

Bangunan Baitullah yang berdiri kokoh atas inisiatif  Abdullah Ibnu Zubair tidak berlangsung lama. Hajjaj ats-Tsaqafi, rifal politik Ibnu Zubair membunuh Ibnu Zubair dengan alasan  makra dan pembangkangan. Bahkan, ada yang mengatakan kepala Abdullah Ibn Zubair di gantung di Kakbah. Selanjutnya, Hajjaj menulis surat kepada Abdul Malik bin Marwan tentang perilaku Ibnu Zubair terhadap Baitullah. Hajjaj pun berhasil meyakinkan Abdul Malik untuk membongkar kembali Ka’bah yang dibangun Ibnu Zubair  dengan alasan politis.

Abdul Malik bin Marwan menjawab laporan tersebut dengan mengatakan:’’Hancurkan bangunan tambahan yang dibangun oleh Ibnu Zubair di atas Hijir Ismail dan kembalikan bentuknya seperti sediakala. Lalu tutuplah pintu sebelah barat yang dibukanya dan biarkan yang lainnya.”

Hajjaj-pun menghancurkan dinding yang ada di atas Hijir Ismail dan mengembalikannya seperti sedia kala lalu memasukkannya ke dalam bagian Hijir Ismail. Hajjaj juga mengangkat tangga kayu yang telah diletakkan Ibnu Zubair di dalam Ka’bah, lalu mengurangi tinggi pintunya sepanjang lima hasta. Pemerintahan pada waktu itu ingin menorehkan sejarah baru, dengan membangaun Ka’bah  yang di pimpin oleh Marwan bin Abdul Malik. Sedangkan pintu sebelah barat dihilangkan dan mengangkat pintu asli seperti sedia kala.

Pembongkaran kembali Ka’bah oleh Hajjaj ini telah mengubah keaslian Ka’bah sebagai peninggalan sejarah. Apa yang dilakukan Hajjaj merupakan manuver politik pada masa itu. Selain telah berhasil membunuh dengan keji, Hajjaj juga membongkar dan merubah hasil jerih payah Ibnu al-Zubair.

Setelah bangunan Ka’bah berdiri tegak pada masa Hajjaj, Abdul Malik bin Marwan menyesali apa yang telah ia perintahkan terhadap Hajjaj. Penyebabnya adalah Yusuf bin Hajjaj al-Tsaqofi –demi ambisinya- telah membunuh putra terbaik Makkah, sekaligus keponakan Rosulullah SAW, yaitu Ibn al-Zubair. Seperti itulah politik. Baitullah digunakan sebagai alasan demi sebuah ambisi kekuasaan meskipun harus membunuh seorang sahabat Nabi Muhamamd SAW.

Setelah banyak perubahan terjadi karena Baitullah sering dibongkar, maka beberapa ulama tidak mengizinkan Baitullah dibongkar lagi. Alasannya karena akan mengurangi nilai dan kewibawaa Baitullah. Selanjutnya, para penguasa dan kholifah merawat dan menjaga sebaik-baiknya. Mereka hanya menambah perluasan Masjid, memberikan fasilitas, serta memberikan kemudahan-kemudahan bagi jama’ah haji dan umrah.

 



 


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook