Posted by Abdul Adzim Irsad On November - 24 - 2016 0 Comment

habib-riziq-kerenSetiap jumat umat islam selalu menyibukkan diri dengan membaca sholawatan, karena adanya teks perintah langsung dari Rosulullah SAW. Dalam tradisi Aswaja, sebagian umat islam membaca Al-Barjanji atau Al-Diba. Sebagian lagi membaca surat Yasin dan Tahlilan dan pengajian rutin. Tidak cukup dengan bacaan itu, ternyata masing-masing membaca surat Al-Kahfi di kediaman masing-masing.

Ahir-akhir ini, ada tren baru, yaitu demontrasi usai sholat jumat. Ini merupakan tren terkini. Sebelumnya belum pernah ada. Dalam bahasa salafi, demo itu dikatakan “bidah” karena tidak pernah dilaksanan oleh Rosulullah SAW, dan juga sahabat, bahkan tidak ditemukan perintah demontrasi. Dengan demikian, sholat jumatan di jalan kemudian dilanjutkan demontrasi itu namanya bidah politik dan agama. Apalagi, usai jumatan di adakan maulidan, bisa dikatakan “double bidah”, karena demo itu bidah dan maulidan itu di anggab bidah.

Lihat saja pendapat “Ustadz Riyadh bin Badr Bajrey” berpendapat bahwa “keturunan Rosulullah SAW sudah terputus” jadi orang yang mengaku keturunan Nabi itu tidak bisa dipertanggung jawabkan. Lagi-lagi, orang yang mengakui keturunan Rosulullah SAW adalah kalangan Nahdiyin yang berakidah Ahlusunnah Waljamaah.

Tidak hanya itu “Ustadz Riyadh bin Badr Bajrey” juga berpendapat bahwa orang yang melakukan demo itu dalam videonya mengatakan “Pemuda Islam Yang Demo, Tumpahkan Darahnya”. Ini sangat sadis. Beda pendapat boleh, tetapi ngak boleh sampai begitulah.

Ulama Nusantara yang di dominasi Nahdiyin dan Muhammadiyah tidak melarang demontrasi, selama tidak membuat gaduh. Tetapi, dalam masalah sholat jumatan di jalanan, tentu saja akan menimbulkan masalah baru karena jalanan itu bukan untuk sholat jumatan. Sekali lagi, berbeda pendapat dalam pandangan islam dibolehkan dan itu sudah menjadi sunnatullah. Yang tidak boleh itu menyesatkan sesama muslim.

Ahir-ahir ini, diberbagai wilayah nusantara usai jumatan sering digunakan demontrasi damai untuk menyuarakan unek-unek masyarakat yang merasa kurang mendapat ke-adilan. Indonesia salah satu Negara yang menjamin rakayatnya untuk “demokrasi”. Jadi, demo itu boleh, tetapi jika jumatan itu diniati untuk demo, maka bisa jadi jumatannya bukan karena memenuhi panggilan Allah SWT. Dengan istilah sederhana orang yang akan sholat di jalanan itu “tanyakan pada hatimu, niat jumatan atau niat berdemo”. Khilafiyah tetap khilafiyah.

Sebuah pesan agaung dari Rosulullah SAW untuk umatnya dimana saja. Suatu ketika, saat Rosulullah SAW hijrah ke Madinah, seorang laki-laki yang bernama Abdullah Ibn Salam, ketika awal memeluk islam, beliau ra berkata “ketika awal mula Rosulullah SAW datang di Madinah, manusia banyak yang berebut mendekat Rosulullah SAW. Telah dikatakan “Rosulullah SAW telah datang”, kemudian akan datang kepada mereka untuk melihat Rosulullah SAW.

Ketika melihat wajah Rosulullah SAW, tidak terlihat raut wajahnya sebagai pembohong. Maka kalimat yang pertama kali terucap dari lisan Rosulullah SAW “Wahai Manusia,…terbarkanlah salam, berbagilah makanan, lestarikan silaturahmi, dan sholatlan malam ketika manusia dalam kondisi terleap, maka kaliana kan masuk surga dengan sentosa (HR.Tirmidzi, Ahmad,).

Ketika memasuki hari jumat, Rosulullah SAW mengelar sholat berjamaah di kediaman Bani Salim Ibn Auf ra.

Rosulullah SAW melaksanakan sholat jumat kala itu, karena memang waktu itu belum bisa membuat masjid permanen. Ketika sudah sudah bisa membuat masjid Quba, maka masjid itulah yang menjadi pusat aktifitas Rosulullah bersama para sahabatnya.

Masjid Quba’ didirikan oleh Rosulullah SAW dan para sahabat setianya pada tahun 1 Hijriyah atau sekitar 622 M. Ketika itu, Rasulullah SAW diperintahkan oleh Allah SWT untuk segera berhijrah ke Madinah. Sejak itulah Rosulullah SAW membangun Madinah bersama sahabatnya, baik dari kalangan Asnsor maupun Muhajirin, bahkan masyarkat Madinah yang belum memeluk islam, seperti; penyembah berhala dan kaum Yahudi. Suku Aus dan Al-Kharaj yang berperang bertahun-tahun, bisa di damaikan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Dengan demikian, tujuan utama mendirikan Masjid yaitu untuk menjadi pusat ibadah (mengabdikan diri kepada Allah SWT). Bahkan, aktifitas lainya juga digerakkan dari masjid, seperti; ekonomi, pendidikan dan dakwah, bahkan masalah bernegara juga dipusatkan di Masjid.

Dalam pesan hadis di atas, Rosulullah SAW menggunakan redaksi “wahai manusia”. Semua tahu, bahwa penduduk Madinah saat itu sangat beragam agama dan sukunya. Masyarakat Madinah waktu itu suka beperang antara suku, dan juga saling mencurigai, bahkan banyak yang tidak menyapa.

Nabi mengajak masyarakat Madinah agar saling menyapa (menebarkan salam), membangun silaturahmi dan saling berbagi. Hanya dengan cara itulah Rosulullah SAW bisa membangun peradaban baru di kota suci Madinah. Sampai-sampai dalam keterangan lain, Nabi SAW mengingatkan kepada semua pengikutnya agar jangan saling membenci, apalagi saling iri dan dengki, juga jangan saling mencurigai, apalagi tidak menyapa satu sama lain. Nabi SAW mengatakan “jadilah kalian semua hamba yang saling bersaudara”.

Selanjutnya Nabi SAW membangun masjid Nabawi sebagai pusat kegiatan sahabat dan masyarakat Madinah kala itu. Nabi SAW bukan saja menjadi pemimpin, lebih dari itu nabi juga menjadi rujukan utama masyarakat Madinah. Nabi SAW memposiskan orang dekatnya dengan sebutan “sahabat”, baik untuk kaum mudah maupun yang tua.

Setiap jumat Rosulullah SAW mengelar sholat jumatan bersama sahabat di Masjid Nabawi, bukan di lapangan maupun dijalan raya, karena memang masjid itu untuk tempat ibadah dan bersujud. Kecuali sholat idul fitri dan adha, sering dilakukan dilapangan, agar supaya anak-anak dan wanita bisa ikut serta mengikutinya, sekaligus syiar.

Jadi, sholat jumat di jalan raya tidak ada tuntunan, tetapi tidak ada juga larangan secara khusus. Persoalanya, jika mengadakan sholat di luar masjid, sementara ada masjid yang tersedia. Apalagi, sholat jumat itu dilakukan dengan tujuan tertentu. Akan sangat bijak, jika sholat jumatan di masjid, selanjutnya dilaksanakan dizikir atau maulidan di jalan atau di alun-alun, sehingga tidak ada kesan jumatan politik. Mengutib hadir Rosulullah SAW “sesungguhnya amal perbuatan tergantung niat”. Semoga Allah SWT menjaga niat setiap orang yang benar-benar cinta Allah SWT.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook