Posted by Abdul Adzim Irsad On Mei - 11 - 2016 0 Comment

REJEKIMasalah rejeki itu biasanya sering menjadi persoalan serius bagi sebuah keluarga. Bagi sebuah keluarga, bisa dikatakan bahagianya jika memiliki banyak rejeki. Seorang istri merasa tentram hidupnya, jika gaji suaminya sangat tinggi dan mencukupi. Walaupun tidak semua istri seperti itu. Sebab, terkadang ada seorang istri justru menerima penghasilan suaminya, berapapun jumlahnya. Biasanya, istri seperti ini tergolong istri yang nriman (qonaah).

Seringkali ditemukan sebuah keluarga yang diberikan kemudian rejekinya. Ternyata, keluarga itu juga sering memberikan kemudahan kepada orang lain. Dalam bahasa Al-Quran disebut dengan “al-Ihsan”. Allah SWT berfirman yang artinya “jika kalian berbuat baik (ihsan), sesungguhnya kalian terlah berbuat baik terhadap diri kalian sendiri, jika berbuat jelek, maka kejelekan itu akan kembali kepadanya”. Dan rahasia orang yang murah rejekinya itu karena dia ramah dan suka sedekah kepada sesama. Sebaliknya, orang yang susah rejekinya, ternyata sering mensusahkan orang lain.

Setiap orang yang beriman harus yakin bahwa rejeki itu telah ditentukan oleh Allah SWT. dan tidak munkin rejeki itu tertukar dengan rejekinya orang lain. Tidak satupun mahluk Allah SWT, kecuali telah diberikan rejekinya (bagian) di dunia. Allah SWT berfirman yang artinya “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Al Lauh Al Mahfuz).” (QS. Huud (11: 6).

Bahkan tidak sedikit orang yang tidak bisa bekerja, tetapi Allah SWT berikan rejekinya melalui kekuasaan Allah SWT yang tiada batasnya. Banyak juga binatang yang tidak bisa mencari rejeki (makan), tetapi Allah SWT yang mencukupinya melalu cara Allah SWT yang tidak pernah terfikirkan oleh manusia. Allah SWT berfirman yang artinya Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri.  Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Ankabut (29:60). Tidak ada yang sulit bagi Allah SWT, karena Allah itu berkuasa atas segala-galanya.

Hanya saja, sebagai orang yang ber-iman, diwajibkan bagianya berusaha (ihtiyar) di dalam mencari rejeki. Juga, makanan dan minuman yang dikonsumsi harus halalan toyyiban, baik proses dan jenisnya. Ihtiyar itu wajib, sementara Allah SWT yang menentukan hasilnya. Sebab, ada juga yang bekerja mulai pagi hari hingga sore hari, dan mereka hanya mendapatkan hasil Rp. 50.000. Ada juga yang bekerja separuh hari, dia mendapatkan hasil Rp 200.000. Ada juga yang bekerjanya jarang-jarang, tetapi hasilnya jutaan. Orang yang qonaah, tidak pernah mempermasalhkan berapa hasilnya, karena semua itu telah ditentukan oleh Allah SWT. dan setiap hasil yang diperoleh wajib disyukurinya.

Maka, usaha dan syukur itu merupakan kewajiban sebagai hamba Allah SWT. Sedangkan hasilnya merupakan ketentuan Allah SWT.  Syekh Hasan Al Bashri, seorang sufi bernah ditanya seputar rahasia zuhudnya. Syekh Hasan Bashri berkata”

علمت بأن رزقي لن يأخذه غيري فاطمئن قلبي له , وعلمت بأن عملي لا يقوم به غيري فاشتغلت به , وعلمت أن الله مطلع علي فاستحيت أن أقابله على معصية , وعلمت أن الموت ينتظرني فأعددت الزاد للقاء الله

Aku telah mengetahui bahwa rezekiku tidak akan pernah ada yang mengambilnya selainku, maka tenanglah hatiku untuknya, dan aku telah mengetahui bahwa ilmuku tidak akan ada yang melaksanakannya selainku, maka aku menyibukkan diri dengannya, aku telah mengetahui bahwa Allah mengawasiku, maka aku malu berhadapan dengannya dalam keadaan maksiat, aku telah mengetahui bahwa kematian menghadangku, maka aku telah siapkan untuk bekal bertemu dengan Allah.”

Orang-orang yang beriman kepada Allah SWT, itu tidak pernah resah dan gelisah terhadap rejekinya, karena mereka yakin jumlah rejekinya telah ditentukan Allah SWT. Mereka justru resah dan gelisah jika kualitas dan kuantitasnya ibadahnya berkurang. Mereka sering meng-evaluasi diri, barangkali ada makanan dan minuman yang kurang halal (subhat) masuk dalam perutnya. Sekecil apapun, jika barang haram masuk dalam perutanya dipastikan akan menganggu kualitas dan kekhusukan ibadah seseorang kepada Allah SWT.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook