Posted by Abdul Adzim Irsad On Juni - 15 - 2014 0 Comment

KUBAHBanyak hadis Nabi SAW, dan juga ayat Al-Quran yang mengisaratkan perjalanan malam Rosulullah SAW dari Masjidilharam (Makkah) menuju tanah suci Al-Aqsa. Perjalanan perjalanan dari Makkah menuju Masjidil Aqsa begitu jauh, tetapi Nabi SAW melakukan perjalanan itu hanya dalam waktu yang begitu cepat dan singkat (semalam).

Terang saja, penjelasan Rosulullah SAW seputar perjalanannya mendapatkan kecaman, ejekan, bahwa Nabi SAW di anggabnya sebagai tukang ngibul, bahkan tidak waras. Tetapi, Abu Bakar ra justru melihatnya bahwa kisah itu benar-benar bisa dipercaya, karena sepanjang hidupnya Muhammad SAW tidak pernah sekali-pun melakukan kebohongan.

Sebagai bangsa Arab, Rosulullah SAW memiliki cita-cita sangat tinggi dan mulia, yaitu menyatukan suku-suku Arab yang masih bertauhid men-esakan Allah SWT. Sebagaimana mankana yang terkandung dalam filsafat bahasa Arab, untuk memperolah derajat yang tinggi (rafa’) harus bersatu (dhommah). Untuk itulah fail (pelaku) selalu dibaca rafa’ (tinggi), karena mereka selalu bersatu mewujudkan cita-cita yang mulia.

Rosulullah SAW sebagai fail (pelaksana) mendapatkan perintah dari Allah SWT untuk menyatukan bangsa Arab dalam satu akidah, percaya kepada satu Nabi SAW, serta menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup, serta menjadikan Makkah sebagai kiblat kamu muslimin.

Oleh karena itulah, Allah SAW memberitakan di dalam Al-Quran seputar perjalanan Isra dan Mikra’ Rosulullah SAW. QS Al-Isra’ (17:1), Allah SWT berfirman yang artinya:’’ Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidilharam ke Masjidil Al- Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Perjalanan Rosulullah di awali dengan dibersihkan hatinya dari segala kotoran, seperti; iri, dengki, riya’, takabur, sumah, namimah, dll. Zam-zam, air suci yang memancar dari sudut Baitullah itulah yang dipergunakan untuk membersihkan hati Rosulullah SAW. Dari tempat suci Makkah,  dengan hati yang suci pula, Nabi SAW melakukan perjalanan panjang dalam waktu semalam. Jibril as menemani perjalanan Rosulullah SAW sejak dari Makkah, Madinah, Bait Lehem, Al-Aqsa, hingga berjumpa dengan Allah SWT.

Dengan demikian, sebuah perjalanan kemana-pun, serta pekerjaan apa-un di dunia ini, kecuali harus di mulai dengan niat yang suci, sebagaimana pernyataan Rosulullah SAW:’’ Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya (HR Bukhori). Penulis, dokter, dosen, DPR, mahasiswa, atau profesi apa saja, hendaknya memulai dengan niat yang suci, agar hasilnya bagus, berkualitas, manfaat di dunia dan juga ahirat.

Ibarat sebuah mata air, jika sumbernya jernih, maka air yang mengalirpun bersih, sebaliknya, jika mata airnya keruh, maka air yang mengalir-pun ikut keruh. Wajar, jika Imam Nawawi meletakkan hadis ini pada setiap awal karyanya.

Terkait dengan niatan suci, Imam Bukhori, tatkala menulis kitab shahihnya, beliau selalu bersuci (wudhu) terlebih dahulu, dilanjutkan dengan sholat dua rakaat, kemudian barulah beliau menulis satu hadis. Menariknya lagi, beliau ketika menulis karyanya di tempat paling mulia di dunia, yaitu Makkah, tepatnya di pelataran Ka’bah. Tidak satu jengkal-pun setiap tanah di sekitar Baitullah, kecuali memiliki ke-ajaiban.

Sejak Nabi SAW melangkah-kan kaki dari Makkah menuju Al-Aqsa, ternyata beliau bersama Jibril mendapati kejadian-kejadian unik, menarik, aneh, yang tidak pernah disaksikanya. Usai menunaikan sholat bersama para arah para utusan Allah SWT, Jibril menawarakan dua bekas gelas (satu berisi arak dan satu lagi berisi susu) Nabi SAW memilih susu, lalu Jibril a.s. berkata: “Kamu telah memilih fitrah.” Jika Nabi SAW memilih Arak, maka umatnya akan tersesat. Susu menjadi isarah bahwa Rosulullah SAW di dalam jalan yang lurus.

Kejadian yang sangat menarik ialah, saat Rosulullah SAW melihat sekelompok  yang menanam tanaman pada suatu hari dan pada hari itu pula tanaman tersebut dapat dipanen. Dan setiap kali dipanen, buahnya kembali lagi seperti semula. Setelah ditanyakan kepada malaikat Jibril as, beliau SAW mendapat jawaban yang mengesankan, ternyata apa yang Rosulullah SAW saksikan itu adalah sebuah gambaran dari orang-orang yang berjuang untuk membela agama Allah SAW. Amal baik mereka dilipatkan gandakan sampai 700 kali.

Dalam perjalanan itu, Rosulullah SAW melihat kaum yang membentur-benturkan kepala mereka pada batu sehingga kepala mereka itu pecah. Dan setiap kali kepala mereka pecah, maka pulih kembali, lalu mereka benturkan kembali. Pekerjaan tersebut mereka lakukan terus-menerus tanpa berhenti. Rosulullah SAW menjelaskan bahwa perbuatan tersebut adalah gambaran dari siksaan yang akan diberikan di hari kiamat kepada orang-orang yang malas melakukan shalat wajib dan sering mengakhirkan dari waktunya.

Begitu pentingnya sholat, sampai-sampai Allah SWT mengingatkan dalam sebuah firma-Nya:’’ Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu (QS Al-Baqarah (2:45). Sholat yang baik, berkualitas, khusu’, tepat waktu, berjamaah, akan menjadi wasilah hidup manusia lebih baik, dan bermartabat. Tidak satu-pun dari persoalan duniawi, kecuali ada jalan keluarnya, jika sholatnya benar-benar dikerjakan dengan sebaik-baiknya. Sebaliknya, jika sholatnya tidak dikerjakan dengan baik, hidup terasa menyesakkan dada.

Sedangkan pelajaran berharga dari perjalanan Rosulullah itu, ternyata perjalanan yang begitu panjang, bisa ditempuh pada waktu yang semalam (lailan) (QS Al-Isra’ (17:1). Ini mengisaratkan, bahwa segala profesi ternyata bisa dilakukan dengan cepat, baik, professional, jika adanya campur tangan Allah SWT.

Bagi seorang pengusaha, mestinya dalam waktu yang tidak lama, harus mampu menghasilkan keuuntungan yang sebanyak-banyaknya. Bagi seorang dokter (rumah sakit), dalam waktu yang tidak terlalu lama sudah bisa memberikan pelayanan maksimal kepada pasien yang membutuhkan. Bagi seorang penulis, dosen, harus bisa menggunakan waktunya untuk menghasilkan karya sebanyak-banyaknya. Dalam perjalanan sucinya, Rosulullah SAW mampu menghasilkan beragam informasi terkait dengan gambaran tentang masa depan umatnya.

Ini juga menjadi isarat bahwa Isra’ Mikaj Rosulullah SAW  merupakan pelajaran berharga bagi umat manusia, agar selalu produktif, mengunakan masa hidupnya dengan sebaik-baiknya. Usianya terbatas, tetapi gagasan, ucapan, tulisan, serta pekerjaannya banyak dan bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Sebagaimana Rosulullah SAW, usinya hanya 63 tahun, tetapi tidak satupun dari gagasan, ucapan, serta diamnya, kecuali memberikan manfaat bagi sesama dan dunia.

Dan yang paling penting dari perjalanan Isra’ dan Mikraj Rosulullah SAW itu, bahwa kesedihan, kesulitan yang dialami Nabi SAW terkait dengan dakwahnya. Ahirnya, Allah SWT memberikan gambar gembira, bahwa sesungguhnya Allah SWT ingin betemu langsung dengan kekasih-Nya, Muhammad Rosulullah SAW. Ini menjadi isarat bahwa sesungguhnya dari setiap kesulitan yang dihadapi dengan sabar dan ihlas, ahirnya Allah SWT memberikan jalan keluar yang terbaik. Allah SWT berfirman:’’karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Al-Insirah (94:4-5). Wallahu A’lam


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook