Posted by Abdul Adzim Irsad On Februari - 12 - 2016 0 Comment

ValentinValentine salah satu dari sekian banyak budaya barat yang telah menjadi budaya muda mudi di belahan dunia, termasuk di Negara-negara mayoritas Muslim. Valenetine termasuk sedang di gandrungi kaum remaja, khususnya di Indonesia. Bukan hanya dikota-kota besar, seperti; Jakarta, Surabaya, Jokjakarta, Bandung, Malang, tetapi sudah merambah dipedesaan. Bahkan, di pedesaan, pinggir gunung dan sungai pun mulai merayakan Valentine Days. Sesungguhnya, jika mereka mengerti, bahwa agama mereka melarang, dan orangtua tidak mencontohkan, juga masyarakat tidak melakukan, pasti mereka juga tidak akan melakukanya. 

Marakanya budaya perayaan Valentine ini, tidak lepas dari peran layar kaca (telivisi) dan media cetak (koran, majalah).  Apalagi adanya medsos, seperti; FB, Twiter, menjadikan budaya perayaan Valentine benar-benar meng-hipnotis remaja Indonesia. Khususnya remaja muslim yang tinggal di Negeri. Mereka tidak lagi memperdulikan fatwa-fatwa para ulama’ (agamawan) seputar perayaan Valentine. Fatwa MUI, di anggab angina lalu, begitu juga fatwa ormas-ormas islam, juga tidak menjadikan mereka menghentikan niat mereka.

Sebagian remaja muslim yang melakakukan Valentine Day, karena sebagian dari mereka tidak mengerti. Sebagian lagi tidak memperoleh pendidikan agama yang cukup dari kedua orangtua, dan sebagian lagi tidak cukup mendapat perhatian dan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Sebagian lagi, memang mereka berniat merayakan Valentine Day, karena merasa bahwa itu bagian dari budaya yang tidak terkait dengan agama. Buktinya, usai merayakan Valentine Day, mereka juga melaksanakan sholat lima waktu. Artinya, tidak semua yang melakukan Valentine Day itu mengerti, bahwa itu bertentangan dengan ajaran agama.

Gus Dur pernah menyampaikan dalam sebuah ceramahnya” Budaya yang melanda bangsa Indonesia, bagaikan banjir bandang (bah) yang menakutkan. Tidak satupun orang yang bisa menghalangi banjir itu. Lebih lanjut lagi, beliau mengatakan:’’ kewajiban orangtua ialah bagaimana mengajari berenang terhadap putra-putrinya, sebab ketika terjadi banjir bandang datang, orang tua tidak terlalu khawatir. Karena putranya sudah bisa berenang sendiri tanpa meminta bantun orangtua dan orang lain”.

Kecaman demi kecaman seputar Valentine Day terus menerus. Setipa tahun fatwa haram di keluarkan, tetapi tidak mengurangi jumlah remaja merayakannya. Bahkan, setiap tahun semakin bertambah. Perlu sebuah gagasan baru, bagaimana mengadakan budaya tandingan, agar remaja tidak lagi merayakan Valentine Day. Bisa diganti dengan renungan Malam, bakti sosial,  rekreasi dan lain. Sebagaimana KH Suyuthi Dahlan mengadalan Renungan Suci Tahun Baru Masehi, dengan tujuan kaum remaja tidak hura-hura. Dan, ternyata berhasil, walaupun masih ada saja orang yang mengatakan “tidak ada tuntunan agama”.

Jika dikaji, hari Valentine (bahasa Inggris: Valentine’s Day), biasanya dilaksanakan pada tanggal 14 Februari setiap tahun. Pada tanggal itu, adalah sebuah hari di mana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya di Dunia Barat.

Dan, hal ini tidak ditemukan dalam ajaran Rosulullah SAW, karena Islam telah mengajarkan kepada pengikutnya agar mengutarakan cinta dan membangun kasih sayang terhadap pasanganya yang sah. Dengan demikan, bagi umat islam Valentine Days, itu bertentangan dengan ajaran Nabi SAW. Di sisi lain,Valentine Days itu mengarah pada hal-hal yang negative (bertentang dengan moralitas bangsa Indonesia).

Tidaklah berlebihan jika para ulama’ sepakat, bahwa merayakan Valentine’s Day hukumnya haram. Tidak heran juga jika orang-rangtua  ahi-ahir ini memberikan aturan yang ketat terhadap putra-putrinya akat tidak terjerumus pada Valentine Day’s. Tidak eneh jika pemerintah melalui MUI mengeluarkan Fatwa Haram, dengan tujuan untuk menjaga moralitas bangsa dan kemaksiatan yang bisa meruntuhkan bagsa dan Negara Indonesia. Konon hal ini karena asal usulnya saja berasal dari hari raya Katolik.

Valentine Days sekarang  telah diasosiasikan oleh para pasangan yang sedang kasmaran untuk saling bertukaran notisi-notisi dalam bentuk “valentine”. Simbol modern Valentine antara lain termasuk sebuah kartu berbentuk hati dan gambar sebuah Cupido (Inggris: cupid) bersayap. Mulai abad ke-19, tradisi penulisan notisi pernyataan cinta mengawali produksi kartu ucapan secara massal.

Ada lagiThe Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) memperkirakan bahwa di seluruh dunia sekitar satu milyar kartu valentine dikirimkan per tahun. Bahkan, ada yang membagikan bunga dan coklat dimana di dalamnya ada alat kontrasepsi. Seolah-olah ini membeirkan kesempatan untuk berzina. Bukanlah ini berusak moral bangsa Indonesia.

 

Logika sederhananya ialah jika remaja muslim (muslimah), ikut serta merayakan Valentine’s day, sama dengan merayakan (1) Hari Raya katolik (2) Valentine’s Day (peryaaan hari valentine) berkasih-kasih-an antara lelaki dan wanita tanpa ikatan nikah. Konon, hal ini membuat hari raya ini merupakan hari raya terbesar kedua setelah Natal di mana kartu-kartu ucapan dikirimkan. Asosiasi yang sama ini juga memperkirakan bahwa para wanitalah yang membeli kurang lebih 85% dari semua kartu valentine.

Perayaan Valentine’s day sudah melanda dunia. Hampir semua agama dan keyakinan dunia ini ikut serta melaksanakan hari raya ini. Bahkan, ahir-ahir ini budaya merayakan Valentine’s Day menjadi tren masyarakat dunia, seperti; Arab, Afrika, Amerika, Asia. Bahkan, di Indonesia Velentine’s Day sudah menjadi tren bagi remaja-remaja  muslim. Sampai-sampai, pada hari itu banyak sekali pasangan-pasangan yang melakukan pelanggaran agama (naudubillah).


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook