Posted by Abdul Adzim Irsad On Januari - 30 - 2016 0 Comment

HajiIndonesia itu Negeri yang amat subur dan makmur, gemah ripah loh jinawe. Hamparan hijau dari Sabang hingga Merauke menjadi hamparan sajadah panjang bagi orang-orang yang ber-iman. Setiap hari, umat mengabdikan diri kepada Allah dihamparan sajadah ini, dengan harapan mendapatkan curahan rahmat dari Allah SWT.

Udara Indonesia sangat sejuk, tidak terlalu terik, sangat cocok dengan para penghuninya yang ramah dan suka menyapa sesama, dan saling tolong menolong. Pepohonan disepanjang jalan, dan pegunungan yang hijau menambah pemandangan semakin indah dan mempesona. Orang Sudan, yang baru menapakkan kakinya di Indonesia berkata “Indonesia adalah surga dunia”. Orang Arab-pun juga berkata demikian, karena tanah mereka sangat kering dan kerontang, tiada ke-indahan, kecuali padang pasir disejauh mata memandang.

Jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar, dengan budaya dan tradisi lokal yang beragam membuat Indonesia semakin menawan di mata orang-orang asing yang sedang ber-wisata, menikmati indahnya Pesona Nusantara. Barangkali, Indonesia itu serpihan pulau-pulau surga yang ada di bumi.

Para penduduknya ramah dan santun, walaupun agamanya dan keyakinannya bermacam-macam. Semua agama dan keyakinan yang ada di Indonesia mendapatkan perlindungan yang sama. Tidaklah aneh, jika seorang muslimah boncengan naik motor dengan seorang wanita Nasrani. Bahkan, seorang mahasiwi Nasrani selalu ikut kuliah Pendidikan Islam setiap minggu sekali. Tetapi, itu tidak merubah keyakinan, justru semakin mengerti bagaimana cara menghormati sesama hamba Allah SWT.

Semua penduduk Indonesia wajib baginya percaya adanya Tuhan yang Maha Esa, sebagaimana sila pertama dalam Pancasila. Itulah Indonesiaku, yang menjadi hamparan sajadah bagi setiap muslim pada setiap saat dan waktu, untuk mengabdikan diri kepada Tuhan yang maha Esa. “Bhienika Tunggal Ika”

Saat ini, Indonesia ibarat rumah yang sudah dibuka luas-luas pagarnya. Siapa-pun datang dan bisa bermain-main dengan bebas di halaman Nusantara. Mereka yang datang bukan saja berwisataria menikmati Pesona Nusantara, tetapi juga membawa budaya dan komuditas dagangan kepada penduduk Indonesia. Bahkan, juga menawarkan akidah dan keyakinan yang berbeda dengan keyakinan Masyarakat Indonesia.

Tidaklah heran, jika banyak ditemukan wisatawan yang berhidung mancung, dan berjenggot lebat, jubahknya sedikit ngatung (cingkrang), kemudian datang ke-kampung-kampung. Dengan tidak sungkan, dan berwajah garang, menjustifikasi masyarakat setempat dengan “sesat dan ahli neraka”. Padahal, mereka itu bukan penduduk asli Indonesia, tetapi lagaknya seperti orang yang paling mengerti dan suci, sehingga menghukumi orang tidak sama dengan dirinya sebagi penghuni Neraka.

Ada juga wisatawan yang berwajah Persia, dengan busana serba hitam, datang dengan ramah dan santun. Kedatanganya juga menawarkan cinta kepada durriyah Rosulullah SAW, serta memuji-muji ke-agungan keturunan Rosulullah SAW, seperti Ali Ibn Abi Thalib, Hasan, dan Husain. Anehnya, mereka meng-jelekkan sahabat Rosulullah SAW, bahkan menjelekkan istri Rosulullah SAW, yang selama ini dimulyakan dan di agungkan oleh masyarakat Indonesia.

Setiap hari, wisatawan dari Persia dan Arab Saudi, menebar kebencian dengan kalimat kasar dan menyeramkan. Saling mengancam, bahkan saling meng-klaim sebagai penghuni surga, dan mengklaim saling menyesatkan dan menjadi penghuni Neraka. Lebih ekstrim lagi, siapa yang bisa membunuh dijamin surga. Sungguh, ini sangat menyeramkan dan menakutkan. Jauh dari ajaran Rosulullah SAW, jauh dari ajaran para sahabat, juga jauh dari ajaran wali songo, dan jauh dari nilai-nilai Islam Nusantara yang mengajarkan damai, santun, dan mengedepankan kesantunan, keramahan, sesama hamba Allah SWT yang ber-iman.

Indonesia itu bukan Arab Saudi, juga bukan Syiria, dan juga bukan Negeri Yaman. Indonesia itu juga bukan Iran. Indonesia itu adalah Nusantara, yang terdiri dari beragam suku, bahasa, budaya, dan dan agama. Semua yakin, bahwa Allah SWT itu Esa, dan yakin bahwa Nabi Muhammad itu utusan Allah SWT. Sahabatsahabat Rosulullah SAW, wajib dimulyakan, karena itu ajaran Rosulullah SAW. Bahkan, orang yang tidak se-iman-pun wajib di mulyakan. Itulah Islam Nusantara, bukan Islam Persia, dan juga bukan Islam Arab.

Sejak berdiri, Indonesia sudah disepakati bersama bukan Negara Islam. Tetapi wajib bagi  yang tinggal di negeri ini bertuhan (bertauhid).  Sila pertama dalam Pancasila itu, mengajarkan “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Dalam bahasa al-Quran bisa diartikan dengan “Qul Huwa Allahu Ahad” yang artinya “katakanan, Allah SWT itu adalah Esa.

Teringat sosok Sengkuni, tokoh wayang yang jahat, tetapi cerdik dan santun bahasanya, tetapi menyimpan kebusukan yang sangat dasyat. Dalam bahasa Al-Quran, sosok Sengkuni ibarat penjelasan Al-Quran yang artinya “ Dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan” (QS Al-Baqarah (2:191). Fitnah yang disemburkan melalui media, medsos, seperti; FB, Twitter, menimbulkan kekacauan yang amat dasyat. Saling membunuh, mengujat, melecehkan, bahkan meng-kafirkan (takfiri).

Salah satu tugas umat Islam itu, mengajak orang yang tersesat menuju jalan yang lurus dan benar. Itulah karakteristik umat Rosulullah SAW, baik yang bermukim di Arab, maupun yang bermukim di bumi Nusantara. Sedangkan ciri khas pengikut Syetan ialah, menyesatkan orang-orang ber-iman kepada Allah SWT. Merasa lebih baik dan benar, sebagaimana pernyataan Iblis “saya lebih baik dari Adam”.

Seorang ulama besar Al-Azhar, juga seorang mufassir, faqih, muhaddis, Syekh Sya’rowi berkisah seputar pemuda yang ikut garis keras.

Syekh Sya’rowi bertutur “Pernah pada suatu hari, Aku berdialog dengan salah seorang pemuda dari kelompok garis keras (golongan Mutasyaddidin) dan Aku bertanya kepadanya: “Apakah meledakkan tempat-tempat hiburan malam di salah satu negara yang mayoritas penduduknya umat Islam hukumnya halal ataukah haram?”,

 

Pemuda itu pun menjawab kepadaku: “Tentu saja hukumnya halal dan diperbolehkan untuk membunuh mereka”.

 

Aku bertanya lagi kepadanya: “Jika Engkau membunuh mereka yang sedang bermaksiat kepada Allah, kemana tempat mereka akan kembali?”

Pemuda itu menjawab: “Pastinya ke Neraka”.

Aku bertanya lagi kepadanya: “Kemanakah Syetan ingin membawa mereka (yang kamu bunuh dengan ledakanmu)?

Pemuda itu menjawab: ‘Pastinya Syetan berkeinginan membawa mereka masuk ke dalam Neraka?”

Lantas aku pun berkata kepadanya: “Kalau begitu, Engkau sedang bekerjasama dengan Syetan dengan satu tujuan yang sama untuk memasukkan dan menjerumuskan manusia ke dalam api Neraka!”.

Aku sebutkan kepadanya satu hadis Rasulullah SAW, yang mana ketika itu lewat dihadapan Rosulullah SAW, jenazah seorang Yahudi sehingga menjadikan Rosulullah SAW bersedih dan menangis. Maka bertanyalah para Sahabat Nabi: “Apa yang menyebabkan dirimu bersedih dan menangis duhai Rasulullah?”.  Rasulullah SAW menjawab: “Satu jiwa telah terlepas dariku dan jiwa itu masuk ke dalam api Neraka”.

Aku pun berkata kepada pemuda itu: “Coba perhatikan perbedaan yang amat nyata antara dirimu wahai anak muda dengan diri pribadi Rasulullah SAW yang berusaha untuk membimbing dan menyampaikan hidayah kepada manusia serta menyelamatkan mereka dari api Neraka, sedangkan dirimu menginginkan mereka masuk ke Neraka. Engkau berada dalam satu lembah dan Kekasih Agung Muhammad SAW berada pada lembah yang lain (Engkau berseberangan dengan Nabi SAW”.

Islam Nusantara itu sangat ramah dan santun, akidahnya sesuai dengan akidah Rosulullah SAW dan sahabat-sahabatnya. Memulyakan semua istri Rosulullah SAW, dan juga memulyakan sahabat-sahabat beliau. Tidak pernah mengajarkan kebencian, kekerasan, dan melarang saling mengkafirkan, karena itu perbuatan Syetan.  Ajaran akidah dan syariat, sama persis dengan Rosulullah SAW dan sahabatnya, yang kemudian di Bumikan oleh Wali Songo.

Kehebatan Wali Songo itu, bertahun-tahun meng-islamkan Nusantara dengan ramah dan santung tanpa ada peperangan, dan sekarang ada yang baru kenal Islam, sudah berusaha merusak, dan mudah meng-kafirkan, dan menjustifikasi orang Islam yang meng-abdikan diri kepada Allah SWT. Itulah perbedaan Wali Songo dengan Wali Jenggot, sebagaimana pernyataan KH Hasyim Muzaddi (Abdul Adzim, Malang 10/11/2015)

 


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook