FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM KLASIK

Filsafat pendidikan islam ialah memberikan makanan fisik secara baik, dengan cara memberikan makanan dan minuman yang halal dan baik. Sebab, makanan halal dan baik akan memberikan penggaruh positif terhadap kecerdasan intelektual dan spiritual. Kewajiban orangtua ialah memberikan makanan ruhani dengan teladan yang indah, seperti; bertutur kata yang baik, prilaku yang postif, serta memberikan motifasi do’a setiap waktu, khususnya setelah sholat lima waktu. Dan, lebih khusus lagi membekali spiritual anak dengan rajin berpuasa sunnah dan sholat malam setiap saat. Jangan, mengharap seorang anak menjadi baik, jika prilaku orangtuanya tidak bisa menjadi guru (digugu da ditiru) oleh putra-putrinya.

Dalam dunia pendidikan, tugas utama orangtua ialah membekali anak dengan moral (ahlakul karimah). Diharapkan orangtua, dapat memberikan pengaruh positif secara langsung terhadap pendidikan anak sejak usia dini sampai masa pernikahan. Tugas utama orangtua ialah mengkondisikan lingkungan keluarga untuk mewujudkan anak-anak yang cerdas secara intelektual, emosional dan spiritual. Ketika terlahir, yang pertama kali dilihat adalah wajah kedua orangtuanya, yaitu ayah dan ibunya. Semua ucapan yang keluar dari lisan ayah ibu, serta prilaku akan tercatat di dalam otak sang bayi.

Al-Qur’an memberikan pelajaran, bahwa pendidikan yang harus diberikan sejak lahir hingga dewasa ialah mengenalkan Allah SWT serta bagaimana ber-ahlak kepada-Nya. Oleh karena itu, sunnah hukumnya mengumandangkan Adzan dan iqomah pada telingga anak ketika baru dilahirkan. Seorang Ayah, harus mengenalkan Adzan (nama Allah Swt). Jadi, pertama kali yang perdengarkan, yang kemudian direkam dalam otak seorang bayi adalah nama Allah Swt sebagai dzat yang menciptakan (al-Kholik).

Berangkat dari sebuah teks al-Qur’an yang artinya;’’ Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya:’’Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar’’ (QS. Lukman (31:16). Ketika seorang anak belum bisa diajak berkomunikasi secara langsung. Kewajiban bagi kedua orangtuanya memperkenalkan suara-suara indah yang berasal dari wahyu ilahi, seperti tartil al-Qur’an, sholawatan,  dzikir, percakapan yang indah dan menyenangkan antara kedua orangtuanya. Ini merupakan sebuah cara untuk merangsang otak seorang bayi.

Ketika seorang anak sudah mulai bisa di ajak berbicara (dialog). Maka selanjutnya, pendekatan sang ayah terhadap anaknya melalui sebuah dialog, agar supaya pesan moral yang terkandung itu sampai pada anaknya. Sebagaimana Q.S Lukam (31: 16-19) yang artinya:’’ Luqman berkata):’’Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Hai anakku, Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

Pesan yang terkandung dalam Q.S Lukman ini begitu agung, yang terdiri dari masalah tauhid (ahlak) terhadap Allah Swt, yaitu larangan menyekutukan-Nya. Selanjutnya, ayat di atas mengisaratkan betapa besar kekuasaan-Nya, karena tidak satupun amal perbuatan manusia, kecuali akan terpantau oleh Allah Swt dimana saja berada. Dan, semuanya kelak akan dipertanggung jawabkan di sisi-Nya. Seringkali, surat Lukman ini dibacakan ketika seorang bayi masih dalam kandungan, dengan harapan pesan-pesan ilahi ini mampu menembus otak bayi yang sudah bisa menerima pesan-pesan positif dari lingkungan sekitarnya.

Yang lebih menari lagi, Q.S Lukman ini mengajak orang-orang mukmin agar senantiasa menyerukan pada kebenaran (ma’ruf) dan mencegah kemungkaran. Amar ma’ruf nahi mungkar adalah karakteristik orang muslim sejati. Tidak dipungkiri, sebuah perjuangan memerlukan pengorbanan. Jadi, modal untuk mengajak baik berbuat (ma’ruf) dan mencegah kemungkaran (kebatilan) adalah (sabar) atas segala sesuatu yang telah menimpanya.

Di era internetisasi ini. Seringkali orangtua sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, sehingga waktunya sangat terbatas bagi buah hatinya. Jadi, pertumbuhan putra-putrinya bukan ditangan kedua orangtua, tetapi di bawah asuhan para pembantunya. Jadi, kadang sang anak mewarisi moral, etika, dan ahlak para pembantunya yang setiap hari menemaninya. Dan, ini tidak terelakkan lagi. Di dalam al-Qur’an, Nabi Ibrahim memberikan contoh,walaupun kualitas pertemuan sedikit dengan putra-putrinya. Diharapkan, orangtua lebih rajin memberkali buah hatinya dengan do’a.

Ketika mendengar kata-kata do’a. Seringkali orangtua mengatakan bahwa dirinya sudah mendo’akan anaknya. Bahkan, ngak kurang-kurang mendo’akan putra-putrinya.Para ulama’ membeberkan rahasia keberhasilan putra-putrinya. Yaitu dengan membekali putra putrinya dengan rajin berpuasa sunnah (bekal ruhani dengan tirakaat). Ketika malam tiba, mereka melobi tuhan dengan tetesan air mata, memohon kepada-Nya, agar putra-putrinya senantiasa dalam bimbingan-Nya. Selanjutnya, orangtua juga berusaha mencari harta yang halal 100%, baik jenis atau cara memperolehnya. Dalam, pendidikanpun, orangtua memilih lembaha yang mengedepankan moral (ahlak). Terbukti, para ulama’ terdahulu putra-putrinya menjadi ilmuan yang bermoral, pejabat yang ber-ahlak. Wallau a’lam

Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook