Posted by Abdul Adzim Irsad On Agustus - 10 - 2013 0 Comment

Bukan hanya orang Kristen. Semua orang selain muslim, dilarang memasuki kota suci Makkah dan Madinah. Dua kota suci ini sebelumnya tidak dilarang bagi orang-orang non muslim. Terbukti, ketika Rosulullah SAW bermukim di Madinah, banyak sekali orang-orang Yahudi tinggak di dalamnya.

Surat Al-Taubah

Nabi SAW membuat kesepakatan dengan istilah Piagam Madinah yang terdiri dari kesepakatan antara umat islam dan penduduk non muslim. Ketika Nabi SAW membuka kota suci Makkah (Fathu Makkah). Masih banyak orang non Islam bermukim di Makkah dan Madinah.

Dalam catatan sejarah, tahun 8 Hijriyah, (623 M) kota suci Makkah masih boleh dikunjungi dan tempati orang-orang selalin muslim, seperti; Nasrani, Yahudi. Itu bahkan terjadi setelah Nabi Muhammad SAW menaklukkan kota Makkah.

Ternyata, selama berada di kota suci Makkah dan Madinah, orang-orang non muslim (kafir) sering dan banyak sekali melakukan tindakan-tindakan munafik, ingkar janji dan memusuhi serta menodai syiar Islam. Karena setiap agama dan keyakinan selalu memiliki tujuan untuk menyebarkan agama dan keyakinan masing-masing. Tidak aneh, jika non-muslim yang bermukim di Madinah dan Makkah menganggu kegiatan syiar islam.

Tepat pada tahun 9 H, sebgaimana firman Allah SWT  QS Al-Taubah (9:28),  Allah SWT menegaskan:’’hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang Musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini”. Pernyataan Allah SWT sekaligus menjadi hukum bahwa selain orang Islam dilarang memasuki kota suci Makkah dan Madinah. Keduanya menjadi tanah sacral (suci).
Selain tanah haram, orang-orang non Muslim diperbolehkan masuk dan tinggal di dalamnya. Pemerintah Arab Saudi telah memberikan batasan khusus dua kota suci Makkah dan Madinah. Jeddah, Thoif dan sekitarnya banyak juga dihuni orang-orang nasrani, karena memang Jedah, thaif disebut dengan tanah halal. Hanya saja, setiap orang yang tinggal di negeri petro dolar (Arab Saudi) harus mengenakan kerudung (penutup kepala) jika keluar rumah.

Dua kota suci memang dilarang bagi orang non-islam. Tetapi, larangan itu tidak membuat orang non-islam kecil nyalinya. Banyak sekali para petualang berusahan memasuki kota suci Makkah dan Madinah dengan beragam cara. Larangan itu itu justru menjadi daya tarik sendiri. Terdapat sebuah buku yang berjudul ‘’Buku al-Masihiyun fi Makkah (Christian at Mecca, 1909) karya Augustus Ralli menuliskan hal itu.

Charles M. Doughty, dalam kata pengantar buku berjudul “Christian at Mecca” ini menyebut setiap musim haji pasti terjadi eksekusi mati bagi beberapa orang Kristen yang terbukti masuk ke tanah suci secara ilegal. Belum lagi dua warga asing tertangkap di Mina. Meski ada larangan, Mekah dan Madinah , malahan menjadi “magnet” bagi yang berjiwa petualang.

Buku setebal 371 halaman semakin menarik untuk dibaca. Esensi para petualang dari Eropa antara lain ingin memenuhi naluri ingin tahu. Tentunya termasuk ilmu pengetahuan. Para petualang itu di antaranya Ludovico Bartema (1503), Vincent Le Blanc (1568), Johann Wild (1607), Joseph Pitts (1680), Badia Y Leblich (Ali Bey Al-Abbasi) 1807, Ullrich Jasper Seetzen (Haji Musa) 1809-1810, John Ludwig Burckhardt (Syekh Haji Ibrahim) 1814-1815, Geovanni Finati (Haji Muhammad) 1814, Leon Roches (Haji Umar) 1841-1842, George Augustus Wallin (Waliyyuddin) 1845, Sir Richard Burton (Syekh Haji Abdullah) 1853, Heinrich Freiherr Von Maltzan (Sayid Abdurahman Bin Muhammad al-Skikidi) 1860, Herman Bicknell (Haji abdul Wahid) 1862, John Fryer Keana (Haji Muhammad Amin) 1877-1878 dan Snouck Hurgronje (Abdul Gaffar) 1885.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook