Posted by Abdul Adzim Irsad On Mei - 12 - 2016 0 Comment

ImigrasiSeorang laki-laki bilang kepada temanya sambil tersenyum kalau rumahnya itu mewah. Ternyata mewa itu artinya “mepet sawah”. Kemudian temanya menimbapi dengan mengatkan “rumahku meli”. Orang yang mendengarpun heran, apa itu meli. Ternyata meli itu singkatan dari “mepet kali”. Dalam bahasa kerennya “river side”.

Entah itu mewah atau meli, yang jelas setiap orang itu pingin hidupnya bahagia. Dan kebahagiaan itu tidak ditentukan oleh besar atau kecilnya rumah, melainkan bagaimana menghiasi rumah dengan dzikir kepada Allah SWT. Siapa yang bisa menghiasi rumah dengan membaca Al-Quran, tasbih, tahmid, dan sholawat, maka rumah itu akan semakin berkah dan sejuk bagi setiap ornag yang tinggal di dalamnya. Itulah rumah mewah yang sesungguhnya.

Dalam banyak pengetian, barang mewah  itu barang yang diminta seseorang yang memiliki pendapatan yang relatif tinggi. Maka, orang yang miskin (melarat), tidak mungkin bisa memperolehnya, karena tidak terjangkau. Sedangkan yang tergolong barang mewah, antara lain; mobil, intan permata, dan emas dan jamrud. Biasanya, orang yang sudah memiliki barang diatas, rumahnya juga besar, ditempat pemukiman elit dan ekslusif.

Islam tidak melarang pengikutnya menjadi kaya raya. Justru, islam menganjurkan pengikutnya kaya, agar bisa menunaikan ibadah haji, bisa berzakat, dan ber-infak kepada orang-orang fakir dan miskin. Islam itu mengajarkan ihtiyar sekuat tenaga untuk menghasilkan hasil yang sebesar-besarnya. Kemudian jika sudah memperoleh penghasilan atau keuntungan yang besar, maka 2.5 % itu bagian orang-orang miskin. Itulah indahnya islam, agama yang mengajarkan berbagi kepada sesama.

Kaya dan hiidup mewah-mewahan, seperti jam tangan mahal, mobil mahal, semuanya serba mahal dengan tujuan agar dilihat orang, atau agar dikatakan orang kata. Maka yang seperti haram dan bersdosa kepada Allah SWT. Sifat takabbur (merasa lebih baik), lebih kaya, merupakan sifat yang tidak terpuji. Karena yang berhal dipuji adalah Allah SWT.  Iblis itu dilaknat Allah SWT, karena merasa lebih baik dari pada Adam. Maka, jika ada orang merasa lebih baik, lebih kaya, lebih mampu dibarengi dengan merendahkan orang lain, maka itu sama dengan wataknya Iblis.

Tetapi jika kaya, tetapi tidak sombong maka tidak apa-apa. Karena banyak sekali pada Nabi yang kaya raya, begitu juga dengan sahabat Rosulullah SAW. Tetapi, justru kekayaan itu menjadikan mereka semakin bersyukur kepada Allah SWT. Mereka rajin ber-ibadah, berbagi kepada sesama, bahkan kadang mereka semakin rajin di dalam mengabdikan diri kepada Allah SWT. Karena merasa bahwa semua itu milik-Nya, dan bukan milik dirinya.

Nabi Dawud as kaya raya, bahkan putranya yang bernama Nabi Sulaiman as, termasuk konglomerat papan atas sepanjang jaman. Tetapi, Nabi Sulaiman as termasuk orang-orang yang banyak syukur kepada Allah SWT. Nabi Sulaiman tetap merasa bahwa semuanya itu milik Allah SWT.  Al-Quran menyatakan “

 

هَذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ

 

Ketika Nabi Sulaiman as,  melihat singgasana itu terletak di hadapannya. Beliau berkata “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari. (QS.An-Naml (27:40)

 

 


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook