Posted by Abdul Adzim Irsad On Agustus - 30 - 2012 1 Comment

brosur-kindaiJumlah biro perjalanan haji dan umrah menjamur dimana-mana, mulai kota besar hingga kepelosok desa. Mulai yang elit sampai yang bodong bisa ditemukan di desa-desa, dengan program yang beragam. Apapun akan dilakukan, yang penting bisa mendapatkan untung. Tidak aneh jika banyak orang menawarkan haji dengan biaya sangat murah. Ujung-ujungnya penipuan.

Berbagai cara dilakukan demi mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Ini persis dengan prinsip Ekonomi Adam Smith yang bunyinya:’’ berusaha dari sekecil-kecilnya untuk mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya’’. Kalau perlu tidak mengeluarkan biaya sepeserpun. Sistem MLM (Multi Level Marketing) mulai masuk pada ranah haji dan umrah. Ada juga model makelaran haji dan umrah.

Ada juga biro perjalanan haji yang menggunakan ikon artis untuk meningkatkan daya jualnya. Ada juga yang sedikit menipu dengan mencantumkan hotel bintang lima, ternyata sesampai di Makkah dan Madinah tinggal di hotel bintang tujuh (alias hotel yang memusingkan kepala hingga tujuh keliling). Sebab, sebagian besar jamaahnya bukanlah orang yang mengerti tentang hotel, karena mereka berasal dari pedesaan.

Yang terpenting bagi travel haji dan umrah, bagaimana meyakinkan calon jamaah haji atau umrah bisa ikut bersamanya. Walaupun kadang cara yang dipergunakan haram, bahkan jelas-jelas melanggar syariat agama. Kondisi seperti ini sudah bukan rahasia lagi. Setiap tahun banyak jamaah haji khusus atau biasa reguler yang tertipu oleh penjahat haji dengan mengtasnamakan ibadah dan melayani tamu-tamu Allah Swt.

Sebut saja MLM (Multi Level Marketing), misalnya, banyak yang berpendapat bahwa MLM Haji dan Umrah haram. Karena banyak unsur gharar (penipuan). Apalagi, banyak biro perjalanan haji yang lebih mengedepankan keuntungan belaka tanpa memperhatikan pelayanan ibadah dan kenyamanan jamaah selama di Makkah dan Madinah.

MLM Haji dan Umrah bersifat pragmatism (mengedepankan keuntungan materi belaka). Bukannya memberikan pelayanan secara menyeluruh kepada jamaah haji, sebagaimana orang-orang Jahiliyyah memberikan pelayanan kepada jamaah haji. Padahal Orang Arab sering mengatakan:’’ melayani jamaah haji merupakan kemulyaan bagi kami’’. Istilah ini masih ada, tetapi prakteknya sangat langka di lapangan.

Realitas dilapangan banyak sekali praktek-praktek yang tidak wajar, setiap tahun ratusan bahkan ribuan calon jamaah haji khusus (plus) tidak bisa berangkat haji. Padahal, sebagian mereka sudah melunasi. Tidak tanggung-tanggung, ada yang sudah membayar 80-90 juta. Tetapi karena biro perjalanan haji itu Bodong. Maka jamaah haji menjadi komoditas belaka. Dan, itulah yang terjadi di lapangan. Dan, MLM sangat rawan, bahkan kerawanan sangat tinggi, karena bisa jadi system ini hanya menguntungkan orang-orang yang di atas(juragan), tetapi yang di bawahnya mati-matian mencari anggota. Dalam pandangan syariah, yang seperti ini tidak dibenarkan.

Di sisi lain, praktek pelaksanaan haji itu adakalanya diselengarakan oleh sebuah travel (biro perjalanan haji) tersebut hanya memiliki izin umrah saja. Sementara untuk penyelengaraan hajinya, biro perjalanan itu menjual jamaah haji kepada biro lain. Wajar, jika banyak biro perjalanan haji yang kemudian membuka pendaftaran haji, tetapi prakteknya justru di limpahkan kepada biro haji lainnya. Sebab, seringkali biro perjalanan haji itu adalah bodong.

Masih membahasa seputar haji MLM. Indonesia saat ini mulai bermunculan Multi level marketing (MLM) dengan menjual produk berangkat haji atau umrah. Tidak semua biro perjalanan haji itu memiliki sertifikat halal.  Demikian disampaikan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ma’ruf Amin. “Jumlah yang bersertifikat hanya hitungan jari,” (http://republika.co.id). Langkah MUI sangat  tepat, mengingat MLM semakin hari semakin banyak, dan prakteknya masih perlu ditanyakan dan dilihat dilapangan.  Memang, produk yang di jual halal, tetapi system yang berjalanan itu menguntungkan salah satu fihak dan merugikan fihak lain. Hampir semua praktek MLM yang dilakukan di lapangan mengandung unsur riba ataupun unsur penipuan (gharar). Oleh karena itu, kepada masyarakat hendaknya harus berhati-hati, jangan ikut-ikutan menjadi edan di jaman edan ini, karena seringkali manusia menggunakan segala cara untuk mendapatkan keuntungan. Wallalu a’lam

 

One Response so far.

  1. Lauren Tave mengatakan:

    I simply want to say I am just very new to weblog and really savored you’re web site. Most likely I’m likely to bookmark your site . You surely come with amazing articles. Bless you for sharing with us your web page.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook