Posted by Abdul Adzim Irsad On September - 17 - 2013 0 Comment

Haji PanasKetika musim panas tiba, suhu di Arab Saudi (Makkah dan Madinah) begitu panas dan menyengat, hingga mencapai 40-50 C?. Begitu juga saat musim dingin tiba, udaranya begitu menusuk tulang, hingga masuk kedalam sumsum. Begitulah gambaran Jazirah Arabiyah secara umum, tak terkecuali dua tanah suci, Makkah dan Madinah.

Tahun ini, jamaah haji Indonesia yang terbiasa dengan udara 27 C? akan disambut dengan suhu udara yang sangat panas. Menurut siklusnya,  cuaca tahun ini (2013) akan mencapai puncaknya, yaitu sekitar 45-50 C? . Bagi masyarakat Indonesia cuaca seperti ini sangat tidak bersahabat, disamping tidak terbiasa, perubahan cuaca yang begitu ekstrem menyebabkan jamaah haji Indonesia dehidarsi.

Setiap hari kondisi dua kota suci semakin dipadati oleh jamaah haji yang datang dari penjuru dunia. Jamaah haji Indonesia paling mendominasi dua tanah suci. Hampir setiap hari rombogan demi rombongan jamaah haji mulai berdatangan memasuki Al-Haramaian (Masjidilharam di Makkah dan Madinah). Kemacetan mulai terlihat dimana-mana, dan yang paling terasa yaitu disekeliling Baitulah., Dimana jamaah haji sedang thowaf mengelilingi Ka’bah sebagai bentuk ta’zim (meng-agungkan) rumah Allah yang suci.

Thowaf menjadi ciri khas ibadah ditanah suci Makkah. Belum afdal seorang jamaah haji, jika belum melaksankan thowaf sunnah setiap memasuki Masjidilharam. Begitu juga dengan sholat sunnah di raudah Al-Syariah merupakan ciri khas kota suci Madinah. Sehingga belum dikatakan sempurna ibadah haji seseorang jika belum berziarah ke Madinah, dan sholat dua rakaat di tempat paling dimulyakan itu.

Thowaf sunnah itu sangat dianjurkan dan contohkan juga oleh Rosulullah SAW dan para sahabat. Nabi-pun menjelaskan bahwa setiap langkah kaki itu nilai dilipatgandakan, dan mampu menghapus dosa-dosa manusia. Semakin banyak melaksanakan thowaf, akan semakin berkurang dosa-dosa manusia. Tidak satupun manusia yang memasuki kota suci Makkah untuk memenuhi panggilan-Nya, kecuali diharuskan menjalankan sunnah Nabi yaitu Thowaf. Syarat utama untuk melaksanakan ibadah thowaf itu sama dengan ibadah sholat, yaitu harus suci (memiliki wudhu). Tidak sah thwowaf seseorang, kecuali ia memiki wudhu’.

Namun, ketika kondisi tanah haram panas, maka airnya juga terasa panas. Tidaklah berlebihan jika jamaah haji Indonesia tidak terbiasa dengan bersuci (wudhu) dengan air yang terasa panas. Di tambah lagi, udaranya juga terasa panas, sehingga ibadah haji tahun ini akan terasa berat. Tetapi, jika sudah berniat karena Allah SWT, semua akan menjadi ringan, mudah, dan tidak ada keluh kesah. Ihlas adalah modal utama semua jenis ibadah, termasuk ibadah haji di musim panas ini.

Ketika membicangkan bersuci di musim panas atau dingin, Rosulullah SAW mengatakan:’’ Namun ketahuilah bahwa menyempurnakan wudhu di saat cuaca begitu dingin adalah amalan yang afdhol. Namun tahun ini, bersuci pada air yang menyengat masuk di dalamnya.

Rosulullah SAW pernah mengatakan kepada sahabat:’’Maukah kalian untuk aku tunjukkan atas sesuatu yang dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahan dan mengangkat derajat?”  para sahabat menjawab:’’ tentu saja, wahai Rasulullah.

Kemudian beliau SAW bersabda:’’menyempurnakan wudhu pada sesuatu yang dibenci (seperti keadaan yang sangat dingin/panas), banyaknya langkah kaki ke masjid, dan menunggu shalat berikutnya setelah shalat. Itulah ribath (menahan diri dari kemalasan) (HR Al-Hakim).

Dalam kondisi suhu yang panas, nilai ibadah jamaah haji berlipat, mulai bersuci (wudhu), tetapi airnya menyengat (panas). Kemudian setiap hari berjalan menuju Masjidilharam dan Nabawi dengan semangat, tanpa kenal lelah. Setiap hari mereka bejalan mondar mandir dari maktab menuju Masjidilharam, dengan jarak sekitar 3 km. Saat di Masjid, mereka juga dengan tekun menunggu sholat Ashar, magrib, hingga sholat isa’. Begitulah kegiatan jamaah haji Indonesia di tanah suci Makkah dan Madinah.

Untuk mengatasi air yang begitu panas dan menyengat, caranya mudah, sebagaimana pengalaman-pengalaman jamaah tahun lalu Caranya yaitu setiap malam airnya dimasukkan ke dalam bak, timbo (bejana) terlebih dahulu, untuk mandi pagi. Dengan begitu ketika pagi tiba, airnya terasa hangat.

Pokoknya ketika musim panas, semua serba panas. Airnya panas, suhunya juga panas seperti di depan oven, dan lantainya juga sangat panas. Jangan sampai kehilangan sandal di Masjidilaharam atau Masjid Nabawi, sehingga pulang dari masjid dengan bertelanjang kaki, jika ini terjadi maka kaki terasa diterbakar. Sampai-sampai, pikiran dan hati jamaah haji kadang ikutan panas, alias suka marah-marah. Jangan sampai terpancing emosi, sehingga hajinya tidak sempurna, karena ke-panasan.

 


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook