Posted by Abdul Adzim Irsad On Oktober - 12 - 2012 0 Comment

Dalam sebuah hadis, Nabi Saw menuturkan:’’Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya (HR.Bukhori). HAJI Panggilan IlahiJumlah umat islam Indonesia yang menunaikan ibadah haji cukup banyak, bahkan antreannya sudah sampai pada tahun 2024. Ada sekitar 220 ribu jamaah haji yang berangkat setiap tahun yang menyandang predikat haji, bahkan semakin tahun semakin bertambah. Ternyata, jumlah itu belum memberikan dampak yang positif pada bangsa dan masyarakat Indonesia.

Muncul kekhawatiran amat mendalam, jangan-jangan ada yang salah dalam pelaksanaan hajinya. Jika memang niat hajinya benar dan semata-mata karena Allah SWT, sudah tentu akan memberikan dampak positif pada kepribadian, yang kemudian melahirkan kesholehan social. Sangat tepat ketika Imam Bukhori memilih dan meletakkah hadis tentang meluruskan niat pada bahasan utama. Sekaligus mengingatkan kepada para pembaca, betapa pentingnya menata haji dalam semua amal perbuatan, khususnya Ibadah Haji.

Orang yang menunaikan ibadah haji karena memenuhi panggilan Ilahi, sudah pasti menyiapan segalanya, seperti; niat, harta, ilmu, sampai bekal selama ditanah suci. Mereka mengerti bahwa datang ke Makkah bukan rekreasi, atau sekedar memperoleh popularitas, atau berniaga. Atau ingin memperoleh legimitasi politik dengan predikat haji. Tujuan utama orang naik haji yaitu mendapatkan ridho-Nya, yang disebut oleh Nabi Saw dengan istilah ‘’Haji Mabrur’’.

Tidak semua orang yang menunaikan ibadah haji setiap tahun memiliki predikat mabrur. Realitas dilapangan, ternyata masih banyak para pejabat, agamawan, yang berhaji berkali-kali, tetapi masih suka menipu, berdusta, manipulasi, korupsi, bahkan masih suka mempraktekkan rentenir (riba). Padahal dia tahu, kalau yang seperti itu dilarang agama. Haji yang dilakukan setiap tahun, ternyata tidak memberikan dampak postif pada kehidupan individu maupun social. Barangkali, orang yang menunaikan haji seperti itu, bukan memenuhi panggilan Ilahi, tetapi karena bisikan Syetan.

Nyayian dan bisikan syetan jauh lebih indah dan menyenangkan dari pada bisikan Allah SWT. Banyak orang yang beranggapan, syetan hanya menyuruh kita berbuat jahat, tidak menyuruh beribadah. Iblis tidak menyuruh orang suka beribadah untuk mabuk, melainkan menyuruhnya, antara lain haji berkali-kali, tetapi niatnya untuk kepuasan diri, prestise, politik, popularitas, berniaga, serta rekreasi.

Setiap tahun banyak calon jamaah haji yang gagal berangkat haji ketanah suci. Ternyata pelaku penipuan adalah orang yang berkali-kali naik haji. Bahkan, sangat fasih bercerita seputar ibadah haji dan umrah. Memang, tidak semua orang yang berangkat ke Masjid menunaikan sholat, terbukti banyak sandal yang ilang. Tidak semua penyelengara haji memiliki tujuan mulia, buktinya masih sering terjadi penipuan bekedok haji yang dilakukan oleh pak Haji.

Barangkali benar apa yang kutip oleh K.H. Prof. Dr. Ali Mustafa Ya’kub, dalam kolom bertajuk ‘Haji Pengabdi Syetan’’. Banyak pejabat yang ikut serta menunaikan ibadah haji setiap tahun, tetapi tidak pernah ada perubahan signifikan dalam hidupnya. Kebiasaan-kebiasaan negative masih saja dilestarikan, dan ada juga yang masih demen korupsi dan manipulasi.

Dalam sebuah kisah menarik, ada seorang ahli ibadah’ menabung uang bertahun-tahun untuk bekal menunaikan ibadah haji. Ia bernama Muawafq. Ketika bekal (uang) sudah cukup. Dia melihat tetangganya yang sangat miskin dan yatim, tidak mampu membeli makanan. Karena anaknya terus merintih kelaparan, ahirnya  Sang Ibu memasak daging  bangkai Himar, demi menenui kebutuhan perut anaknya.

Melihat tetangganya seperti itu, Muwafaq-pun merelakan uang yang akan digunakan berangkat haji untuk membantu tetangganya. Dia relakan uangnya untuk menyelamatkan orang lain, dari pada menunaikan ibadah haji. Keihlasan Muwafaq mampu mengetarkan Abdullah Ibn Mubarak, sampai-sampai, karena ke-ihlasan Muwafaq, semua jamaah haji pada waktu itu diterima Allah SWT. Muwafaq memang belum menunaikan ibadah haji, tetapi ia telah mendapatkan predikat Haji Mabrur.

Setiap orang yang sudah niat haji wajib, sudah menabung. Ternyata, dia gagal berangkat dengan alasan yang syari (agama), seperti; ditipu, uangnya dibawa kabur. Berarti orang tersebut sudah dikategirkan telah menunaikan ibadah haji. Nabi SAW menuturkan:’’barang siapa sudah niat (keluar rumah) menunaikan ibadah haji, maka ia senantiasa dalam naungan-Nya. Jika ia meninggal sebelum  melaksanakan nusuk (ibadah haji) di Makkah, maka pahalnya tetap sempurna di sisi-Nya.

Haji memang penting dan menyenangkan bagi setiap umat islam yang berduit. Tetapi, jangan sampai merasa banyak duit, kemudian menghalalkan segara cara agar bisa pergi haji berkali-kali, sementara yang menanti antrean cukup banyak. Sesungguhnya, mendermakan duit (harta) untuk orang miskin dan kepentingan sosial, jauh lebih besar pahalanya dari pada ibadah haji. Apalagi, haji hanya sekedar prestise hidup dan embel-embel untuk mengelabuhi karena akan maju dalam pilkada.

Dalam islam, ada dua kategori ibadah yaitu ibadah qoshirah dan ibadah mutaddiyah. Ibadah qoshirah yaitu ibadah yang manfaatnya dirasakan sendiri. Sedangkan ibadah mutaaddiyah ibadah yang manfaatnya bagi orang lain. Haji itu tidak aka ada nilainnya di sisi Allah SWT, jika terbukti melihat orang lain kelaparan dan menderita sakit, sementara ia tetap ngotot berangkat haji, padahal sudah pernah menunaikan ibadah haji.

Lihat saja, Nabi Saw secara khusus menjanjikan orang yang menyantuni anak Yatim akan mendapatkan balasan surga, dan kelak bisa berdampingan dengan dirinya. Dan, menyantuni anak yatim, fakir miskin, meruapakan ibadah mutaaddiyah yang manfaat untuk orang lain. Sementara, haji yang mabrur hanya dijanjikan surga Allah SWT. Masuk surga dan berdampingan dengan Nabi Saw jauh lebih nikmat, jika bandingkan dengan hanya masuk surga tanpa di damping  Rosulullah SWT. Nabi-un menunaikan ibadah haji hanya sekali dalam hidupnya, tepatnya pada haji wada’, padahal beliau mendapat kesempatan tiga kali. Sementara, Nabi SAW jauh memeningkan ibadah mutaadiyah.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook