Posted by Abdul Adzim Irsad On September - 3 - 2013 0 Comment

Halal BihalalKetika orang sudah niat (azam) untu menunaikan ibadah haji. Di atas al-Arsy, Allah Saw sudah mencatatnya dengan nilai ibadah haji. Walaupun tidak bisa menunaikan haji karena sakit, atau meninggal dunia. Walaupun setoran haji yang belum lunas, kelak mereka akan dibangkitkan dan berkumpul dengan para jama’ah haji dengan mengenakan pakaian ihram. Lisannya tak henti-henti ber-talbiyah:’’ labbaik Allahuma Labbaik….Labbaika La Syarikalalabbaik….!

Mengingat calon haji adalah duta Allah, maka segala permintaan dan do’anya akan dikabulkan oleh Allah Swt. Apalagi, mereka benar-benar niat (azam), semata-mata karena ingin memenuhi panggilan-Nya. Jika mereka terkendala karena mafia, Allah-pun akan memberikan teguran kepada mereka yang menodai calon tamu-Nya. Dalam istilah jawa, jama’ah haji itu malati (bisa membuat celaka), dan do’anya mustajabah (langsung dijawab).

Di dalam sebuah keterangan hadis, Nabi Saw menuturkan:’’ para jama’ah haji dan umrah adalah duta Allah, manakala mereka berdo’a, maka Allah mengabulkan, manakala mereka memohon ampun (istigfar), maka Allah mengampuni mereka.[1] Di dalam redaksi lain, Nabi Saw menuturkan:’’ Allah mengampuni orang yang menunaikan ibadah haji, dan mengampuni mereka yang dido’akan (Musnad Umar Ibn al-Khattab)’’.[2]

Di dalam tradisi orang Indonesia, sebagian besar jama’ah haji yang pulang dari kota suci didatangi oleh kerabat, rekanan, tetangga. Mereka mengucapkan selamat atas kelancaran pelaksanaan haji selama berada di tanah suci Makkah dan Madinah. Mereka juga berdoa’ agar hajinya mabrur (diterima) di sisi Allah swt. Walaupun tidak dipungkiri, bahwa ada sebagian dari mereka mengharapkan oleh-oleh haji, seperti tasbih, kopyah sajadah, kurma, dan air zam-zam, itu semua adalah aksesioris dan seni orang berziarah haji.

Yang paling penting dalam dalam sebuah tradisi ziarah haji adalah meneladani sikap Nabi, dimana ketika beliau (Nabi) tiba di kota Madinah se-usai menunaikan haji, beliau menyembelih seekor kambing atau sapi (H.R. Bukhori 2859), sebagai rasa syukur kehadirat Allah Swt atas nikmat yang telah dianugerahkan kepadanya. Jika sebagian umat islam memberikan oleh-oleh ringan kepada tamunya, hal itu tidak bertengtangan dengan aturan agama, asalakan nilainya tidak berlebihan dan tidak bertentangan dengan ajaran Nabi Saw.

Lebih-lebih, bisa menyembelih sapi atau kambing. Tetapi ini bersifat sunnah dan tidak mengikat. Seorang ulama’ fikih menjelaskan dalam bukunya ”al-Fiqh al-Wadih” yang artinya”  disunnahkan bagi orang yang telah menunaikan ibadah haji, ketika sudah tiba ditanah air (rumah), untuk menyembelih seekor onta atau sapi atau kambing, kemudian diberikan kepada orang-orang fakir dan miskin, tetangga serta saudara kerabat sebagai bentuk pendekatan kepada Allah, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh baginda Nabi[3].

Jadi, Walimat al-Hajj (jamuan makan terhadap tamu), berupa makanan bernilai sedekah. Nabi Saw menganjurkan kepada semua pengikutnya berlomba-lomba bersedekah berupa makanan, belaiu pernag ditanya sepuatar amalan yang bisa mejadi wasilah masuk surga.

Beliau pernah ditanya oleh seorang sahabat seputara amalan yang terbaik dalam islam, beliau menjawab:’’ tut’im al-Toam,wa taqrou al-salam ala man arofta wa man la ta’rif, artinya :’’berikanlah makan, ucapkanlah salam kepada orang yang engaku kenal atau kepada orang yang belum engkau kenal (H.R.Bulhori dan Muslim).

Terkait dengan ziarah haji, ini sangat dianjurkan, dan ini merupakan tuntunan Nabi yang mesti dilestarikan, bukan dihilangkan, atau tidak dilakukan sama sekali. Yang perlu dihindari adalah sikap berlebih-lebihan, seperti merayakan Walimah al-Hajj dengan ” karaoke, dangdutan, atau tidak selaras dengan nilai-nilai islam. Namun, selama masih dalam koridor tuntunan agama, maka ini menjadi tradisi yang mesti dilestarikan. Yang perlu diingat, do’a jama’ah haji benar-benar diperhatikan oleh Allah Swt, selama niat dan pelaksanaannya tidak bercampur dengan kotoran (dosa dan noda-noda).

Wahai calon jama’ah haji, kami semua titip do’a. Jangalah berdo’a untuk kepentingan diri sendiri. Sesungguhnya, bangsa Indonesia serta rakyat juga perlu dido’akan, agar bangsa Indonesia terhindar dari musibah dan perpecahan. Pemimpin masa depan lebih baik, wakil rakyat juga tepat janji. Para pejabatnya juga tidak memikirkan perutnya sendiri.

Sesungguhnya, Allah berjanji bahwa do’a kalian (jama’ah haji dan umrah) akan dikabulkan. Dan, orang-orang yang engkau tinggalkan juga senantiasa mendo’an agar semua pelaksanaan ibadah haji lancar. Pulang ketanah Air dengan membawa predikat Haji Mabrur.



[1] .  H.R Ibnu Majah, No: 3004 (Bab Fadlu Duau al-Hajj).

[2] . Al-Zuhaili, Wahbah Dr. Prof, 1997. Fiqhu al-Islam wa Adillatuh, (Darul Fikr al-Muasir-Beirut-Lubnan). hlm 3/2068.

[3] . al-Fikhi al-Wadih dari Kitab al-Sunnah, 1/673


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook