Posted by Abdul Adzim Irsad On April - 23 - 2012 1 Comment

TesmedisBagi kalangan medis ketika mengartikan ‘’istitohah/ sanggup (Ali Imran (3:97)’’ ternyata terkait erat dengan kemampun fisik. Ini sangat realisti, sebab seseorang tidak akan sanggub melakukan perjalanan jauh, dari Indonesia menuju kota suci Makkah, ketika kondisi fisiknya lemah. Sangat tepat jika kemudian kesehatan menjadi persyaratan istito’ah ibadah haji, sebagaimana yang dikemukakan oleh Umar Fahmi Ahmadit ” sanggup’’ termasuk kondisi kesehatan dapat diartikan sebagai pre-requiste sebuah perjalanan haji, atau merupakan bagian ‘’istito’ah’’ perjalanan ke Baitullah’’.[1]

Menurut UU Pokok Kesehatan No.9 tahun 1960, Bab I Pasal 2, kesehatanmeliputi jasmani, rohani (mental), dan sosial, bukansemata-mata keadaan bebas penyakit, cacat, dan kelemahan.Pengertian sehat menurut WHO adalah terbebas darisegala jenis penyakit, baik fisik, psikis (jiwa) atau emosional, intelektual, dansocial. Relevansi QS Ali Imran (3:97) seputar syarat ‘’sanggup’’ sangat luas. Akan tetapi, islam bukanlah agama yang kaku (saklek), tetapi sangat rasional. Oleh karena, para ulama fikih sepakat bahwa yang tidak sah menunaikan ibadah haji ialah tidak sehat ruhaninya (mental), seperti; gila, kondisi tidak sadar  (amnesia). Tidak wajib bagi orang yang sudah pikun (amnesia), gila dan tidak sadar menunaikan ibadah haji.

Kewajiban bagi setiap calon jamaah haji menjaga kesehatan fisik (jasmani), ruhani (mental), dan social.Jika sudah dalam konsisi prima, sementara finasilanya cukup, tidak ada alasan menunda ibadah haji.  Menjaga kesehatan fisik dengan cara banyak olahraga, serta istirahat yang cukup, mengkonsumsi makanan dan minuman yang sehat dan teratur. Sedangkan menjaga ruhani dengan cara memperbanyak ibadah, seperti; puasa sunnah, sholat sunnah (dhuha, tahajud, witir), bersilaturahmi, bersedekah, serta banyak berdzikir. Ibadah social, seperti; mengikuti majlis ta’lim, berdzikir berjamaah, juga akan membangun kesehatan mental dan social.

Jika semua sudah dilakukan, kewajiban bagi paramedis yang ditunjuk oleh perintah menjelaskan tugasnya dengan sebaik-baiknya dengan cara memberikan pelayanan haji secara maksimal. Kewajiban bagi setiap dokter dan para medis mendahulukan kesehatan jamaah, sebelum keberangkatan menuju Makkah, serta selama berada Makkah, Armina (Arafah,Muzdalifah, dan Mina). Jangan sampai, petugas haji yang terdiri dari dokter dan para medis sibuk dengan urusan sendiri, dan melalikan tugasnya sebagai pelayan kesehatan bagi tamu-tamu Allah Swt.

 



[1] .  BUKU : Manajemen Risiko  Kesehatan Haji (Departemen Kesehatan RI, Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan-Jakarta, 2006) hlm 26

[2] . WHO.

One Response so far.

  1. Trenton Stephanski mengatakan:

    I simply want to mention I am just beginner to blogs and truly loved you’re web blog. Most likely I’m want to bookmark your blog post . You absolutely come with fantastic posts. Thank you for sharing with us your website page.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook