Posted by Abdul Adzim Irsad On Juli - 11 - 2017 0 Comment

Abdul Adzim Irsad

Wukuf ArafahSuatu ketika, sahabat Rosulullah SAW yang bernama Amr Ibn Al-Ahs dan Kholid Ibn Walid menemui Rosulullah SAW dengan menutupi mukanya. Kedua sahabat tersebut, dulunya sosok yang paling hebat, kuat dan pemberani. Hampir setiap peperangan melawan umat islam, kedua nama tersebut selalu ikut serta di dalamnya. Khususnya Kholid Ibn Walid yang menjadi ahli strategi orang kafir Makkah.

Kemudian kedua laki-laki itu mengelurkan tangan kepada Rosulullah SAW, ingin dibait dan memeluk islam. Namun, keduanya ragu, karena merasa banyak dosa, dan merasa sering melukai dan memusui umat Islam dan Rosulullah SAW. Kemudian Kholid Ibn Walid dan Amr Ibn Ash menarik tangannya lagi. Lalu berkata kepada Rosulullah SAW “baiatlah aku, tetapi bersyarat. Kemudian Rosulullah SAW mengatakan “islam itu melebur dosa-dosa sebelumnya, haji juga melebur dosa-dosa sebelumnya”.

Kisah ini dikutip oleh Sayyid Muhammad Alawai Al-Maliki dalam kitab “Karakteristik Umat Rosulullah”. Dari kisah ini dapat disimpulkan bahwa orang yang memeluk islam itu, berarti semua dosa-dosa sebelumnya terhapus, ibarat bayi yang baru di lahirkan. Bagi orang islam, jangan khawatir, sebab ornag yang menunaikan ibadah haji yang dilakukan karena Allah SWT, dan tidak ada riya’ fasik dan perbuatan kotor, maka hajinya bisa menjadi pelebur dosa-dosa sebelumnya. Kecuali dosa besar seperti; durhaka kepada orangtua.

Dalam sebuah hadis shahirh Rosulullah SAW juga menceritakan bahwa orang yang menunaikan ibadah haji, umrah ternyata bisa melebur dosa-dosanya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : اَلْعُمْرَةُ إِلَى اَلْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا, وَالْحَجُّ اَلْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا اَلْجَنَّةَ (رواه البخاري)

Dari Abu Hurairah ra, beliau berkata bahwsanya Rosulullah SAW bersabda,” antara umrah satu ke dengan umrah lainnya adalah penebus dosa antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada pahala baginya selain surga (HR Bukhori).
Ulama pengikut madhab Al-Syafii, khususnya yang bermukim di Asia Tenggara maling demen ngamalkan hadis ini. Sebagian besar jamaah haji, ketika berada di Makkah melaksanakan umrah berkali-kali. Bahkan ada yang umrah hingga puluhan kali. Sehari bisa 3-4 kali. Mereka yakin, bahwa umrah yang dilaksanakan menjadi pelebur dosa-dosa. Berbeda dengan penduduk Arab Saudi yang mengikuti madhab Ibn Hambali, mereka lebih suka thowaf berkali-kali dari pada umrah, karena mereka berpendapat Rosulullah SAW tidak sering melaksanakan umrah.

Yang mengelitik itu orang Indonesia yang kadang melarang jamaah haji umrah berkali-kali selama di Makkah dengan alasan “bidah”. Maklumlah, orang yang perbendapat seperti ini biasanya memang kurang picnic literature, meminjam bahasa santri “kurang ngaji”. Dan yang paling ndeso lagi, sudah berpendapat bidah, tetapi kadang setahun umrah dua kali dari berangkat dari Indonesia karena memiliki travel haji dan umrah. Ketika ditanya, kenapa umrah 2-3 kali selama setahun? Dengan eteng menjawab “saya kan berangkatnya dari Indonesia”. Mendengar jawaban kayak gini, bikin tertawa tertiwi. Ya sudahlah kalu begitu.

Sebebarnya, amal ibadah yang menjadi pelebur dosa itu bukan ibadah haji dan umrah saja. Hampuir semua ibadah, baik mahdhoh maupun ghoiru mahdhoh itu jika dilakukan karena Allah SWT, akan menjadi pelebur dosa-dosa. Dengan catatan, bukan dosa besar. Dalam sebuh hadis, Rosulullah SAW mengatakan:”

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ((الصَّلَوَاتُ الخَمْسُ، وَ الْجُمْعَةُ إِلَى الجُمَعَة و وَرَمَضَانَ إلِىَ رَمَضَانَ مُكَفِرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الكَباَئِرَ (رواه مسلم)

Rosulullah SAW bersabda “shalat lima waktu, antara Jum’at satu ke Jum’at lainnya, dan antara ramadhan satu ke Ramadhan lainnya adalah penebus dosa antara kesemuanya itu selama orang tersebut menjauhi dosa-dosa besar (HR Muslim)

Kriteria Mabur itu Sederhana

Haji mabrur itu termasuk amal ibadah yang agung, siapa yang bisa melaksankanya dengan baik, maka surgalah balasanya. Bukan saja mendapat surga, dosa-dosana diampuni, dan harta yang digunakan untuk biaya menunaikan ibadah haji, baik untuk proses, maupun biaya selama di Makkah, Allah SWT akan membalsanya berlipat ganda. Dalam keterangan hadis, balasanya hingga 700 lipatan.

Rosulullah SAW mengatakan “barangsiapa melasanakan ibadah haji ikhlas karena Allah SWT tanpa mengotori dengan perbuatan keji dan fasik, maka ia kembali tanpa dosa sebagaimana waktu ia dilahirkan oleh ibunya”.
Hampir semua ibadah wajib, tanda-tanda diterimasnya itu tidak lepas dari hubungan dirinya dengan Allah SWT dan hubungan dengan masyarakat sekitarnya. Rosulullah SAW menjelaskan seputar kriterias haji mabrur “ berbagi makan (dermawan) dan ucapannya menyenangkan”. Menjaga sikap dan lisan dari hal-hal yang merugikan, atau membuat orang sakit hati. Serta suka berbagi kepada sesama.

Jadi, jika ingin melihat haji dan umrah seseorang itu mabrur (diterima) Allah SWT, maka lihatlah prilakunya sehari-hari kepada sesama, baik terkait dengan lisan, maupun perbuatan. Dalam hadis lain, Rosulullah SAW berkata “barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka katakana yang baik, atau lebih baik diam (HR Muslim).

Jika ingin melihat haji dan umrah seseorang itu mabrur, maka perhatikan kesalehan sosialnya yang meliputi perhatian terhadap tetangga, teman, kerabat yang fakir mislin dan membutuhkan. Suka berbagi makan itu ciri khas haji mabur. Tentu saja, sepulang dari haji menjadi dermawan, bukan pelit kepada orang yang membutuhkan bantuanya, baik bantuan materi maupun gagasan.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook