Posted by admin On September - 21 - 2012 1 Comment

MARAH KETIKA HAJIIbadah haji ialah ibadah yang paling lengkap dan sempurna. Pelaksanaan Ibadah haji yaitu memadukan antara harta, tenaga, fikiran serta ilmu serta mental. Oleh karena itu, mampu merupakan syarat multak wajib haji. Jika masih belum mampu, ternyata bisa menunaikan ibadah haji, maka ibadah hajinya sah. Dan, ia tidak berkewajiban lagi menunaikan ibadah haji.

Tetapi, jika sudah mampu, ternyata belum bisa menunaikan ibadah haji, tetapi bisa menunaikan ibadah umrah berkali-kali. Ketahuilah, ia tetap wajib menunaikan ibadah haji hingga ajal menjembutnya, maka ia berdosa kepada Allah Swt. Dan, bagi anaknya yang diwarisi hartanya, hendaknya segera menghajikan orangtuanya yang telah lalaui terhadap perintah Allah Swt.

Bagi yang sedang menunaikan ibadah haji, hendaknya tidak menodahi ibadah hajinya dengan beraneka ragam bentuk maksiat. Seperti; bertengkar (jidal), fasik, dan bercumburia dengan istrinya. Semua itu dilarang, karena sedang interkasi dengan Allah Swt. Larangang bercumbu bersifat sementara, sedangkan larang jidal (tengkar) dan fasik bersifat terus menerus.

Bertengkar sifatnya luas, bertengkar dengan istri, teman, atau sesama jamaah haji sangat dilarang selama haji. Nabi Saw mewanti-wanti kepada siapa saja yang sedang menunaikan ibadah haji agar supaya menata hati dan mentalnya. Tujuan utamanya ialah, agar supaya selama pelaksanaan haji di kota suci tidak ternoda dengan kata-kata kotor, serta pikiran kotor. Kotoran-kotoran yang keluar dari lisan dan pikiran itu menjadikan kualitas haji menjadi berkurang, bahkan kadang membuat hajinya tidak diterima Allah Swt.

Beberapa hadis Nabi Saw yang shahih dan populer terkait dengan pelaksanaan haji sebagai berikut:

Barang siapa yang menunaikan ibadah haji di Baitullah, ia sama sekali tidak menodahi dengan ‘’hubungan suami istri (bercumbu), dan tidak berbuat fasik (dosa-dosa kecil), maka dosa-dosanya akan keluar, ibarat anak bayi yang baru dilahirkan’’ (HR Muslim dan Bukhori).

’Antara umrah satu dengan umrah yang lain adalah penghapus dosa. Tidak balasan yang paling tepat bagi haji mabrur, kecuali surga’’ (HR Bukhori dan Muslim).

Suatu saat Nabi Saw ditanya oleh sahabat”’ amal apakah yang paling utama? Nabi Saw menjawab:’’ iman kepada Allah Swt dan utusan-Nya’’. Dikatakan lagi, lantas apa? Nabi Saw menjawab:’’ jihad dijalan Allah. Dikatakan lagi, lantas apa lagi? Nabi Saw menjawab singkat:’’haji mabrur’’ (HR Bukhori dan Muslim).

Jadi, jika ingin memperoleh haji mabrur berarti harus menata hatinya dengan baik. Bercumbu  dan bercinta melalui facebook, twiter, BBM, dengan dengan istrinya, sangat mempengaruhi kemabruran haji seseorang. Bahkan, jika dalam kondisi ihram, kemudian melakukan hubungan badan dengan istrinya sendiri, maka hajinya tidak sah. Di samping tidak sah, dikenakan denda, dan harus menyempurnakan hajinya. Pada tahun berikutnya, ia harus nyahur hutang (haji lagi). Jika bercumbu dengan istri saja dilarang, apalagi smsria, BBMria dengan mantan pacarnya, atau orang lain yang baru dikenalnya. Sungguh ini perbuatan tercela dan menodahi ibadah haji.

Menjaga lisan dari segala bentuk omongan yang tidak bermanfaat (kotor), seperti; misuh-misuh, ngumpat, ngrasani, bagian dari menyempurnakan ibadah haji. Secara khusus, Nabi Saw mengingatkan agar tidak berbuat fasik. Menjaga hati, lisan dan fikiran dari kotoran-kotoran merupakan langkah menujur kembaruran. Dengan predikat mabrur, maka ia berhak mendapat balasan surga. Artinya, secara tidak langsung Allah Swt akan memberikan balasan surga. Surga adalah symbol dari kebahagiaan, kedamaian dan ketentraman, artinya sepulang dari ibadah haji jamaah haji akan memperoleh kebahagiaan di dunia maupun di ahirat.

 

 

 

 

 

 

 

One Response so far.

  1. I just want to mention I’m newbie to blogs and actually savored you’re blog site. Almost certainly I’m want to bookmark your blog post . You absolutely come with really good articles. Thanks a lot for sharing your webpage.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook