Posted by Abdul Adzim Irsad On Juni - 1 - 2011 1 Comment

madinah, ziarah nabi, Haji dan Umrah tidak lepas dari kehidupan Nabi Saw. Jika menunaikan ibadah haji atau umrah, sudah barang tentu berziarah ke Madinah. Itulah program yang ditawarkan oleh setiap biro haji dan umrah. Pemerintah-pun dalam program hajinya juga memberikan kesempatan ”arbainan” di Madinah. Tujuannya, agar bisa sholat empatpuluh sholat berjamaah selama di Madinah.  Bisa dikatakan, seolah-olah haji dan ziaran Nabi Saw tidak bisa dipisahkan, ibadah satu paket yang bisa mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Nabi Saw pernah ditanya amal apa yang paling utama, Nabi menjawab” Iman kepada Allah dan utusan-Nya, lantas, kemudian apa? Nabi menjawab”Jihad di jalan Allah, dikatakan lagi, kemudia apa? Nabi menjawab:’’ Haji Mabrur. Tidak ada yang lebih pantas imbalan bagi haji mabrur, kecuali balasan surga.  Balasan ini sangatlah  wajar, menginggat proses menuju haji mabrur itu sangat sulit dan rumit. Di samping mempersiapkan diri lahir dan batin, hartanya harus bersih dari barang-barang haram, serta subhat. Sebab, ini akan menjadi salah satu penyebab utama kemabruran haji seseorang.

Haji seseorang belumlah sempurna kirannya, jikalau belum mengunjungi kota Nabi (Madinah). Karena Makkah dan Madinah adalah dua kota sakral umat islam (al-Haramain). Di Madinah terdapat manusia sempurna yang menjadi teladan sepanjang jaman. Dialah Nabi Muhammad Saw penutup Nabi dan utusan, yang berjanji kepada para penggikutnya akan memberrikan pertolongan (safaaat) kepada semua uamtnya. Khusus bagi penziarah (jama’ah haji), Nabi berjanji kepada mereka, dengan mengatakan:” Barang siapa berziarah ke-kuburanku, maka ia akan mendapatkan safaatku’’ (H.R Daruqutni). Dalam redaksi lainya, Nabi menuturkan:’’ Barang siapa mengunjungiku, wajib baginya memperoleh surga’’.

Hadis di atas tidak asing lagi dikalangan ualam’, dan menjadi motivasi setiap pengikut yang mencintainya. Walaupun sebagian ulama’ berpendapat dan mengatakan bahwa posisi hadis itu’’ lemah’’ atau (dhoif).  Akan tetapi ternyata hadis ini banyak redaskinya. Dan tidak salah, bahkan Nabi akan bahagia manakala umatnya senantiasa menyebut dirinya, atau mengunjungi walaupun beliau telah tiada.  Sudah sepantasnya, semua yang mengaku menjadi pengikutnya mengenal, meneladani, serta mengunujunginya, sebagai bukti atas kecintaan. Walapun hadis itu, dhoif, tetapi banyak ulama yang menuliskan tanpa ragau-ragu, dan tentunya bisa dijadikan rujukan, khususnya masalah tengtang berziarah kepada Nabi Saw, walaupun beliau sudah tiada

 

One Response so far.

  1. Ward Karapetyan mengatakan:

    I just want to tell you that I am all new to blogging and absolutely savored you’re web-site. Almost certainly I’m going to bookmark your website . You really come with very good articles. Thanks for sharing your website page.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook