Posted by admin On April - 29 - 2011 1 Comment

baitullah, thowaf, Tidak bisa dipungkiri, bahwa haji juga bisa menjadi isu politik, bahkan banyak yang mengunakan haji dan umrah untuk kepentingan politik. Diera awal berdirinya kerajaan-kerajaan islam Jawa, kita mengenal raja-raja jawa yang bergelar dengan “ sultan”.  Ternyata” sultan” ini adalah hadiah dari ulamabesar Makkah yang sekaligus menjadi Imam Masjdil Haram.

Sebut saja, sultan Ageng, Sultan Agung, Sultan Hamengkubuwono, bahkan dalam sebuah literatur sejarah, raja-raja jawa mengutus sesoerang untuk menghadap Imam Masjdil haram dengan meminta gelar yang pantas. Sang Imam Memebrikan gelar “ sultan” sekaligus memberikan bingkisan yang disebut dengan “kiswah Ka’bah” untuk dijadikan kenang-kenangan sekaligus jimat.

Dari sini, bisa terlihat bahwa haji yang dilakukan ada nuansa politis. Dijaman para sahabat, dalam se buah literatur sejarah, Baitullah pernah dibongkar secara paksa oleh “ Yusuf Hajjaj at-Taskofi “ setelah berhasil memebunuh Ibnu Jubair. Alasan yang dikemukan, Ibnu Zubair telah merubah bentuk Baitullah yang semuala berpintu satu. Dan Ibnu Zubair menjadikan dua pintu. Syeh Al-Fasi menyebutkan dalam buku nya yang berjudul “ Syifaul Ghoram bi Ahbari Baladi al-Haram’’ .

Ibnu Zubair membangun Baitullah karena keadaanya memang sangat memprihatinkan setelah terjadi kebakaran hebat,dinding baitullah terlihat rusak berat. Inisiatif merenovasi  Baitullah Ibnu Zubair disambut oleh sebagian sahabat, dan sebagian lagi menolakanya. Setelah berdiri kokoh, Yusuf al-Tsakof merobohkanya dengan alasan politik. Akan tetapi, sang Kholifah “ Marwan” merasa kecewa setelah mengetahui tujuan Yusuf al-Tsaqofi. Beliau berncana mengembalikan posisi Baitullah. Ke-inginan Sang Kholifah tidak bisa dilaksanakan setelah mendengar Imam Malik berkata:” Jangalah engkau merubah bentuk Baitullah lagi, karena akan mengurangi kewibawaan Baitullah”.

Nilai Politik dalam Ibadah haji sering terlihat jelas. Hanya saja politiknya sangat santun bersih sesuai dengan nilai-nilai luhur islam. Thowaf adalah mengelilingi Baitullah tujuh putaran, setiap orang yang memasuki Masjidilharam, disunnahkan melakukan “ Tahiyyatul Masjid”. Dalam keterangan hadis, setiap orang yang memasuki masjidil sangat dianjurkan melaksanakan sholat dua rakaat yang disebut dengan Tahiyyatal Masjid. Sedangkan tahiyyatal Masjidilhram adalah Thowaf tujuh putaran. Imam Nawawi mengatakan:’’ Imam Syafi’I dan sahaba-sahabatnya mengatakan” ketika memasuki masjid janganlah sibuk melakukan sholat tahiyyatul masjid atau yang lainnya, tetapi awalilah dengan melaksanakan thowaf[1]”, pendapat senada disampaikan oleh Ibnu Qudamah. Bagi jama’ah haji dan umrah, bagi mereka dianjurkan untuk melakukan thowaf qudum sebagai penghoramatan terhadap Baitullah.

Jika direnungi, thowaf dalam pelaksanaan haji atau umrah bernuansa politis. Ketika awal perjuangan islam, seringkali Nabi Saw melaksanakan Thowaf dengan para sahabatnya. Dalam pelaksanaan thowaf, pada putaran tiga pertama Nabi berlari-lari kecil,Ibnu Abbas seorang sahabat menjelaskan: Nabi berlari-lari kecil karena, ketika itu ada yang meng-isukan bahwa Muhammad dan pengikutnya dalam keadaan payah dan lemah. Maka orang-orang musyrik Makkah mengintip untuk menyaksikan kebenaran tersebut. Kemudian Nabi beralari-lari kecil untuk menangkal isu tersebut. Kenapa hanya tiga putaran pertama, karena setelah melakukan tiga putaran pertama, ternyata para pengintip membubarkan diri[2] .

Dalam riwayat lain,  Orang kafir Qurais Makkah melihat bawa Nabi dan pengikutnya melakukan Thowaf dengan Ihram yang menutupi pundak, melihat Nabi dan pengikunya demikian. Orang kafir menganggap bahwa Muhammad dan pengikutnya sangat lemah dan tidak berdaya. Untuk menangkal anggapan itu, akhirnya Nabi memperlihatkan pundak kanannya dan diiukti oleh sahabatnya. Apa yang lakukan Nabi, seperti lari-lari kecil, membuka pundaknya adalah show of force terhadap lawan-lawanya. Politik yang dilakukan Nabi bukanlah politik yang dimaksud oleh pakar-pakar politik diera sekarang ini. Tetapi yang lakukan Nabi Saw, suatu aktivitas ibadah yang bertujuan memperoleh kebahagiaan duniawi dan ulkhrowi.

 

 

 


[1] . al-Hariri, Husain, Mahmud, Dr. ahkamu al-Masajid fi al-Isalam,330  dar-al-Rifai-Riyad,1990

[2] . Sihab, Qurais, Muhammad’ Lentera Hati206- Mizan 1997

One Response so far.

  1. Chung Casarz says:

    I just want to say I’m very new to weblog and honestly loved this website. Very likely I’m going to bookmark your site . You certainly come with wonderful well written articles. Cheers for revealing your website page.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook