Posted by Abdul Adzim Irsad On April - 25 - 2013 0 Comment

AnggitoOleh: Anggito Abimanyu (Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah)

Setiap tahun, sekitar 220 ribu orang yang beruntung dapat menunaikan ibadah haji atas undangan Pemerintah Arab Saudi melalui kuota haji. Jumlah ini masih sangat kecil jika dibanding jamaah Indonesia yang menjalankan ibadah umrah yang setiap tahun mencapai 500 ribu orang.

Dalam setiap penyelenggaraan ibadah haji, banyak dijadikan sebagai ladang bisnis atau mencari untung. Padahal, haji adalah ibadah, sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun, bagi pihak tertentu, bisnis dalam penyelenggaraan haji merupakan kesempatan luar biasa. Saya sudah meminta seluruh jajaran Diretorat Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) untuk tidak menjadikan haji sebagai lahan bisnis.

Contohnya, kita melarang adanya pungutan pada pihak luar asrama yang membuat stan di asrama haji. Larangan itu untuk memudahkan jamaah mendapat layanan yang baik dari semua pihak. Jadi, siapa pun diizinkan masuk ke asrama selama tidak mengganggu dan dalam rangka memberikan layanan pada jamaah.

Namun, kesempatan itu justru disalahgunakan oleh beberapa pihak. Akhirnya, pengurus Asrama Haji Pondok Gede memungut biaya pendirian stan. Sebab, ada pihak yang malah mendirikan umbul-umbul perusahaannya di sana.

Harusnya, semua pihak dapat bersatu untuk melayani para tamu Allah SWT tersebut. Haji bukanlah ajang untuk mencari untung, melainkan ladang untuk beramal. Insya Allah membantu jamaah dalam berhaji adalah investasi akhirat. Misalnya, untuk memberikan layanan pada jamaah dalam berkomunikasi, seluruh operator telekomunikasi dapat bersatu. Jangan sam pai jamaah dibuat bingung karena bermacam-macam iklan telekomunikasi. Apalagi, banyak jamaah berusia lanjut.

Operator harusnya membuat satu tarif untuk jamaah yang akan ke Tanah Suci. Sekali lagi, haji itu bukan untuk ajang berbisnis, tapi ikhlas beramal. Layanan one stop service yang diterapkan oleh asrama haji harusnya dapat diikuti oleh pihak lain. Ini agar jamaah merasa nyaman selama penyelenggaraan haji. Jamaah calon haji bukanlah target untuk promosi produk. Kita menyayangkan adanya penyalahgunaan pembebasan biaya untuk ajang promosi produk-produk tertentu.

Beda dengan umrah, kita membolehkan produk-produk untuk promosi di sana. Jamaah yang tiap tahun berangkat umrah sebanyak 500 ribu orang dapat dijadikan ajang bisnis dan mencari untung. Jamaah sebanyak itu sangat potensial sebagai bisnis.

Kita menyilakan kalau umrah untuk ajang bisnis, tapi jangan pada momen haji. Kalau ibadah haji kita beramal saja, amalnya pasti akan dicatat oleh Allah. Kalau momen umrah, silakan berlomba-lomba mencari untung.

Saya kira, itu juga lebih menguntungkan jika menjadikan umrah sebagai ladang bisnis dibanding haji. Selain penyelenggaraannya lebih dari sekali, jamaahnya lebih banyak. Kita semua sebaiknya memberi kemudahan pada jamaah untuk berhaji agar mereka khusyuk dalam menjalan kan ibadah di Tanah (http://www.jurnalhaji.com/berita/haji-bukan-ajang-cari-untung/)

.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook