Posted by Abdul Adzim Irsad On Mei - 7 - 2012 3 Comments

Makkah1 Jumlah antrean haji semakin hari semakin panjang. Di sebagian daerah, antrean haji reguler sudah memasuki tahun 2021. Sementara haji plus (khusus) antreannya sudah memasuki tahun 2015-2016.  Bagi calon jamaah haji, semakin menunda haji, akan semakin panjang dan lama menanti. Begitulah yang terjadi saat ini. Oleh karena itu janganlah menunda, karena menunda sama dengan memperpanjang diri antrean haji.

Bagi yang sudah haji, hendaknya harus legowo tidak ngotot pergi haji lagi. Berikan kesempatan kepada rekan-rekan yang lain yang belum pernah haji. Apalagi harus nyogok (menyuap) dengan menambah uang agar supaya bisa berangkat haji. Sesungguhnya, menunaikan ibadah haji itu hanya wajib bagi yang telah cukup mampu seumur hidup bagi setiap mukallaf. Artinya setiap Muslim yang sudah mencapai usia akil balig. Jika sudah memenuhi syarat, kemudian enggan menunaikan ibadah haji, maka ini yang disebut dengan ‘’menutup diri’’ menuju jalan menuju surga ilahi.

Memberikan kesempatan kepada orang lain jauh lebih mulya dari haji sendiri. Akan lebih mulya lagi jika harta tersebut diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan, seperti; fakir miskin, janda-janda tua, yatim piatu, untuk pembangunan masjid. Yang tidak kalah penting ialah, memberikan harta tersebut kepada anak-anak yang sedang menempuh pendidikan. Seseungguhnya, memberikan harta tersebut kepada orang yang sedang belajar sama dengan infestasi ahirat.

Perlu diketahui bahwa haji yang kedua itu disebut ibadah haji tathawwu’ (sunah). Sunnah itu artinya, mendapatkan pahala jika dilakukan dan tidak apa-apa bagi ditianggalkan. Dalam kontek  ini, mengentaskan kemiskinan (sedekah) hukumnya wajib. Jadi, jika di itung-itung, pahala orang mengentaskan kemiskinan dan membantu pendidikan anak miskin pahalanya jauh lebih besar dibandingkan dengan haji tathawwu’ (sunnah).

Tidak dipungkir bahwa Ibadah haji sunnah tathawwu’ pahalanya sangat besar. Tetapi, hal ini jika dilakukan pada kondisi yang tepat. Namun, jika kondisi sekarang ini sangat berbeda, sebagaimana dikemukakan oleh Syekh Yusuf Al-Qardhawi, seorang ulama mujtahid masa kini dari Mesir dalam sebuah fatwanya, jika umat yang melakukan kan ibadah haji terlalu banyak hingga mengganggu dan menyulitkan umat Islam yang melakukan ibadah haji wajib, keadaan seperti ini harus dikurangi. Salah satu cara yang paling tepat ialah, membatasi mereka yang telah berulang-ulang menunaikan ibadah haji.

Bukankah Nabi telah bersabda, “Barangsiapa di waktu pagi berniat untuk membela orang yang teraniaya dan memenuhi kebutuhan seorang Muslim, baginya memperoleh ganjaran seperti ganjaran haji yang mabrur. Ada juga pahalanya yang serupa yaitu sholat fajar, kemudian dilanjutkan sholat subuh berjamaah dan ditambah dengan berdzikir hingga menjelang sholat dhuha, pahalanya bagaikana haji dan umrah.

 

3 Responses so far.

  1. ahmad samidi mengatakan:

    Pak Abdul Adzim, saya baca artikel penjenengan, nuwun sewu saya sedang belajar, anda telah mengilhami saya untuk menulis apa saja & buka situs saya komentari, makasih

    • admin mengatakan:

      Trima kasih. Memang seharuusnya begitu. Setiap ada sesuatu di dalam benak kita, hendaknya ditulis, sehingga akan menjadi ilmu atau pengetahuan yang bermanfaat bagi kita dan orang lain. Sukses selalu…

  2. Williams Vicknair mengatakan:

    I simply want to mention I am very new to blogging and really savored you’re web site. Likely I’m planning to bookmark your website . You amazingly come with terrific posts. Regards for sharing with us your web site.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook