Posted by Abdul Adzim Irsad On Maret - 28 - 2012 1 Comment

haji indonesiaSuatu ketika datang kepada Nabi Saw seorang laki-laki meminta wasiat langsung kepada Nabi Saw seputar rahasia menahan emosi. Beliau-pun Saw langsung memberikan jawaban singkat nan sederhana:’’ jangan marah….jangan marah…. !Nabi Saw menyampaikan ini berulang-ulang kepada laki-laki tersebut. Sudah menjadi kebiasaan beliau, jika menyampaikan sesuatu yang amat penting, Nabi Saw selalu mengulang-ulang hinga tiga kali. Tujuan utamanya ialah, agar supaya tidak lupa, dan betapa pentingnya wasiat tersebut.

Bisa jadi, lelaki yang datang kepada Nabi Saw itu pemarah (temperamental), sehingga wasiat yang tepat kepadanya adalah ‘’jangan marah…jangan marah…jangan marah…’’. Kendalikan dirimu, jangan gampang marah, aliasa ‘’bersabarlah…! Dengan bekal kesabaran, semua urusan menjadi gampang, dan proses menuju surga lebih mudah. Sangat sulit dan rumit, sampai-sampai baginda Nabi Muhammad Saw selalu berdoa kepada Allah Swt agar supaya di jadikan hamba yang banyak sabar (Sobura) dan banyak bersyukur (Sakura). Sabar san Sukur inilah yang menjadi bekal kebahagiaan di dunia dan ahirat.

Terkait dengan urusan haji, sering kali jama’ah haji dan umrah mendapatkan perlakukan kurang nyaman dari biro perjalanan haji. Seperti; pelayanan ibadah, akomodasi, tranportasi, bahkan hingga urusan kesehatan kurang mendapatkan perhatian. Ma’lumlah, tidak ada biro perjalanan ibadah haji yang murni pelayanan ibadah. Tetapi, akan sangat istimewa jika memberikan pelayanan ibadah secara maksimal sekaligus mendapatkan keuntungan materi dan uhrawi. Haji merupakan bisnis yang indah dan penuh berkah jika benar-benar sesuai dengan ajaran Nabi Saw. Jika tidak, maka di dalamnya penuh dengan penipuan dan janji-janji gombal agar supaya jamaah haji memilihnya.

Dari sekian banyak pelayanan. Transportasi dan akomodasi sering menjadi persoalan serius. Bagaimana tidak…! seorang jama’ah sering mendapatkan tempat (pemondokan) yang cukup jauh dari Masjidilharam hingga 3-7 Km. Ketika mereka complain terhadap pemerintah (penyelengara haji/Travel Haji dan Umrah). Sang penyelengara menjawab dengan nada enteng:’’ Sabar……..Sabar….Sabar…! Sebab, kita berada ditempat mulia. Tidak pantas marah-marah selama di Makkah, karena bisa mengurangi nilai ibadah haji.

Karena begitu kesalnya jamaah haji dan umrah itu yang berasal dari Malang yang bernama Kasturi nyeletuk:’’ Apa nama saya perlu dirubah menjadi’’ sabaruddin’’, biar sabar terus….! Sang istri-pun ikut juga menjawab mantap:’’ kalau begitu,,,nama saya juga saya ganti menjadi Hj, Sabariyah…! Kasturi pantas kesal, sebab biro perjalan haji selalu berjanji akan mendapatkan pelayanan hotel bintang lima selama di Makkah dan Madinah. Eeee…ternyata…..!yang didapat malah bintang tujuh (alias bikin pusing kepala…!) Jauh dari Masjid, jelek lagi…padahal Kasturi membayarnya 85 juta, bahkan masih ada tambahan-tambahan lainnya.

Terlepas dari semua itu….Sabar, sabar, dan sabar…!merupakan bekal utama ketika sedang berada di kota suci Makkah dan Madinah. Itu tiga nasihat yang sering diberikan pembimbing kepada calon jamaah haji sebelum berangkat Tanah Suci. Pada dasarnya, setiap calon jamaah haji harus punya dibekali dengan tausiah-tausiah masalah kesabaran. Sebab, seringkali ketika berada di Makkah dan Madinah mengalami berbagai persoalan yang diluar kemampuannya. Ketika menghadapi persoalan itu, calon jama’ah sudah bisa menerima apa adanya.
Kesabaran calon jamaah sudah diuji saat antre menunggu kuota haji. Ada yang harus antre 5 tahun lamanya, bahkan sampai 9 tahun. Jika tidak sabar menanti, mereka akan nekat berbuat kurang santun, yaitu ‘’mensuap’’ petugas haji di Depag agar bisa cepat berangkat haji. Ada yang mengeluarkan puluhan juta agar segera berangkat haji. Jika begini, maka hajinya disebut dengan ‘’KAJI SUAPI” berangkat haji karena menyuap petugas haji.

Selanjutnya, ketika latihan manasik juga harus rajin dan datang setiap minggu sekali. Dan, ketika sudah waktunya berangkat, ternyata di asrama haji atau bahkan saat keberangkatan juga harus berjubel dan antri. Kemacetan menuju asrama, pemeriksaan yang bertele-tele, sulitnya bertemu dengan keluarga juga menjadi pejaran berharga di dalam melatih kesabaran diri.

Pemeriksaan dokumen kadang memerlukan waktu berjam-jam hingga melelahkan. Belum persoalan bahasa yang seringkali menjadi kendala antara jama’ah dan petugas haji di Makkah. Makanan di asrama belum tentu sesuai selera, kadang malah membuat perut mual-mual sepertih hamil muda. Belum lagi, kadang barang-barang yang masih diperlukan di asrama sudah telanjur masuk dalam koper besar. Sesampai di Makkah, kadang barang-barangnya ketinggalan, sehingga harus menerima apa adanya.

Ketika sedang thowaf, sai, melontar jumrh, harus berjubel dengan jama’ah lain yang kadang baunya tidak sedap. Tapi apa boleh buat, semua harus diterima apa adanya. Lantas, jika tidak menerima kondisi seperti ini, apa mau marah…..?Hanya satu kata’’ Sabar…….sabar……sabar…! Hanya saja, jangan sampai kesabaran jama’ah itu dipergunakan oleh KBIH dan Biro Perjalanan haji untuk memperdaya mereka? Jika demikian, sungguh ini merupakan bentuk ke-dholiman nyata dan penodaan terhadap tanah suci Makkah.

One Response so far.

  1. Donald Mccleve mengatakan:

    I simply want to mention I am just very new to blogs and absolutely liked you’re page. Most likely I’m planning to bookmark your site . You amazingly have wonderful articles and reviews. Thanks a bunch for sharing your website page.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook