Posted by Abdul Adzim Irsad On November - 27 - 2016 0 Comment

Oleh :Abd Adzim

kh-maemun-zubaerGus Mus dan Mbah Maemun Al-Zubaer dua ulama kharismatik yang setia terhadap NU dan menjaga keutuhan NKRI. Keduanya pernah di buly habis-habisan dengan kata-kata yang dan menyakitkan tetapi justru orang yang menghina dimaafkan dan doakan. Ini ciri khas ulama yang berjiwa Al-Quran yang mengamalan sunnah Rosulullah SAW.


Itulah Ahlak Al-Quran, begitulah Rosulullah mengajarkan kepada para sahabat yang kemudian di wariskan kepada para ulama. Kedua ulama itu bukan saja membela Al-Quran tetapi berbudi pekerti sesuai dengan Al-Quran. Pantas, jika kemudian keduanya disebut dengan “Begawan NU“.

Rosululullah SAW hadir dengan tujuan utamanya adalah memperbaiki moral bangsa Arab yang sudah jauh dari kemanusiaan. Busana dan pitutur orang Arab kala itu sangat menyedihkan. Thowaf dengan telanjang sudah biasa dilakukan. Membunuh bayi yang baru dilahirkan sudah menjadi kebiasaan.

Saling membunuh dan berperang sudah menjadibyradisi turun temurun. Minum dan judi sudah menjadi nyanyian sehari-hari. Tidak satupun yang ditakuti, karena mereka merasa lebih kuat dan hebat dari kelompok yang ada.

Rosulullah SAW mengajari moralitas, bagaimana cara bertutur yang sopan, bagaimana berbusana yang sopan dan menutup, dan bagaimana cara bergaul dengan teman dan tetangga. Ahlak itu di atas segala-galanya.

Gus Mus dan KH Maemun menjadi pilar NU telah mencontohkan bagaimana cara membela dan membumikan Al-Quran di Nusantara. Karena tujuan utama dakwah itu merubah moralitas menjadi lebih baik.

Walaupun di benci dan buly, tidak pernah sakit hati. Bahkan tidak pernah berfikir membalasnya. Padahal santri-santrinya siap mati membelanya. Membela Ulama itu sama dengan membela Al-Quran dan membela Rosulullah SAW karena ulama itu pewaris para Nabi.

Ulama itu ciri khasnya berilmu dan memiliki rasa takut (khosyah) kepada Allah SWT. Ulama itu menjaga pitutur, sikap dan juga busana yang rapi. Rapi itu harus berbusana seperti orang Arab atau India tetapi rapi itu santun dan menutup auratnya.

Seorang ulama tidak akan berkata kasar dan kotor karena itu tidak selaras dengan budi pekerti Rosulullah SAW. Ketika ada orang yang berkata kasar dan kotor, mudah mengkafirkan, maka itu tidak pantas menyandang sebagai seorang ulama.

Semoga orang yang menghina Ulama NU diberikan hidayah sebagaimana doanya Gus Mus kepada penghinanya. Semoga tidak ada lagi kata-kata kasar. Semoga anak muda yang menghina KH Maemun juga diberikan hidayah dan ahlaknya semakin bagus, sebagaimana KH Maemun Zubaer mendoakan dan menerima orang menghina Mbah Maemun.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook