Posted by Abdul Adzim Irsad On Mei - 10 - 2016 0 Comment

NikmatSetiap orang tidak ingin hidupnya melarat dan miskin serta kekurangan. Sebaliknya, setiap orang sudah pasti hidupnya berkecukupan matehi, bahagia, dan memiliki pasangan yang cantik nan menyenangkan. Bahkan, dalam Rosulullah SAW pernah mensinyalir, yang dinamakan keluarga bahagia itu memiliki pasangan yang sholihah, rejekinya di kampungnya sendiri, putra-putrinya sholih dan sholihah, dan rumah serta kendaraannya layak.

Orang kaya itu bukan karena banyak hartanya, tetapi karena kaya hatinya, begitulah pesan Rosulullah SAW. Sebab, banyak sekali orang kaya raya, hartanya melimpah ruah, mobilnya bagus-bagus, memiliki kebun-kebun, bahkan memiliki pasangan yang rupawan. Ternyata, tidak bahagia. Bahkan, justru bercerai, dengan alasan tidak harmonis. Yang demikian ii, karena dia selalu merasa kurang dan selalu kurang. Sehingga, tidak pernah mendapatkan kepuasan dalam hidupnya.

Sebaliknya, banyak sekali keluarga yang serba kekuarangan dari segi materi, bahkan anaknya banyak, rumahnya kecil dan sempit. Kendaraanya bahkan jauh dari layak. Ternyata, justru terlihat bahagia. Suami istri saling melengkapi kekuranganya masing-masing, putra-putrinya taat dan menurut. Keluarga itu benar-benar merasakat hanyanya sebuah cinta, dan merasakan hakekat kebahagiaan yang sebenarnya.

Baik miskim maupun kaya, jika memiliki sifat qonaah, sudah pasti akan melahirkan ketenangan dan ketentraman lahir maupun batin. Orang kaya yang qonaah, pasti mengerti bahwa apa yang miliki merupakan anugerah dari Allah SWT yang harus diberikan kepada orang-orang fakir dan miski. Orang miskin dan fakir yang qonaah, pasti dia meyakini bahwa rejeki itu telah di atur, dan tidak mungkin tertukar dengan rejekinya orang lain. Hakekatnya semua milik Allah SWT, manusia tidak memiliki hak untuk menguasainya.

Hakekat Qonaah.

Dari segi bahasa, qonaah berarti menerima apa adanya (puas). Istilah orang jawa “nriman” atau nrimo ing pandom. Sedangkan makna secar luas, qonaah itu berarti merasa cukup atas apa yang telah dikaruniakan Allah SWT, sehingga mampu menjauhkan diri dari sifat tamak (merasa kurang/rakus) dari sesama.  Apapun yang Allah SAW karuniakan, merupakan nikmat yang begitu agung dan tak terhingga dan wajib disyukurinya.

Orang yang berikan hidup apa adanya, tidak pernah berkeluh kesah dengan kondisinya. Tetapi, dia juga tidak pernah berputus asa dalam berusaha. Karena usaha itu merupakan kewajiban dari Allah SWT, sementara hasil itu merupakan ketentuan dari Allah SWT. Setiap usaha yang dilandasi niat karena Allah SWT, maka orang yang qonaah tidak pernah mengeluh karena mendapatkan hasil sedikit, atau tidak sesuai dengan kerjaanya.

Sesungguhnya hakekat orang kaya itu bukan karena banyak duitnya (harta), tetapi jiwanya yang kokoh dan teguh menerima ketentuan Allah SWT. Ada tiga kriteria orang yang dikatakan bahagia oleh Rosulullah SAW sebagaimana hadisnya “Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi).

Jadi, orang yang qonaah itu termasuk orang kaya. Karena tidak ada seikitpun rasa tamak (mengharap) kepada sesama. Orang qonaah itu memiliki keyakinan, bahwa rejeki itu tidak akan tertukar dengan orang lain. Orang qonaah itu yakin bahwa dirinya merasa tentram dan damai, walaupun dalam kondisi kekurangan dan keterbatasan. Tetapi, orang qonaah itu tidak pernah berhenti di dalam usaha dan bekerja untuk meraih rejeki Allah SWT.

Orang yang memiliki sifat qonaah, maka dia akan memperoleh kebahagiaan. Adapapun ciri-ciri orang yang memiliki sifat qonaah adalah sebagai berikut:

  1. Hidupnya merasa lebih tenang dan tentram karena yakin bahwa rejeki dari Allah SWT dan sudah ditentukan.
  2. Menumbuhkan sikap optimis dalam setiap usaha, karena tidak pernah merasa dikejar-kejar oleh hasil, tetapi tetapi semangat di dalam berusaha dan bekerja.
  3. Tidak mudah berputus asa dalam usaha, karena apa-pun bentuk usahanya, Allah SWT sudah mengerti hasilnya.
  4. Mampu menjauhkan dari sikap iri, dengki, dan tamak (rakus), karena dia hanya berharap dan tawakkal kepada Allah SWT.
  5. Selalu bersyukur kepada Allah atas segala karunia-Nya. Dengan rasa syukur inilah, kemudian orang yang qonaah tidak pernah merasa jauh dari Allah SWT.

Cara Melahirkan Sifat Qonaah.

Tidak semua orang memiliki sifat qonaah, apalagi di era capitalisasi ini. Semua orang berlomba-lomba mengumpulkan harta sebanyak-banyak, sehingga kadang lupa bahwa harta yang dikumpulkan itu ternyata memperbudak dirinya. Ada juga orang yang kadang meras bahwa seolah-olah harta itu bisa menjadikan dirinya abadi. Tidak jarang orang yang mencari harta dengan cara yang tidak benar (bathil), seperti; korupsi, mencuri, walaupun dia bahwa itu semua merugikan orang lain, bahwa merugikan Negara. Dia kadang menyadari harta yang dimiliki sangatlah banyak jumlahnya, rumah mewah, mobil mewah, tetapi karena serakah (tama’), maka dia tidak akan meras puas dengan apa yang dimilikinya.

Qonaah bukan berarti harus hidup miskin. Qonaah itu merupakan sifat “puas dengan apa yang Allah SWT anugerahkan kepadaya”. Bisa jadi, orang qonaah itu kaya raya, tetapi dia tidak serakah. Karena dia tahu, bahwa setiap harta yang dimilikinya kelak akan dimintai pertanggung jawaban dihadapan Allah SWT. Maka dari itulah, hartanya tidak diletakkan dihati, tetapi di tangan, sehingga menjadikan dirinya orang yang dermawan.

Kefaqiran itu seringkali mendekatkan diri pada kekufuran. Indonesia termasuk salah satu Negara yang banyak orang fakirnya. Sehingga seringkali orang fakir mengeluh,merasa tidak digubris oleh Allah SWT. Padahal kefakiran itu kadang bentuk perhatian Allah SWT agar selalu menginta-Nya, stiap saat dan waktu.

Sebaliknya, orang-orang kaya di Negeri itu, juga termasuk orang yang benar-benar fakir (melarat). Terbukti, mereka masih banyak yang korupsi. Lupa diri, bahwa harta yang dikorup merupakan keringatnya rakyat sendiri.

Kiat Memupuk Sifat Qonaah.

Qonaah itu akan muncul dan kuat melekat pada setiap pribadi orang yang beriman kepada Allah SWT. Rosulullah SAW pernah menyampaikan “ lihat orang yang lebih rendah dari kalian (bawah), jangalah kalian melihat orang yang lebih tinggi (kaya). Maka yang demikian lebih pantas bagi kalian agar tidak meremehkan terhadap nikmat Allah yang telah dianugerhkan kepada kalian (H Tirmidzi).

Keterangan hadis di atas menjari kepada umat Rosulullah SAW agar supaya bersikap qonaah. Dengan melihat orang yang lebih miskin (bawah), maka akan melahirkan sikap qonaah. Sementara jika melihat orang yang lebih atas akan melahirkan watak tamak (serakah). Karena orang tersbut akan terus mengejarnya, sehingga ahirnya menghalalkan segala cara karena rasa hasud (iri). Dan itulah yang dibenci oleh Rosulullah SAW.

Orang yang benar-benar qonaah itu merasa yakin bahwa rejekinya tidak akan tertukar. Setiap orang yang terlahir, kecuali telah ditentukan rejekinya oleh Allah SWT, sejak dalam kandungan. Rosulullah SAW bersabda”Kemudian Allah SWT mengutus kepadanya (janin) seorang malaikat lalu diperintahkan menulis empat kalimat (ketetapan), maka ditulislah rizkinya, ajalnya, amalnya, celaka dan bahagianya.” (HR. Muslim). Dengan keyakinan itu, orang yang qonaah, tidak akan merasa tamak (serakah).

Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman yang artinya “Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, Maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah, maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS Fathir (35:2). Tidak satu-pun yang akan mampu menghalangi rejeki jika Allah SWT telah menentukan, jumlah, waktu dan tempatnya.

Bukan hanya manusia, semua mahluk Allah SWT, baik yang dibumi maupun dilautan, udara, semua mendapatkan rejeki dari Allah SWT. Jadi, tidak perlu menghawatikan. Allah SWT berfirman yang artinya “dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya]. semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh) (QS Huud (11:6).

Rosulullah SAW Mahluk Paling Qonaah.

Rasulullah SAW itu manusia biasa, seperti manusia pada umumnya. Tetapi, Rosulullah SAW tidak seperti manusia pada umumnya, karena Rosulullah SAW sebagai utusan Allah SWT dan kekasih-Nya, yang sudap pasti memiliki ke-istimewaan yang tidak sama dengan manusia pada umumanya. Budi pekerti Rosulullah SAW itu adalah Al-Quran, dan semua yang dilakukan Rosulullah SAW merupakan implementasi dari wahyu Allah SWT, bukan hawa nafsunya.

Rosulullah SAW orang yang paling zuhud, juga paling paling qana’ah. Rosulullah SAW tidak pernah berkeluh kesah, beliau SAW selalu ridha dengan apa. Kendati demikian, Rosulullah SAW mengajari kepada umatnya agar senantiasa berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT dalam urusan rejeki. Bahkan, Rosulullah SAW termasuk seorang pengusaha yang sukses. Dengan demikian, masa muda Rosulullah termasuk orang yang semangat dalam bekerja untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Dalam sebuah doa, Rosulullah SAW mengatakan “Ya Allah berikan Aku sifat qana’ah terhadap apa yang telah engkau rizkikan kepadaku, berkahilah pemberian itu dan gantilah segala yang luput (hilang) dariku dengan yang lebih baik.” (HR. Al-Hakim).

Dengan adanya doa ini, Rosulullah SAW telah memberikan contoh nyata, bagaimana beliau berusaha (ihtiyar), berdoa memohon kepada Allah SWT, kemudian selanjutnya tawakkal kepada Allah SWT. Tidak lupa, Rosulullah SAW kemudian menerima apa yang telah Allah SWT tentukan kepadanya (qonaah).

 


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook