Posted by Abdul Adzim Irsad On Juni - 2 - 2012 3 Comments

Aura Do'aDo’a adalah ibadah yang teramat agung, do’a juga menjadi senjata pamungkas orang mukmin. Do’a tidak tidak boleh dipanjatkan kecuali kepada Allah Swt. Hakikat doa adalah menunjukkan ketergantungan seorang hamba kepada penciptanya Allah Swt. Karena manusia tidak bisa terlepas dari-Nya. Semua yang dilakukan manusia pada hakekatnya adalah di bawah kekuasanya yang mutlak tanpa batas, ruang dan waktu. Justru akan dianggab sombong, jika tidak berdo’a kepada Allah Swt. Namun, tidak sopan jika banyak meminta duniawi kepada Allah Swt, sementara jarang menjalankan perintah-Nya.

 

 Do’a juga merupakan tanda pengabdian diri secara totalitas kepada Allah Swt, oleh karena itu di dalam redaksi (doa), sebagaimana di dalam hadis, dan do’a para ulama’, sering kali kita temukan :”Allahumma, Ilahi, Ya Robbi, ). Yang artinya suatu permohonan dari seorang hamba kepada sang pencipta. Dengan banyak do’a dan bermunajat kepada-Nya setiap saat dan waktu, akan menjadi bukti bahwa manusia telah mengakui a atas ketidak berdayaan dan kelemahan. Dan hanyalah kepada Allah semata meminta dan memohon pertolongan, baik urusan dunia maupun ahirat.

 

Allah Swt memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya agar supaya berdo’a (meminta).Allah Swt suka dipuji, karena dialah yang berhak dengan pujian. Nama-nama Allah yang yang terhimpun di dalam asmaul al-Husna, diperbolehkan untuk dijadikan do’a sebagaimana perintah-Nya, sebagaimana keterangan QS Al-A’raf (7:180) yang artinya:’’hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya. Misalnya:’’ Ya Fattah…Ya Rozzak.(dzat pembuka dan pemberi rejeki), mudahkanlah dan bukalah rejeki kami.

Nabi Muhammad Saw adalah Nabi Saw yang mengakui akan ketidak berdayaan dirinya sebagai seorang manusia biasa. Beliau sering meneteskan air mata ketika menyebut keagungan nama-Nya. Apalagi, ketika mendo’akan umatnya, Nabi Saw selalu berlinang air mata, memohon kepada Allah Swt, agar supaya umatnya diselamatkan kelak. Di dalam sebuah keterangan hadis, Rasulullah Saw menuturkan: ”Doa itu adalah pokonya ibadah.’’ (HR. Tirmidzi).

Manakala bermunajat, berdo’a kepada Allah Swt, tangan Nabi Saw diangkat tinggi sebagai bukti bahwa beliau sangat butuh pertolongan Allah Swt. Di samping itu, Nabi Saw juga berdo’a dengan khusu’, serta ilha’ (sungguh-sungguh), membuktikan bahwa beliau Saw sangat membutuhkan. Ini merupakan bagian dari etika berdoa dan bermunajat kepada Allah Swt. Jangan sampai berdo’a sekedarnya, tetapi buktikan kepada Allah Swt bahwa dirinya benar-benar membutuhkan.

 

Beliau sangat menyukai kalimat-kalimat yang ringkas namun sarat dengan makna dan juga menyukai ucapan-ucapan doa.  Di antara doa Rasulullah Saw adalah: ”Ya Allah, tolonglah daku dalam menjalankan agama yang merupakan pelindung segala urusanku. Elokkanlah urusan duniaku yang merupakan tempat aku mencari kehidupan. Elokkanlah urusan akhiratku yang merupakan tempat aku kembali. Jadikanlah kehidupanku ini sebagai tambahan segala kebaikan bagiku dan jadikanlah kematianku sebagai ketenangan bagiku dari segala kejahatan. (HR. Muslim).

Di antara doa beliau adalah: ”Ya Allah, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Ya Rabb Pencipta langit dan bumi, Rabb segala sesuatu dan yang merajainya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, kejahatan setan dan bala tentaranya, atau aku melakukan kejahatan terhadap diriku atau yang aku tujukan kepada seorang muslim lain.’’ (HR. Abu Daud).

Demikian pula doa berikut ini: ‘’Ya Allah, cukupilah aku dengan rizki-Mu yang halal (supaya aku terhindar) dari yang haram, per-kayalah aku dengan karunia-Mu (supaya aku tidak meminta) kepada selain-Mu.” (HR. At-Tirmidzi)

Di antara permohonan beliau Saw kepada Allah Swt: “Ya Allah, ampunilah dosaku, curahkanlah rahmat-Mu kepadaku dan temukanlah aku dengan teman yang tinggi derajatnya. (Muttafaq ‘alaih).

Sebenarnya, tanpa berdo’a Nabi Saw sudah bisa berbuat, karena Nabi Saw mendapat jaminan surga serta segala dosa-dosa telah di ampuni. Kenapa mesti berdo’a dan menangis memohon kepada-Nya. Nabi Saw tak henti-heti berdso’a siang dan malam, pagi dan sore, ketika sedang suka atau duka. Semua do’a yang panjatkan Nabi Saw hanyalah sebuah contoh nyata, bahwa seorang Nabi Saw saja senantiasa berdoa’a bagaimana dengan kita?

Tentunya, sebagai pengikutnya harus lebih rajin memohon kepada-Nya. Tentus saja dengan etika yang telah di ajarkan oleh Nabi Saw. Memohon kepada-Nya, sebagaimana Nabi Saw ajarkan, tidak kenal lelah dan putus asa, pada waktu luang dan sempit. Kendati demikian, Nabi Saw telah memberikan tuntunan dan panduan tentang waktu-waktu yang mustajabah, seperti; antara dua adzan, setelah rampung sholat wajib, ketika tenggah malam, menjelang berbuka puasa. Yang paling penting ialah, berdo’a kepada Allah Swt itu harus istikomah (ajek), agar supaya dikabulkan oleh Allah Swt.

Masih membincangkan tentang etika berdo’a, Ibnu Abbas ra. pernah di ajari Nabi Saw, bagaiamana berdo’a kepada Allah Swt yang maha kuasa. Ibnu Abbas menuturkan:”

 

?? ?? ???? ??? ???? ?????? ???: “??? ??? ????? ??? ???? ???? ???? ?????? ????: ?? ???? ??? ????? ?????: ???? ???? ?????? ???? ???? ???? ?????? ??? ???? ????? ????? ???? ?????? ?????? ????? (???? ???????)

‘’Diriwayatkan dari Ibn Abbas ra, beliau menuturkan:’’ suatu waktu, akuberada  dibelakang Nabi Saw, beliau mengatakan: Wahai Anak muda! Sesungguhnya aku akan mengajarimu beberapa kalimat:’’ jagalah Allah niscaya dia akan menjagamu, jagalah Allah maka engkau akan menemuka-Nya didepanmu, jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah, jika engkau memohon (berdo’a), memohonlah kepada Allah.

            Etika Nabi ketika berdo’a sangat khusu’, beliau benar-benar merasa membutuhkan pertolongan-Nya. Nabi Saw jika meminta kepada-Nya dengan cara ilhah (sungguh-sungguh). Kemudian  syaratnya yaitu menjaga Allah artinya segala perintah mesti dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Dan kemudian larangan-Nya mesti dihindari sekuat tenaga agar do’a kita tembus langit dan dikabulkan tuhan, sebagaiamana do’a Nabi Saw. Antara prilaku dan permintaan harus seimbang, jangan sampai justru bertentangan. Ketika meminta rejeki, harus banyak bekerja, dan rajin sholat dhuha, bangun ditenggah malam bermunajat kepada Allah Swt, serta rajin menabung. Jangan sampai minta rejeki banyak, hidupnya boros, malas bekerja, dan enggan sholat dhuha dan malas sholat malam.

3 Responses so far.

  1. Santo Vonruden mengatakan:

    I simply want to say I am very new to blogging and absolutely enjoyed your blog. Very likely I’m likely to bookmark your blog . You amazingly have really good stories. Thanks a lot for sharing with us your web page.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook