Posted by Abdul Adzim Irsad On Mei - 7 - 2011 2 Comments

iPod, eBook, penerbitan, sekolahSebuah perusahaan penerbit buku mengeluh, bahwa penjualan buku sekarang jauh berkurang dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Agar supaya perusaan penerbitnya tetap jalan, pemilik penerbit memeras otak untuk mencari solusinya. Ahirnya dia berusaha menerbitkan buku-buku pelajaran. Sebab, buku-buku pelajaran sekolah dank ampus sangat jelas pasarnya. Apalagi mendapat proyek dari instansi tertentu.

 

Setelah di-evaluasi, ternyata menurunnya jumlah pembeli buku karena para pembaca buku sekarang lebih melirik e-Book. Sebab, e-Book itu lebih simple dan lebih mudah. Wajar, jika banyak penerbit buku yang empot-empotan dalam rangka menghidupi dirinya sendiri. Bisa jadi, nasib penerbit sudah diambang pintu kehancuran, seiring dengan pesatnya perkembangan tehnologi informasi. Mau tidak mau, saat ini para penerbit harus belajar banyak seputar tehnologi informasi, sehingga mereka tergilas oleh kemajuan tehnologi yang tidak mungkin dikendalikan.

Banyak kejadian menarik diberbagai Negara Eropa, seperti; Inggris, sebagian murid-murid datang ke-sekolah tidak membawa buku. Mereka justru membawa iPod, telpon genggam (HP). Mereka ber-asumsi bahwa alat ini bisa menjadi alat untuk merekam semua informasi yang disampaikan oleh gurunya. Dan, alat ini juga bisa digunakan untuk menulis informasi apapun yang terkait dengan mata pelajaran. Bahkan, alat itu juga bisa digunakan mencari berbagai informasi melalui google.com.

Saya menulis sebuah artikel yang bertajuk Googlelisasi Ilmu dan Inforomasi. Artikel ini ter-inpirasi dari sebuah fenomena di sebuah kampus. Ketika saya memberikan materi ujian agama, ditangan mahasiswa terdapat telpon genggam. Ternyata, melalui google.com, mereka dapat meng-akses segala informasi yang terkait dengan mata kuliah bisa didapat dengan mudah, tanpa harus belajar terlebih dahulu. Lebih ironis lagi, ketika tugas penulisan karya ilmiyah, mereka bisa dengan mudah’’ copi paste’’. Wal hasil, karya mereka tidak otentik, bahkan sebagian besar tulisannya diambil dari ‘’google.com’’.

Sejak saat itu, saya selalu menganjurkan meng-hafal, karena kemampuan intelektaul meng-hafal, tidak mungkin bisa copi paste atau digantikan dengan yang lain. Kemapuan menghafal menjadi cirri khas peneliti-peneliti, dan ilmuan-ilmuan terdahulu. Hampir bisa dipastikan, ilmuan-ilmuan islam, telah menghafal al-Qur’an sejak usia dini. Bahkan, mereka juga menghafal ribuan hadis, serta teks-teks kuno dengan lancar tanpa bantuan alat. Inilah yang membedakan pelajar terdahlu dengan pelajar modern. Pelajar terdahulu benar-benar menguasai ilmu dan informasi, sedangkan sekarang pelajar sekarang tergantung dengan dunai tehnologi informasi.

Mau atau tidak, buku elektronik eBook, akan mengeser buku manual. Menurut Telegraph (17/4), angka baru yang dirilis aparil menyebutkan, eBook sudah menjadi format tunggal penjualan  di Amerika Serikat. Association Of American Publisher (AAP) mengungkapkan, data penjualan eBook pada Februari mencapai 90,3 juta dolar. Angka ini akan terus meningkat seiring dengan kecanggihan tehnologi informasi yang semakin maju pesat. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, kondisi seperti ini akan terus berjalan seiring dengan kemajuan tehnologi, yang kemudian akan masuk kenegara-negara Asia, termasuk Indonesia.

2 Responses so far.

  1. arif mengatakan:

    mungkin beberapa tahun kedepan penerbit buku sudah sangat jarang kita dapati di negeri ini.

  2. Chance Gapinski mengatakan:

    I simply want to say I am beginner to blogging and absolutely enjoyed you’re website. Likely I’m likely to bookmark your site . You definitely have terrific stories. Thanks for sharing your blog site.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook