Posted by Abdul Adzim Irsad On Agustus - 10 - 2013 0 Comment

Seorang pedagang cabe di pasar Gadang (Malang) mengungkapkan kepada ayahandanya tentang keinginan untuk menunaikan ibadah haji. Sebagai keturunan orang Madura, haji bagi dia merupakan ibadah yang amat sacral. Jika diberikan rejeki, kemudian ditawarkan dua pilihan kepadanya, apa yang harus didahulukan antara membeli rumah dengan menunaikan ibadah haji. Ia pasti akan menjawab serentak:’’lebih baik menunaikan ibadah haji terdahulu, dari pada membeli rumah’’. Begitulah profil masyarakat muslim Madura terhadap Ibadah haji.

Pintu Ka'bahBerbeda dengan orang Jawa pada umumnya, jika memiliki rejeki, mereka lebih mementingkan urusan dunia dari pada harus haji terlebih dahulu. Tidak aneh, jika ada yang menawari berangkat haji, sementara ia masih dalam tahap belajar (kuliah), jutru memilih belajar dahulu. Dan, menganggab haji kurang begitu penting, padahal kesempatan belajar masih bisa ditunda, sedangkan haji bersifat wajib. Tetapi, begitu profil orang yang mengedepankan urusan dirinya.

Sebuah perusahaan Tunas Abadi, yang bergerak di bidang computer yang terletak di jalan Surabaya-Malang, milik Pak Arnold memiliki program haji bagi karyawan-karyawanya. Setiap tahun setiap karyawan yang bekerja diperusahaan mendapatkan jatah naik haji. Ternyata, sebagian karyawan justru memilih tidak haji. Justru ingin diambil uangnya. Untung saja, Pak Arnold tegas, dan menolak. Jatah haji tidak boleh diuangkan, atau dibuat membeli rumah. Mau tidak mau, karyawan itu harus menunaikan ibadah haji, walaupun agak sedikit terpaksa.

Dalam guyonan yang sering dilontarkan oleh para penceramah Jawa timuran. Ibadah haji bagi orang Madura menjadi rukun islam yang pertama, sedangkan sholat dan zakat nomer berikutnya. Perhatian mereka terhadap rukun islam yang ke-lima ini benar-benar special. Walaupun sholatnya belum sempurna, dan masih suka maksiat. Yang penting sudah menunaikan ibadah haji. Sepulang dari Makkah sudah mengenakan peci putih, dan dipanggil Pak Haji.

Tidak aneh, jika peringkat antrean haji asal Jawa Timur, seperti; kota garam Madura termasuk peringkat tertinggi. Hampir semua orang muslim Madura berkeyakinan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan pasti akan dilipatgandakan. Dan, realitas dilapangan telah membuktikanya. Nabi Saw sendiri juga menegaskan bahwa setiap dirham yang dikeluarkan akan dibalas dengan berlipat ganda.

KH Kholil Bangkalan, KH Hamid Pasuruan, kedua Kyai yang lama nyantri di tanah suci memiliki perhatian khusus terhadap ibadah. Setiap orang yang bertamu, selalu di do’akan agar supaya bisa menunaikan ibadah haji. Tidak hanya do’a, KH Hamid Pasuruan bisanya juga memberikan sangu (uang), walaupun jumlahnya tidak banyak. Uang itu ternyata menjadi motifasi sendiri bagi setiap orang yang menerima pemberian uang tersebut. Uang dan do’a  itu menjadi motifasi tersendiri. Membuat sang tamu semakin rajin bekerja dan berdoa untuk mewujudkan impiannya menunaikan ibadah haji.

Begitu juga dengan KH Kholil Bangkalan yang mendokan setiap tamu yang datang agar bisa diberikan kesempatan menunaikan ibadah haji. Suatu ketika KH Kholil kedatangan seorang tamu. Kondisi tamunya cukup miskin, datang dengan wajah penuh  masalah. Terlihat dari raut muka lelaki itu menyimpan masalah dan beban ekonomi yang cukup berat, namun lelaki itu terlihat rajin dan tekun beribadah dan tidak banyak membantah. Ketika memasuki kediaman KH Kholil, dan belum lagi mengeluarkan kata-kata. Tiba-tiba, KH Kholil melontarkan pertanyaan kepada lelaki itu:’’ Cong….tahun depan naik haji ya….!

Tanpa berfikir panjang, lelaki itu menjawab:’’ iya..iya…iya….sambil kepalanya mangut-mangut…!

            Rupanya, lelaki itu tahu betul bahwa pertanyaan yang dilontarkan kepada dirinya itu merupakan sebuah isarat do’a yang mustajab. Sebab, yang bertanya bukanlah orang sembarangan, tetapi seorang ulama yang bertahun-tahun bermukin dan memperdalam ilmu di tanah suci Makkah dan Madinah. Ilmu dan kedalamam spiritual KH Kholil Bangkan sulit diukur. Sang tamu itu itu juga tahu peris bahwa jawaban: ‘’iya…dan mangut-mangutnya ‘’bermakna ‘’Amiiin’’ yang artinya semoga Allah Swt mengambulkan. Setelah menjawab Iya….berkali-kali sambil mangut-mangut, lelaki itu berpamitan pulang.

Pada hari berikutnya, datanglah seorang lelaki dengan wajah cerah dan ganteng, penampilan menarik dan kelihatan orang berada. Sudah bisa, setiap orang yangd datang ke kedikediaman KH Kholil Bangkalan selalu di do’akan. Tiba-tiba, KH Kholil melontarkan pertanyaan kepadanya:’’ Cong…..tahun depan naik haji ya….? Lelaki itu menjawab:’’ Anu Pak Kyai…..saya ini masih sibuk..

Berbagai alasan dikemukakan, karena merasa dirinya belum mampu dan belum siap. Rupaya lelaki ini tidak mampu menangkap bahwa pertanyaan yang dilontarkan kepada dirinya merupakan do’a. Jika dibandingkan dengan lelaki yang pertama, keberadaannya jauh lebih baik.

Seiring dengan perjalanan waktu, ternyata dua lelaki yang pernah datang kepada KH Kholil Bangkalan itu memiliki nasib yang berbeda. Orang miskin dan lemah justru bisa menunaikan ibadah haji berkali-kali, sesuai dengan jumlah mangut-mangutnya. Karena telah meng-amini doa dan pertanyaan KH Kholil. Sedangkan lelaki yang banyak hartanya justru tidak bisa menunaikan ibadah haji hingga ahir hayatnya. Karena hakekat dari pernyataan tentang dirinya masih repot dan banyak pekerjaan atas pertanyaan KH Kholil Bangkalan, berarti telah menutup kesempatannya yang diberikan kepadanya. Wajar, jika Nabi Saw pernah mengatakan:’’ dua kenikmatan yang tersembuyi (banyak terlupa), sehat dan sempat’’.

Secara khusus, Nabi Muhammad Saw telah menjelaskan seputar makna (amiin)‘’????  “. Nabi Saw menuturkan:’’tidak pernah hasud seorang Yahudi kepada orang mukmin sebagaimana hasud mereka terhadap salam (menyapa) atau al-Ta’min (amin)’’ (HR Ibn Majah). Ibnu Juhair mengatakan:’’ amin itu ibarat stempel dalam surat’’. Jadi, siapapun orang yang mendo’akan kebaikan hendaknya di amini, dengan harapan dikabulkan oleh Allah Swt, termasuk orang yang mendo’akan menunaikan ibadah haji.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook