Posted by Abdul Adzim Irsad On Agustus - 11 - 2012 1 Comment

Setiap tahun Arab Saudi selalu mengevaluasi kota suci Makkah. Tujuan utamanya ialah, agar supaya Makkah bisa menjadi lebih nyaman bagi setiap jamaah haji dan umrah yang mengunjungi. Oleh karena itu, semua fasilitas terkait dengan pelaksanaan ibadah haji terus diperbaiki. Mulai, hotel (pemondokan), tempat thowaf, sai, Mina, Arafah. Jadi, setiap tahun wajah Makkah selalu berubah dan berbenah. Bahkan, ada yang mengatakan kalau Makkah bagaikan Las Vegas di Amerka.

 MAKKAH SEKARANG

Masjidil Haram di masa mendatang akan semakin megah dan mewah. Setiap orang yang datang akan terkesima dengan keindahnya. Baitullah tidak lagi terbuka lagi, karena setiap saat akan tertutup secara otomastis. Tempat parkir tertata dengan rapi. Toiltet dan tranportasi tersedia dengan teratur. Mall-mall menyedikan barang-barang mewah (impor) dari berbagai penjuru dunia. Itu semua disediakan untuk jama’ah haji atau umrah dengan tujuan memudahkan setiap orang yang datang.

Para pedagang (pengusaha) semakin sibuk dengan bisnisnya. Para ilmuwan semakin rajin belajar di halaqoh-halaqoh yang ada. Para wisatawan semakin asyik menikmati indahnya Makkah. Agamawan juga semakin khusyu’ dan nikmat dalam melaksanakan ibadah di Masjid. Makkah menjadi pusat Ibadah, bisnis, wisata hati (plesiran ruhani), sekaligus pusat ilmu pengetahuan agama. Begitulah prediksi ke depan seputar kondisi Makkah.

Namun, kekhawatiran muncul setiap saat. Selama tujuh tahun tinggal di kota suci Makkah, semakin hari nilai kesakralan terus berukurang. Di pingiran kota suci Makkah muncul café-cafa lesehan model Arab, dimana disediakan makanan dan minuman, serta tontonan TV. Belum lagi bangunan-banguan mewah (Qosr al-Afroh) yang berfungsi sebagai bangunan untuk merayakan pernikahan. Biasanya para pengujung (tamu) menikmati rokok Arab, yang biasa disebut syissa. Menurut mereka -ketika saya sempatkan bertanya kepada seorang pemukim yang sering ikut lesehan- rasanya seolah-oleh fly ketika sedang menghisab syissa.

Kecangihan tehnologi informasi, seperti internet atau Indivision- telah ada dimana-mana. Bahkan setiap rumah, apartemen atau hotel -bisa dipastikan- terdapat antena parabola dengan ratusan Canel TV. Keberhasilan dalam semua aspek, seperti ekonomi, tehnologi informasi (TI) dan pembangunan, dikhawatirkan bisa menghilangkan kesakralan kota suci Makkah.

Belum lagi ditambah dengan kemajemukan para penghuni kota suci Makkah. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia dengan latar belakang pendidikan, budaya serta pengetahuan agama yang berbeda. Adakalanya mereka tidak mempunyai etika terhadap kota suci Makkah, sehingga mereka melakukan apa saja tanpa menyadari bahwa “ada etika (akhlaq) tersendiri terhadap kota Makkah”. Kemewahan duniawi dikhwatirkan membuat orang lupa. Para penduduk tidak terkontrol lagi. Mereka lebih suka menghabiskan waktunya di depan TV, di Mall-Mall, atau mengisap Syissa. Di sisi lain, jama’ah haji atau umrah lebih betah di hotel mewah dengan berbagai fasilitas yang tersedia. Lebih-lebih jika mereka datang ke Makkah hanya sekedar piknik, sehingga ibadah bukan lagi menjadi tujuan utama.

Namun demikian, kekhwatiran itu mesti dubuang jauh-jauh, karena kota Makkah akan terus terjaga. Allah adalah pemilik Bitullah (robba Hadza al-Bait) yang memberi makan dari rasa lapar serta memberikan jaminan keamanan dari rasa takut (QS. Quraisy 3-4). Semoga umat Islam bisa menjaga kesarkralan (kesucian) kota suci Makkah. Karena menjaga kesakralan Makkah adalah kewajiban bagi setiap muslim dan pemerintah khodimu al-Haramain.

 

 

One Response so far.

  1. Chung Casarz mengatakan:

    I just want to say I am all new to blogging and actually liked you’re web blog. Most likely I’m planning to bookmark your site . You surely have beneficial articles and reviews. Regards for sharing your website page.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook