Posted by Abdul Adzim Irsad On Januari - 3 - 2013 0 Comment

Dzikir berarti mengingat Allah SWT, baik dalam kondisi duduk, terletang, atau dalam kondisi apapun. Dalam catatan ulamaulama klasik dzikir itu dibagi menjadi tiga bagian, yaitu dzikir dengan lisan, hati, dan perbuatan. Namun, secara umum dzikir itu yang paling dominan dengan lisan, dan banyak dilakukan oleh banyak orang adalah dzikir dengan lisan.  Sebuah dzikir bisa dikatakan sempurna, jika ketiga-tiga bisa berjalan bersama.

Dzikrullah

Nabi SAW satu-satu teladan di dalam mengamalkan dzikir kepada Allah SWT, yang meliputi lisan, hati, dan amal perbuatan. Nabi SAW tidak pernah mengajak seseorang untuk berbuat baik, kecuali beliau telah menjalankan dengan baik dan sempurna. Apa yang dilakukan Nabi SAW sesuai dengan realitas dilapangan, itulan Rosulullah SAW.

Apa yang disampaikan Rosulullah SAW tentu saja sesuai dengan ucapannya. Makanya, Nabi SAW disebut dengan ‘’Insan Al-Kamil’’ yang artinya manusia yang sempurna. Sampai-sampai beliau SAW disebut dengan Alquran yang berjalan. Semua tutur, tindakan, serta getaran hati Rosulullah SAW adalah wahyu Allah SWT. Sepanjang hidupnya, Nabi SAW tidak pernah melakukan amal perbuatan, kecuali amal itu benar dan sesuai dengan tuntunan Alquran.

Kendati demikian, kenapa dzikir lisan itu lebih menonjol dan banyak dilakukan oleh banyak orang? Sebab, ucapan yang keluar dari lisan merupakan bentuk dari sebuah pengakuan dan bukti. Oleh karena itu, orang bisa dikatakan beriman jika dia yakin dengan hati, di ucapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan perbuatan. Dalan ajaran islam sendiri, orang bisa dikatakan islam, jika sudah bershadat (pengakuan) secara lisan keberadaan Allah SWT dan mengakui Rosulullah SAW utusan Allah SWT.

Orang yang sering berdzikir biasanya mencermikan bahwa hatinya dan amal perbuatanya serirama. Ketika lisannya banyak mengingat Allah SWT, biasanya hatinya juga demikian. Walaupun ini kebenarnya tidak mutlak. Sebab, banyak juga dzikir berjamaah itu hanya sekedar ritus belaka, atau ikut-ikutan. Lihat saja, banyak orang berdzikir, tetapi tanganya sibuk dengan BlackBerry ber-BBMria, dan SMSria.

Yang terpenting disi ialah, ketika lisan sering berdzikir dan basah dengan tasbih, maka sesungguhnnya itu merupakan sebuah ungkapan dari hati yang paling dalam. Orang Arab bilang ‘’Yang terlihat itu cermin dalam hatinya’’.

Banyak orang yang mengatakan dan berpendapat seputar makna dzikir. Sebagian berpendapat bahwa makna berzikir sebagai ekspresi cinta kepada Allah SWT. Dengan banyak mengingat Allah SWT, berarti telah membuktikan diri kalai dirinya cinta kepada-Nya. Sebagai ekspresi cinta dan kerinduan kepada-Nya, selalu mengingat-Nya siang dan malam. Sebuah ungkapan menarik dari banyak ulama bahwa, tanda-tanda orang mencintai Allah SWT, yaitu banyak mengingat-Nya. Tidak berlebihan jika ulam-ulama tertentu selalu meneteskan air mata, ketiak lisanya menyebut nama Allah SWT dan juga ketika bersholwat atas Rosulullah SAW. Sebab, ketika lisan berucapa, sinyalnya langsung nyambung dengan Allah SWT dan Nabi SAW.

Sebagai contoh sederhana, ketika seorang lelaki mencintai lawan jeniasnya, sudah pasti ia akan sering-sering menyebut namanya. Bahkan, tidak ada hari tanpa sebutan namanya. Begitu juga dengan cinta kepada Allah SWT, pasti ia akan selalu menyebut-nyebut nama Allah SWT dalam hidupnya. Mulai bangun tidur, hingga mau tidur kembali lisan selalu di ajarkan untuk mengingat Allah SWT. Ketika dalam kondisi senang dan bahagia, kita juga diperintahkan mengingat Allah SWT, begitu juga ketika dalam keadaan sedih, selalu ingat kepada Allah SWT. Begitulah dzikir yang sesunggguhnya, tidak pernah membedakan antara kondisi senang maupun sedih.

Sedangkan makna yang tersirat dalam berdzikir ialah selalu mengingat Allah SWT setiap saat dan waktu. Ketika akan berangkat bekerja, jika di awali dengan mengingat Allah SWT, maka ia tidak akan melakukan korupsi atau larangan-larangan Allah SWT. Sebab, ia merasa bahwa dirinya senantiasa di pantau Allah SWT, baik ketika di kantor mapun diluar kantor.

Orang yang senantiasa berdzikir akan selalu tenang dan selalu merasa damai, karena yakin bahwa Allah SWT senantiasa bersama dirinya. Hati dan pikiranya selalu jernih, jika dizikir itu benar-benar dilaksanakan dengan baik dan sungguh-sungguh, serta istikomah. QS Al-Anfal (8:2) yang artinya:’’ Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah[595] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. QS al-Raad (13: 28) yang artinnya:’’orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Kekuatan dzikir itu tergangung pada pada kualitas orang, tempat dan waktu serta jumlah dzikirnya. Orang yang selalu menjaga perutnya dari barang-barang haram, serta menjaga lisan dari kata-kata yang tidak pantas kotor, dzikirnya akan memiliki kekuatan yang maha dasyat. Biasanya, orang-orang yang demikian sangat sedikit sekali, dan bisa dikatakan langka. Kualitas dzikir sesesorang ditentukan oleh banyaknya puasa (tirakat), bangun malam, serta makanan dan minuman yang dikonsumsi sehari-sehari, serta busana yang dikenakan.

Kekuatan dzikir akan semakin terasa nyata hasilnya jika dilakukan dengan istikomah, serta dengan bilangan yang cukup banyak. Dan, dzikir itu akan semakin tinggi nilainya, ketika dilakukan secara bersama-sama dengan jumlah banyak peserta, serta waktu-waktu mustajabah, seperti; malam jumat, serta pada hari Arafah.

 

 

 

 

 


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook