Posted by Abdul Adzim Irsad On September - 13 - 2015 0 Comment

Sebaik-baik tanah di muka bumi ini adalah “Bumi Makkah”, dan sebaik-baik tempat pemakaman  di Makkah adalah “Ma’la. Untuk itulah Allah SWT memilih Makkah sebagai tempat kelahiran Rosulullah SAW, sekaligus menjadi tempat suku terbaik yaitu suku Quraisy yang menjadi suku Rusullah SAW. Allah SWT memilih Makkah sebagai tempat turunya wahyu Ilahi (kitab suci Al-Quran) yang disampaikan lansung oleh Jibril as yang tertuju kepada Rosulullah SAW. Allah SWT juga memiluh Makkah sebagai tempat  berdirinya rumah Allah (Baitullah) dengan segala keistimewaan dan lebihannya.

Rukun islam yang ke-lima yaitu Haji, harus ditunaikan di Makkah. Itupun bagi orang islam yang sudah mampu secara finansialnya, juga fisiknya. Salah satu tujuan utamanya ialah mengabdikan diri kepada Allah SWT dengan berziarah ke Makkah untuk melaksanakan ritual ibadah haji yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim as, kemudian ditetapkan dan disyariatkan oleh Rosulullah SAW hingga sekarang sampai yang akan datang.

Ketika Nabi Muhammad lahir, bahkan sebelum kelahiran Rosulullah SAW, bangsa Arab terbiasa menyembah berhala, batu, kayu dan sejenisnya. Mereka memiliki keyakinan animisme, dinamisme, dan phalyitesme. Lisan mereka sering menyebut “Allah”, pada waktu yang sama mereka memiliki keyakinan bahwa berhala yang nyata-nyata disembah itu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Itulah yang dinamakan “syirik”, yakin adanya Allah SWT, tetapi menyembah selain Allah SWT.

MadinahKehadiran Nabi SAW di tanah suci bukan untuk menjustifikasi penduduk Makkah yang tidak ber-iman dengan kata-kata “kalian menjadi Ahli neraka” tetapi mengajak mereka untuk ber-iman kepada Allah SWT. Itulah tugas mulia seorang utusan Allah SWT. Karena tugas begitu besar dan mulia, Rosulullah-pun melakukan dakwah dengan hati-hati, santun, sopan, juga dengan tidak memaksakan kehendak. Dan yang paling menarik, Rosulullah SAW menyampaikan dakwahnya disesuaikan dengan kemampuan intelektual masyarakat Makkah. Inilah salah satu rahasia ke-suksesan dakwah seorang utusan Allah SWT.

Keluhuran budi pekerti, kedalaman ilmu, serta kecerdasan psikologi  adalah wahyu Allah SWT. Tidak satupun kalimat yang terucap, tidak satupun langkah kaki yang ditempuh, dan tidak satupun gerakan Nabi SAW dalam dakwahnya, kecuali itu dari Allah SWT. Dai yang baik itu akan terus belajar dan belajar mengikuti tata cara dakwah Rosulullah SAW. Semakin banyak mempelajari dakwah Rosulullah SAW, akan semakin terasa keterbatasan dan kekurangan seorang da’i.

Sebaliknya, jika seorang da’i merasa sukses dengan cara dan methodenya, maka sesungguhnya itu belum sukes sama sekali. Itu barus perasaannya saja. Seorang da’ itu tidak akan merasa sukses dan berhasil selama menjadi da’i. Semakin banyak belajar dan membaca dakwah Rosulullah SAW dan methodenya, akan merasa dirinya tidak ada apa-apanya, dan belum merasa berbuat apa-apa. Wajib bagi setai muslim, khususnya para da’i memahami dakwah Rosulullah SAW secara menyeluruh, agar dakwahnya bisa diterima oleh semua elemen masyarakat. Jangan sampai dakwah, tetapi justru menjadikan orang yang diajak semakin jauh dari nilai-nilai yang diajarkan Rosulullah SAW.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook