Posted by Abdul Adzim Irsad On September - 13 - 2015 0 Comment

Tahapan Dakwah Rosulullah SAW (3)

Rosulullah SAW tidak pernah takut kepada siapa-pun ketika menegakkan agama Allah SWT. Kewajiban Rosulullah SAW ialah, menyerukan kebaikan (dakwah). Nabi SAW tidak perduli, apakah ajakan (dakwahnya) diterima atau ditolak. Menyikapi kewajiban berdakwah, Allah SWT berfirman yang artinya:”Dan kewajiban Kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas” (QS. Yasin (16:17) . Ayat isarah bahwa kewajiban Rosulullah SAW hanyalah menyampaikan risalah-Nya kepada Jin dan Manusia agar mereka beriman kepada-Nya, dan tidak menyekutukan-Nya. Sedangkan yang berhak menentukan hidayah (petunjuk), adalah Allah SWT.

Setiap saat dan waktu, Nabi SAW berdakwah dan tidak kenal lelah. Siang dan malam, Rosulullah SAW mengenalkan diri kepada masyarakat Makkah bahwa dirinya adalah utusan Allah SWT. Siang dan malam, Rosulullah SAW mengajak masyarakat Makkah dengan halus dan santun (Mauidhoh Al-Hasanah). Siang dan malam Nabi SAW mendapatkan hinaan, cercaan, bahkan mendapatkan ancaman pembunuhan. Siang dan Malam, Rosulullah SAW mengajak masyarakat Makkah dan sekitarnya agar ber-iman kepada Allah SWT. Bukanya meneriman, sebagian besar dari pemimpin dan tokoh masyarakat, juga konglomerat menolaknya. Bahkan, Rosulullah SAW di anggab gila, kahin (dukun), tukang sihir.

HAJI

Semua Nabi SAW mengajak orang-orang terdekatnya dengan cara sembunyi-sembuyi. Karena Nabi SAW mengerti bahwa cara inilah yang paling tepat, efektif. Dengan modal sifat Amanah, Fathonah, Al-Sidqu, dan Tabligh Rosulullah SAW setiap hari mendapatkan kepercayaan dari masyarakat makkah. Bahkan, Muhamamd SAW mendapatkan gelar khusus dari masyarakat Makkah yang masih menyembah berhala dengan sebutan “Al-Amin” karena Muhammad SAW tidak pernah bedursta sedikitpun sepanjang pengetahuan masyarakat Makkah.

Dalam dakwah sembunyi-sembunyi itu, Rosulullah SAW berhasil meyakinkan beberapa kerabatnya, seperti; istrinya sendiri (Khodijah ra), Abu Bakar al-Siidqq, Ali Ibn Abi Thalib, Usmah Ibn Zaid. Mereka berempat termasuk orang yang pertama kali memeluk islam. Kendati demikian, Nabi SAW tetap melakukan dakwahnya dengan sembunyi-sembunyi karena pengikutnya belum terlalu banyak.

Lambat tapi pasti, setelah jumlah pengikut Rosulullah SAW semakin bertambah, Rosulullah SAW barulah melakukan dakwah terang-terangan. Tetapi, Nabi SAW tidak pernah memaksa masyarakat Makkah untuk mengikutinya. Dengan cara itulah Nabi SAW mengenalkan islam, sehongga semakin hari semakin banyak pengikutnya. Seiring dengan bertambahnya pengikut, semakin besar pula ancaman tokoh-tokoh Masyarakat Makkah, seperti; Abu Sofyan, Abu Jahal, Abu Lahab, Al-Mugirah. Semakin banyak dan besar tantangan, semakin kuat dan semangat dakwah  Rosulullah SAW.

Ada yang menarik dari dakwah Rosulullah SAW, yaitu dengan “Maidhoh Hasanah” dengan tidak memaksakan kehendak orang lain agar mengikuti agama Islam. Justru dengan cara inilah, semakin hari Rosulullah SAW semakin banyak mendapatkan simpati masyarakat Makkah. Masyarakat Makkah menyaksikan Rosulullah SAW beserta istri dan sahabat-sahabatnya yang hidup santun, sopan, ramah, bahagia, penuh dengan kedamaian. Meninggalkan minum-minuman, perzinaan, juga meninggalkan segala sesuatu yang merugikan diri dan orang lain.

Ahirnya, masyarakat Makkah mulai mengenal lebih dalam bahwa yang menyebabkan semua itu adalah tuntunan Rosulullah SAW. Ternyata, agama yang di anut oleh Muhammad itu adalah “Al-Islam”. Sejak saat itulah, setiap hari jumlah pengikut Nabi SAW semakin bertambah. Khodijah ra, sebagai seorang istri, juga tidak berpangku tangan. Siang dan malam ikut serta membantu suami, begitu juga dengan Abu Bakar ra, serta Ali Ibn Abi Thalib ra.

Yang menarik, Rosulullah SAW berdakwah itu tidak melalui kekuasaan (parlemen) yang pernah ditawarkan kepadanya oleh tokoh-tokoh dan pembesar Quraisy Makkah. Nabi SAW juga tidak pernah menggunakan dana bantuan orang lain untuk berdakwah, melainkan murni dari dana sendiri yang bersumber dari usaha dan bisnis Khodijah ra. Muhammad SAW, juga ikut serta berdagang ketika sudah menjadi suami Khodijah ra. Dengan demikian, Muhamamd SAW dan Khodijah ra, sudah sepakat, se-iya se-kata di dalam berdakawah di jalan Allah SWT menggunakan hartanya sendiri.

Tidak ada seorang wanita yang lebih besar kesetiannya, pengorbanannya, melebihi pengorbanan dan kesetiaannya Khodijah ra,  di dalam mendapingi Rosulullah SAW di dalam berdakwah. Wajar sekali jika Rosulullah SAW sangat mencintainya, dan tidak ingin menikah lagi, karena rasa cinta dan kasih terhadap Khodijah ra, tidak tergantikan oleh siapa-pun. Rosulullah SAW, baru menikah (poligami), setelah mendapatkan wahyu Ilahi, dengan tujuan memperluas dakwahnya. Bukan untuk urusan birahi semata.

Makin hari, pengikut Rosulullah SAW semaki banyak dan kuat sehingga mendapatkan pengakuan dari banyak orang. Bahkan orang-orang Quraisy Makkah yang selama ini memushui mulai mengakui dan memperhitungkan kekuatan dan Muahammad SAW. Dalam kondisi seperti ini, upaya orang-orang Quraisy Makkah semakin arogan terhadap Rosulullah SAW dan pengikutnya.

Mereka tidak segan-segan menyiksa, mengancam, dan memperlakukan tidak pantas kepada pengikut Rosulullah SAW. Sampai suatu ketika Nabi SAW memerintahkan sebagian pengikutnya ber-hijah ke Habsay (Afrika). Rupanya, raja Habasy yang bernama Nagius (Najasi) menerima dengan baik, dan memperlakukan sahabat Nabi SAW dengan baik. Bahkan, Nagasy mengakui bahwa keyakinan Muhammad SAW, sama dengan keyakinan nabinya. Pada ahirnya, ketika Nagasy wafat, Nabi SAW dan para sahabat menjadi saksi bahwa Nagasy telah memeluk islam. Terbukti, Rosulullah SAW mensholatkan ghoib jenazahnya Raja yang adil yang bernama Nagasy.

Ancaman demi ancaman terus menerus mengalir terhadap Rosulullah SAW dan pengikutnya. Rosulullah SAW, mengkhawatirkan keselamatan sahabatnya, sehingga beliau SAW memerintahkan hijrah. Perlu diketahui, tidak semua sahabat ikut serta hijrah, sebagian dari mereka tetep kekeh bermukim di Makkah. Barulah saat Rosulullah SAW hijrah ke Madinah, sebagian besar sahabat ikut serta berangkat hijrah ke kota suci Madinah.

Bahkan, seorang sahabat yang bernama Abu Dhamrah ra, yang sedang sakit, ikut serta memaksakan dirinya hijrah, sehingga beliau meninggal di tenggah perjalanan. Memang, pada waktu itu Hijrah hukumnya wajib bagi yang sudah mampu dan kuat. Kesetiaan dan kecintaan kepada Rosulullah SAW membuat Abu Dhamrah harus mengi ikut serta kemana Nabi Muhammad SAW berada.

Wafatnya Abu Dhamrah ra di perjalanan menuju Madinah, Allah SWT menurunkan wahyu kepada Rosulullah SAW yang artinya:”Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang Luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), Maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS Al-Nisa’ (4:100).

Langkah dakwah berikut yang dilakukan oleh Rosulullah SAW bersama sahabat-sahabatnya ialah mengirimkan surat ajakan kepada tokoh-tokoh penting. Surat itu ajakan (dakwah) untuk ber-iman kepada Allah SWT dan pengakuan bahwa dirinya adalah utusan Allah SWT. Namanya saja mengajak, ada yang mau, ada juga yang menolak, ada juga yang justru mengatakan kalau Muhamamd SAW seorang yang sihir, dukun dan mengada-ngada. Bagi Rosulullah SAW, semua itu sudah biasa, karena itu pernah dirasakan selama mengajak masyarakat dan tokoh dan pemimpin Quraisy Makkah.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook