Posted by Abdul Adzim Irsad On Februari - 16 - 2013 0 Comment

dakwahWali songo yang disebut oleh ulamaulama Arab dengan ‘’Sembilan Dai’’ ternyata memang hebat dan luara biasa. Kehebatannya terletak pada kesungguhan di dalam mengajarkan islam keseluruh pelosok nusantara melalui keteladanan. Kedalaman ilmu dan spritualnya membuat dakwah mereka semakin bermakna, apalagi semua dilandasi ihlas karena Allah SWT. Wali songo tidak mau dakwa melalui parlemen, tetapi bagaimana parleman atau pemerintah menjadi islami, tanpa harus menodahi hatinya.

Dakwah mereka persis dengan apa yang sampaikan di dalam Al-Quran seputar model dakwah Rosulullah SAW, yaitu ‘’Uswatun Hasanah’’. Nabi SAW juga mengunakan mauidah hasanah (pitutur yang indah).  Antara penuturan dan prilaku seirama. Apa yang sampaikan Rosulullah SAW selaras dengan tindakannya. Dan, itulah yang dilakukan ulama-ulama terdahulu, khususnya wali songo ketika melalukan islamisasi di tanah jawa dan nusantara.

Yang lebih menarik dari dakwah Rosulullah SAW ialah, tidak melalu politik dan ihlas. Menurut banyak ulama, ihlas itu memang mudah diucapkan, tetapi begitu sulit untuk dipraktekkan (amalkan). Konon ihlas itu berarti meninggalkan ihlas dengan ihlas. Artinya, jika berdakwah itu masih mengharap imbalan duniwi, itu masih dakwah kacangan. Apalagi dakwah melalu politik, parlemen, yang ujung-ujungnya kursi dan kekuasaan. Walupun tidak semua demikian. Sebab, masih ada yang duduk dipemerintahan, baik legislative maupun eksekutif, tetapi bisa memberikan perubahan moral yang  positif.

Salah satu contoh dakwah Rosulullah SAW, ialah beliau SAW selalu mengajak untuk rajin sholat berjamaah, realitasnya beliau SAW tidak pernah meninggalkan sholat berjamaah dalam hidupnya. Kendati demikian, Rosulullah SAW kemudian merasa bangga dengan sholat berjamaah dan menghina atau merendakan orang yang tidak sholat berjamaah. Justru Rosulullah SAW memberikan motivasi kepada pengikutnya bahwa sholat berjamaah itu pahalanya 25-27 derajat jika dibandingkan dengan sholat dendirian. Agar umatnya termotifasi untuk menjalankan sholat berjamaah.

Nabi SAW juga mengajak Rajin membaca Al-Quran, realitasnya Nabi SAW tidak pernah terputus dengan Al-Quran, karena Rosulullah SAW adalah Al-Quran berjalan. Sedekah menjadi bagian dari hidupnya. Nabi bisa saja menjadi orang kaya raya, tetapi Nabi SAW ternyata menikmati hidup apa adanya. Tetapi, Nabi SAW senang jika umatnya kaya raya, karena bisa berbuat banyak kepada sesama. Sebaik-baik manusia ialah, paling banyak memberikan manfaat kepada sesama.

Salah satu cara paling ampuh, hebat dan mengena iialah, membangun citra dengan ibadah ekonomi. Membangun citra islam melalui pendekatan ibadah berbasih ekonomi, dan ini sangat penting, Dalam islam disebut dengan ibadah social  (mutaadiyah). Dakwah dengan materi sangat sulit, karena yang merasakan nikmat dan senang adalah orang lain.

Sebagaimana Imam Al-Laisti yang gemar mengentaskan kemiskinan, menjalankan perbaikan moral melalui pendekatan ibadah ekonomi. Dan, ternyata dengan cara ini berhasil. Sipapun orangnya, jika diberikan bantuan, mulai sandang, pangan, papan dan kesehatan. Dengan mudah mereka akan mengikuti.

Konon, Imam Al-Laisti sosok orang yang sangat rajin beribadah, dan ilmunya sangat dalam. Tetapi, realitasnya ia terlihat jarang mengeluarkan zakat, dan sibuk bekerja. Padahal penghasilannya ratusan ribu dinar setiap hari. Akan tetapi, ia terlihat tidak pernah mengeluarkan zakat. Dan, pergaulananya juga tidak etis dilihat. Karena sebagian teman-temannya adalah pelacur, preman, peminum serta orang penganguran.

Kondisi seperti ini membuat ulama-ulama resah dan galau. Bahkan ada yang menuduh kalau Imam Al-Liasi murtad (karena tidak mengeluarkan zakat). Tuduhan itu, tidak membuat Imam Al-Laisti bergeming. Setiap hari ia tetap bergumul dengan orang-orang preman, yang terlihat minum dan tidak menjalankan ajaran agama.

Betahun-tahun Imam hidup dengan gaya seperti ini. Sampai suatu saat mendapat surat teguran dari ulama seputar sepak terjangnya. Teguran itu dianggap enteng dan santai. Bahkan, ia menjawab” kami punya jalan yang berbeda di dalam berdakwah’’. Saya berdakwah dengan model seperti ini’’. Silahkan kalian berdakwa melalui pengajian-pengajian di dalam masjid melalui halakoh-halakoh semuanya. Jawaban itu menjadikan para ulama semakin gemes dan ga omes (jengkel). Tetapi, apa boleh buat, bagi Imam Al-Laitsi dia telah memilih jalanya sendiri.

Sampai suatu ketika, Imam al-Laisti wafat. Ketika beliau wafat, rabuan orang datang ta’ziyah sebagai bentuk penghormatan kepada beliau. Ulama-ulama pada waktu itu heran dan terperanjat dengan jumlah ta’jiyah yang begitu banyak. Ternyata, Imam Al-Laisti memiliki charisma bagi mereka.

Sampai suatu ketika, Imam Malik ra mendatangi putra-putranya untuk menanyakan perihal ayahandanya. Salah satu pertanyaan yang dilontarkan ialah:’’ kemanakan harta ayah kalian yang begitu besar? Kenapa kalian dalam kesederhanaan seperti ini, padahal ayah kalian konglomerat?

Salah satu dari putranya menjawab:’’ memang ayahku orang kaya dan penghasilnya ribuan dinar. Tetapi, ketahuliah, sesungguhnya setiap hari penghasilan itu dibagikan kepada orang-orang miskin, yatim piyatu, janda-janda tua, serta digunakan untuk mengajak preman-preman untuk kembali ke jalan Allah SWT. Ayahku tidak pernah menyimpan uangnya, dalam sehari penghasilanya digunakan untuk dakwah mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Mendengar jawaban ini, Imam Malik mengangis geru-geru. Ia tidak bisa membayangkan betapa  mulya dan ihlasnya Imam Al-Laisti di dalam menyempurnakan dua ibadah (Ibadah Qoshirah) dan Ibadah Mutadiyah. Imam Malik menyesali tuduhannya selama ini. Ia merasa bedosa, karena ternyata Imam Al-Liasti lebih baik dari pada dirinya. Ia hanya bisa berdakwah di dalam masjid, tetapi belum bisa memberikan kesejajteraan ekonomi kepada sesamanya. Kemudian Imam Malik meminta kepada putra-putranya agar di antarkan ke makam Imam Al-Laisti.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook