Posted by Abdul Adzim Irsad On Oktober - 16 - 2017 0 Comment

Oleh :Abdul Adzim Irsad

Gus MusSemua sepakat bahwa ulama itu pewaris para nabi, karena ulama itu selalu berusha menteladani Rosulullah SAW, baik busana, pitutur, sikap bahkan ibadahnya. Sebagai pewaris para nabi, sudah pasti kata-kata yang keluar dari lisanya baik, menyejukkan, serta penuh dengan hikmah. Kalau berpendapat, ulama itu selalu menyandarkan pada dalil, baik yang bersumber pada Al-Quran, maupun hadis. Jika tidak ditemukan, maka di qiyaskan.

Saat berbusana, seorang ulama itu biasanya tidak sembarangan. Mereka menjaga auratnya dengan baik. Setiap ulama memiliki kekhasan dalam berbusana, ulama Indonesia, selalu sarungan, peci hitam, kadang mengenakan busana batik. Ada juga yang meniru orang Arab pada umumnya, sebagaimana Rosulullah SAW memakai gamis panjang. Ada juga yang selalu memakai baju safari, selalu rapi, sebagaimana ulama di Turkey dan Syuriah. Tidak sedikit yang memakai busana kebesaran daerahnya masing-masing.

Dalam bertutur, para ulama itu selalu memilih kata-kata yang bagus, tidak kasar dan tidak kotor, seperti; kurang ajar, bedebah, bangsat. Karena itu kata-kata orang yang tidak pantas keluar dari lisan seorang ulama. Kalaupun tidak suka, pasti mereka tetap menggunakan kata-kata yang santun dan bermartabat yang mencerminkan sifat Rosulullah SAW dan para sahabatnya. Rosulullah SAW pernah berkata “barangsiapa yang berimana kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yan baik atau lebib baik diam (HR Muslim).

Dalam hal ini, ulama di Nusantara di sebut dengan “Kyai”. Biasanya, derajat kyai itu di sandang, ketika sudah memiliki pesantren yang mapan, keilmuanya sudah mapan, seperti; ilmu Al-Quran dan tafsirnya, hadis dan mustolahnya, fikih dan usulnya, serta perangkat bahasa Arab yang meliputi; nahwu, sorof, dan balagoh.

Tidaklah heran, jika kyai-kyai Nusantara itu benar-benar sangat mendalami ilmu agama, walaupun mereka tidak terkenal dalam dunia televisi. Mereka nyantri bertahun-tahun, bahkan ada yang nyantri hingga puluhan tahun. Ilmu mereka linier (nyambung), hingga para sahabat dan Rosulullah SAW. Bahkan, ada satu syarat yang tidak tertulis, ini sering disampaikan oleh kyai-kyai sepuh “kalau seorang kyai itu harus hafal Al-fiyah”. Artinya, standar seorang ulama’ (Kyai) di kalangan Nahdiyin itu sangat tinggi. Bukan hanya sekedar pinter ceramah dan orasi di depan kamera, atau modal memiliki pesantren. Sekarang banyak orang yang punya pesantren tetapi ngak bisa ngaji, mereka hanya menjadi Kyai manajemen pesantren.

Dan yang lebih berat lagi, seorang Kyai itu harus bisa mulang ngaji (mengajar agama), baik ngaji Al-Quran, hadis, fikih, serta ilmu yang lainnya. Bahkan, kyai itu juga harus memiliki karya-karya ilmiyah serta ide-ide cemerlang untuk kemaslahatan umat, bangsa dan negara.

KH Maemun Zubaer, ulama kharismatik sekaligus pengurus penting dalam jajaran PBNU, sangat memulaykan guru-gurunya, juga putra dari gurunya. Sebut saja Sayyid Ahmad Ibn Alawi Al-Maliki, KH Maemun Zubaer justru mencium tangan, walaupun usianya jauh lebih sepuh. Tetapi, itulah ahlak yang di ajarkan Kyai kepada santrinya. Bahkan, ketika di Malangg, KH Maemun Zubaer juga mencium tangan habib Solih Al-Idrus menanti dari keluarga besar Habib Abdullah Ibn Abdul Qodir Bilfawih Malang. Ketika bertemu dengan KH Hasyim Muzaddi, juga mencium tangan dengan alasan, KH hasyim pernahnya lebuh tua.

KH Maemun Zubair telah memberikan teladan kepada para kyai, bagaimana cara memulyakan para ulama, memulyakan para habaib (durriyah Rosulullah), juga bagaimana memulyakan guru-gurunya. Mereka dalah ulama yang wajib dimulayakan, karena pewaris para nabi.

Hari ini (25/12/2016), Habib Qurais Sihab yang pernah nyantri di Darul Hadis Malang, datang silaturahmi kepada KH Maemun Zubaer. Secara keturunan, Qurais Sihab termasuk durriyah Rosulullah atau yang lebih populer dengan sebuatan habib. Ilmu Habib Qurais Shihab juga tidak diragukan. Terbukti, karya beliau berjilid-jilid, yang belum pernah dicapai oleh ulama saat ini. Habib Qurais Shihab mencium tangan KH Maemun Zubaer saat bersalama, karena maqom KH Maemun Zubae sangat istimewa, sebagai seorang pewaris para nabi, sekaligus sebagai sesepuh NU, serta santri dari Abahnya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki.

Gus Mus atu yang lebih populer “KH Mustafa Bisri” juga sangat juga ikut hadir dalam pertemuan KH Maemun Zubae dan Habib Qurais Shihab. Gus Mus dan Qurais Shihab itu adalah teman akrab sejak belajar di Universitas Al-Azhar Mesir. Dengan demikian, keilmuanya sama, guru-guru-pun juga sama. Wajar, jika keduanya memiliki kekhasan sebagai ulama Ahlussunah Waljamah yang ramah dan mengedepankan ahlakul karimah sebagai Kyai Nusantara.

KH Maemun Zubaer, KH Mustafa Bisri dan KH Al-Habib Qurais Shibah memiliki kesamaan. Mereka ulama sekaligus pewaris para Nabi. Tetapi, ketiganya kadang di buly habis-habsisan oleh anak-anak yang baru belajar agama. Ketigannya, tidak membalas, justru orang yang membulyi di maafkan. Itulah sifat Rosulullah SAW.
Perlu diketahui bersama bahwa yang dinamakan ulama itu tidak akan suka teriak-teriak dijalanan, juga tidak akan bersuara keras-keras, juga tidak akan mengumpat atau gampang menyesatkan sesama muslim. Di samping tidak pantas, itu tidak pernah dilakukan oleh Rosulullah SAW dan sahabat serta salafussolih.

Kadang, ulama seperti Gus Mus, Mbah Maemun Zubair, maupun Habib Qurais tidak henti-hentinta di buly oleh orang tertentu dengan berbagai alasan. Padahal, membuly, membenci, menfitnah, mengumpat, ulama itu termasuk sama dengan membeci Rosulullah SAW. Mengumpat atau menfitnah orang biasa saja dilarang, bagaimana menghina para ulama yang tugasnya menyambung lisan Rosulullah SAW.

Secara khusus, Allah SWT memuji para ulama itu sosok yang memiliki rasa takut yang tinggi kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman “sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya itu hanyalah para ulama”. (QS Fathir (28). Para ulama itu memiliki rasa takut kepada Allah SWT, karena ulama itu memiliki ilmu sebagaimana firman Allah SWT yang artinya “Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS al-Mujadilah(11).

Masih membincangkan ulama, Rosulullah SAW pernah berkata “Tidak termasuk umatku orang-orang yang tidak memuliakan orang yang lebih tua dari kami, menyayangi yang lebih muda dari kami, dan tidak mengetahui hak seorang ulama”. (HR Ahmad). Begitu besar jasa ulama di dalam menuntun umat, mengenalkan umat kepada Allah SWT, dan juga kepada Rosulullah SAW, juga mengenalkan kepada kitab suci Al-Quran. Jangan sekali-kali membenci, mencaci, apalagi sampai menfitnah para ulama, karena Rosulullah SAW bersabda “Mencaci seorang muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran (HR Bukhori dan Muslim).

(Malang, 16/10/2017).


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook