Posted by Abdul Adzim Irsad On Desember - 25 - 2012 0 Comment

Suatu ketika seorang lelaki datang menhampiri Rosulullah SAW dengan melontarkan pertanyaan:’’ . “Ya Rasulallah…!, siapakah orang yang paling aku mulyakan di dunia ini.” Rasululllah SAW menjawab singkat:, “Ibumu.” Kemudian lelaki itu bertanya lagi, “Lantas siapa?” Rasulullah SAW menjawab, “Ibumu.” “Kemudian siapa lagi, ya Rasulullah,” tanya orang itu. “Rasulullah SAW menjawab, “Ibumu.”. Lalu, laki-laki itu bertanya lagi; “Kemudian, setelah itu siapa, ya Rasulullah? Rosulullah SAW menjawab singkat:“Bapakmu,”

Kasih Ibu

Hadis ini sangat populer dikalangan ulama hadis. Jawaban Nabi SAW atas pertanyaan sahabat hingga tiga kali berturut-turut mengisaratkan betapa pentingnya keberadaan Ibu dan ayah. Jawaban itu juga menegaskan kepada kita, bahwa posisi seorang Ibu di dalam sebuah rumah tangga sangat tinggi dan mulia. Sampai-sampai, surga itu di posisikan di bahwa telapak kaki ibu. Jadi, kebahagiaan seseorang dintentukan oleh ridho kedua orangtuanya.

Sangat wajar dan sangat tepat jika Allah SWT meletakkan ridho-Nya di atas ridho kedua orangtunya. Mengingat begitu besar perjuangan seorang seorang ibu terhadap anak-anaknya. Sejak hamil, seorang ibu harus mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan putra-putrinya. Ketika masa-masa pertumbuhan, orangtua harus direpotkan dengan bangun setiap malam, menyusui dan memberikan yang terbaik untuk buah hatinya.

Sebuah kisah menarik dan mengetarkan hati, dimana seorang Ibu melihat anaknya yang masih balita sedang kecelakaan hingga menyebabkan salah satu matanya harus cacat permanen. Melihat salah satu mata putranya cacat, sanga Ibu menangis sedih.

Seorang Ibu tidak bisa membayangkan bagaimana masa depan anaknya dengan satu mata. Wanita itu terus menerus menangis hingga kedua matanya bengkak sambil membanyangkan masa depan putranya kelak dengan satu mata. Ahirnya, wanita itu memutuskan diri untuk mendonorkan matanya untuk sang putra tercinta.

Denga langkah kaki yang begitu berat, Ibu  itu menghampiri seorang dokter , lantas mulutnya berbisik:’’dokter, saya rela mendonorkan satu mata ini untuk anakku’’. Setelah itu seorang dokter sesegera mungkin melakukan tindakan yang mesti diperlukan untuk proses donor matanya. Ahirnya, wanita itu harus merelakan satu matanya untuk buah hatinya. Ia rela dan ihlas hidup dengan satu mata, asalkan buah hatinya tetap memiliki mata sempurna.

Setelah usai proses perpindahan mata itu. Seorang Ibu bisa tersenyum, sebagai tanda syukur atas karunia Allah SWT. Apalagi, ketika melihat putranya sudah bisa melihat dengan kedua matanya. Senyuman terus mengembang, dan lisannya tak henti-hentinya mengucapkan al-hamdulillah. Bibirnya selalu basah dengan tasbih dan tahmid karena menagungkan kebesaran Allah SWT atas pertolongan terhadap buah hatinya.

Anak yang dicintainya tumbuh kembang dengan sempurna, sementara sang Ibu harus hidup dengan satu mata. Sang anak semakin hari semakin besar, hingga sutau ketika sang Ibu mendaftarkan putranya masuk sekolah taman-kanak. Setiap menatap wajah bersih putranya, menglir dari satu sudut matanya air mata jernih, sebagai rasa syukur atas karunia-Nya.

Bulan terus berlalu, sang Ibu setiap haru mengantarkan putranya pulang dan pergi kesekolah tanpa merasa lelah. Setahun sudah berlalu, tidak terasa sang putra sudah memasuki bangku sekolah dasar. Sang Ibu yang sudah lama tinggal suaminya, dengan ihlas terus setia mengantarkan putranya sekolah setiap pagi, dan menjemputnya ketika siang hari.

Sebulan sudah sang anak masuk sekolah SD, tiba-tiba ada perubahan yang mendasar pada seorang anaknya. Setiap hari, sang anak tidak mau di antar dan dijemput sang ibu dengan alasan malu sama teman-temanya. Sebab, teman-temanya mengejek:’’ Ibumu bermata satu ya….!’’ Mendengar ejekan itu sang anak menjadi malu. Oleh karena itu, sang anak-pun bilang kalu itu bukan ibuku, tetapi pembantunya.

Sebagai seorang Ibu, dengan tulus dan sabar menerima apa adanya. Walapun putranya mengatakan demikian, tidak pernah terbesit dalam hatinya untuk membenci buah hatinya. Justru, sang Ibu tetap bangga melihat putranya semakin hari semakin pintar, cerdas, dan bisa bersaing dengan teman-temanya di sekolahnya. Setiap hari lisannya selalu mengiringi setiap langkah kakinya di dalam meraih cita-citanya.

Betahun-tahun putranya menganggab ibunya sebagai pembantu, untuk menutupi rasa malu karean ibunya memiliki mata satu. Sampai suatu ketika, putrnya mendapatkan beasiswa ke luar negeri karena prestasinya gemilang dan cemerlang.

Ketika berada di luar negeri, anak lelaki ini tidak pernah memberi kabar sedikitpun kepada Ibunya. Ia merasa menikmati kehidupan diluar negeri, belajar dengan sungguh-sungguh untuk meraih cita-citanya. Apalgi, ketika ada seorang wanita cantik yang memperhatikan dirinya, membuat dirinya semakin menghilangkan keberadaan Ibunya dihatinya.

Suatu ketika anak ini lulus dengan nilai bagus, dan menikah dengan wanita idaman hidupnya. Ia tetap mengaku kepada keluarga calon istrinya bahwa kedua orangtuanya sudah tiada. Menikahlah kedua pasangan ini, sehingga keduanya hidup bahagia sebagai suami istri yang hidup di kota besar Jakarta. Sang Ibu yang selama ini memberikan segalanya sudah tidak pernah ada dalam hidupnya. Padahal, sang Ibu hidup menderita dengan satu mata, serta hidup dari belas kasihan orang lain.

Suatu ketika lelaki ini bertemu dengan rekan-rekan SD-nya. Melihat keberhasilan dirinya, teman-teman dari desa mengundang untuk memberikan seminar sekaligus menceritakan atas keberhasilan dirinya.

Ahirnya, lelaki  ini pulang kampung untuk memberikan seminar dan sekaligus menceritakan kisah kesuksesan dirinya. Setelah acara usai, lelaki ini bertanya kepada para tetangga tentang wanita yang bermata satu. Setelah diketahui alamat dan identitas wanita yang bermata satu. Lelaki ini mencoba mencari dan menelusuri kediaman wanita bermata satu.

Maka sampialah pada rumahnya sendiri yang reot dan hampir romboh. Lantas lelaki itu memasuki rumah tersebut sambil membayangkan kehidupan masa kecilnya dengan Ibunya. Dengan tidak sengaja, lelaki itu membongkar kertas-kertas yang berserakan. Maka ditemukanlah sepucuk surat yang isinya  pesan untuk dirinya.

Baris demi barus lelaki itu membaca pesan surat tersebut. Ternyata, surat itu  ditulis langsung oleh ibu kandungnya. Sang Ibu mengisahkan seputar dirinya kepada harus bermata satu. Karena mata yang satu didonorkan kepada buah hatinya, karena tidak ingin putranya hidup dengan satu mata. Betapa terperanjat lelaki itu saat membaca surat tersebutr. Mata yang selama dini dipakai adlah mata ibunya. Walaupun sang ibu setiap hari disakiti, ternyata tidak pernah sedikitpun membencinya, apalagi mendokan negative kepada dirinya. Tapi sayan….sang Ibu sudah tiada.

Sangat tepat jika kemudian Allah SWT menjadikan seorang Ibu segala-galanya. Adakah keihlasan, cinta, serta perhatian seseorang melebihi  seorang ibu? Seorang Ibu mampu melahirkan banyak pemimpin hebat dunia, dan bisa mengatarkan kebahagiaan putra-putrinya. Tetapi, sepuluh putra-putri tidak mampu memberikan kebagiaan dan perhatian pada seorang Ibu.

 

 

 


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook