Warisan Intelektual Nusantara di Tanah HaramAlhamdulillah, setelah menunggu puluhan tahun, buku-buku yang berisi kisah, cerita, sejarah, dan keutamaan dua kota suci, Makkah dan Madinah yang berbahasa Indonesia satu persatu bermunculan. Mulanya sebatas terjemahan dari bahasa arab, tapi sejak lima tahun terkhir ini buku-buku dengan topic yang sama mulai banyak yang ditulis oleh para Ulama lokal dengan gaya bahasa yang lebih baik, lebih mudah dipahami, dan lebih bervariasi

Buku yang sekarang ada di tangan pembaca ini ditulis oleh orang yang sangat berpengalaman dan berkompeten di bidangnya. Selain lama menunutut ilmu di Umm al-Umm University Makkah, penulis buku ini aktif dalam pengajian yang diasuh oleh para ulama’, seperti; Syeh Muhammad Ali Al-Shobuni, Syeh Makki al-Bakistani, Syeh Abdul Fattah, menjadi pendamping para jama’ah haji maupun jama’ah umrah dalam kapasitasnya sebagai muthawwif atau pembimbing ibadah. Terbitnya buku ini merupakan wujud kepeduliannya terhadap kebutuhan jama’ah yang ingin lebih mengetahui detail dua kota suci tersebut.

Semua jama’ah haji dan umrah membutuhkan informasi tentang sejarah kedua kota tersebut, karena tanpa mengenali sejarahnya bisa jadi penghayatan terhadap kedua ibadah itu menjadi hambar. Ibarat makan sayur tanpa garam. Ibadah haji dan Umrah tidak bisa dilepaskan dari sejarah, karena kedua ibadah tersebut pada dasarnya adalah pengulangan atau rekonstruksi terhadap peran kesejarahan yang pernah dilakoni oleh Nabi Ibrahim as bersama sang isteri, Siti Hajar dan putranya, Nabi Ismail as.

Ibadah haji dan umrah tak ubahnya seperti napak tilas, itulah sebabnya kedua Ibadah ini tidak bisa di laksanakan kecuali di kota Makkah. Thawaf tidak boleh (haram) dilaksanakan kecuali hanya mengelilingi Ka’bah. Sa’I haram dilakukan kecuali hanya antara bukit Shafa dan Marwa. Demikian juga wuquf dan jumrah, masing-masing harus dilakukan di tempatnya.

Bayangkan, bagaimana mungkin kita bisa melaksanakan thawaf dengan penuh penghayatan jika kita tidak memahami sejarah Ka’bah? Bagaimana mungkin kita bisa memaknai ibadah sa’i tanpa mengenali sejarah Siti Hajar ketika mencarikan air buat anaknya dengan melintasi kedua bukit Shafa dan Marwah? Bagaimana kita bisa diam bertafakkur secara khusyu saat menjalani wuquf  tanpa mengerti sejarah seputar Arafah, khususnya Jabal Rahmah? Akhirnya, untuk menyempurnakan ibadah haji dan umrah, kita tidak boleh buta sejarah kedua kota suci tersebut. Kita harus mengenalinya secara baik dan detail.

Alhamdulillah, walaupun buku ini kecil namun insyaallah dapat memenuhi dahaga jama’ah haji dan umrah yang ingin menyempurnakan ibadahnya. Dalam buku ini, segala informasi seputar kota suci Makkah ini terhidang lengkap walaupun untuk detailnya kita masih perlu belajar lagi. Yang paling utama, pengetahuan dasar tentang kedua kota sucinya ummat islam tersebut tersaji dalam buku ini.

Kami sebagai praktisi haji dan umrah sangat bergembira menyambut terbitnya buku ini. Kami juga bangga sekaligus berharap agar penulis lebih produktif lagi menerbitkan buku-buku bermutu yang dibutuhkan oleh ummat. Semoga buku ini bermanfaat dan menjadi berkah, khususnya bagi (calon) jama’ah haji dan umrah Indonesia. Kami juga mendo’akan secara khusus semoga penulis buku ini senantiasa dalam lindungan hidayah dan taufiq-Nya dan buku ini menjadi jariah yang pahalanya tak terputus hingga yaumil qiyamah.

Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook