Posted by Abdul Adzim Irsad On Maret - 26 - 2012 1 Comment

kindaiJumlah biro perjalanan haji dan umrah menjamur dimana-mana, mulai kota besar hingga kepelosok desa terpencil. Mulai yang elit sampai yang bodong bisa ditemukan di desa-desa, dengan program yang beragam. Sistem MLM (Multi Level Marketing) hingga model makelaran, sampai model ikon artis bisa ditemukan di negeri nusantara ini. Ada juga yang sedikit menipu dengan mencantumkan hotel bintang lima, ternyata sesampai di Makkah dan Madinah tinggal di hotel bintang tujuh (alias hotel yang memusingkan kepala hingga tujuh keliling). Yang terpenting ialah, bagaimana meyakinkan calon jamaah haji atau umrah bisa ikut bersamanya, walaupun kadang cara yang dipergunakan sedikit haram, bahkan jelas-jelas melanggar syariat agama.

MLM (Multi Level Marketing), misalnya, banyak yang berpendapat bahwa MLM Haji dan Umrah haram, karena banyak unsur gharar. Apalagi, banyak biro perjalanan haji yang lebih mengedepankan keuntungan. Jadi, MLM Haji dan Umrah bersifat pragmatisme. Bukannya memberikan pelayanan secara menyeluruh kepada jamaah haji, sebagaimana orang-orang Jahiliyyah memberikan pelayanan kepada jamaah haji. Orang Arab Sering mengatakan:’’ melayani jamaah haji merupakan kemulyaan bagi kami’’. Istilah ini masih ada, tetapi prakteknya sangat langka di lapangan.

Realitas dilapangan membuktikan, setiap tahun ratusan bahkan ribuan calon jamaah haji khusus (plus) tidak bisa berangkat haji. Padahal, sebagian mereka sudah melunasi. Tidak tanggung-tanggung, ada yang sudah membayar 80-90 juta, tetapi karena biro perjalanan haji itu bodong, maka jamaah haji menjadi komoditas. Dan, itulah yang terjadi di lapangan. Dan, MLM sangat rawan, bahkan kerawanan sangat tinggi, karena bisa jadi system ini hanya menguntungkan orang-orang yang di atas (juragan), tetapi yang di bawahnya mati-matian mencari anggota. Dalam pandangan syariah, yang seperti ini tidak dibenarkan.

Di sisi lain, praktek pelaksanaan haji itu adakalanya diselengarakan oleh sebuah travel (biro perjalanan haji) tersebut hanya memiliki izin umrah saja. Sementara untuk penyelengaraan hajinya, biro perjalanan itu menjual jamaah haji kepada biro lain. Wajar, jika banyak biro perjalanan haji yang kemudian membuka pendaftaran haji, tetapi prakteknya justru di limpahkan kepada biro haji lainnya. Sebab, seringkali biro perjalanan haji itu adalah bodong.

Masih membahasa seputar haji MLM. Indonesia saat ini mulai bermunculan Multi level marketing (MLM) dengan menjual produk berangkat haji atau umrah. Tidak semua biro perjalanan haji itu memiliki sertifikat halal. Demikian disampaikan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ma’ruf Amin. “Jumlah yang bersertifikat hanya hitungan jari,” (http://republika.co.id). Langkah MUI sangat tepat, mengingat MLM semakin hari semakin banyak, dan prakteknya masih perlu ditanyakan dan dilihat dilapangan. Memang, produk yang di jual halal, tetapi system yang berjalanan itu menguntungkan salah satu fihak dan merugikan fihak lain. Hampir semua praktek MLM yang dilakukan di lapangan mengandung unsur riba ataupun unsur penipuan (gharar). Oleh karena itu, kepada masyarakat hendaknya harus berhati-hati, jangan ikut-ikutan menjadi edan di jaman edan ini, karena seringkali manusia menggunakan segala cara untuk mendapatkan keuntungan. Wallalu a’lam

One Response so far.

  1. Abe Unglesbee mengatakan:

    I just want to tell you that I am newbie to blogs and definitely loved your web blog. Probably I’m planning to bookmark your blog . You absolutely have beneficial writings. Kudos for sharing your website.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook