Posted by Abdul Adzim Irsad On November - 15 - 2012 0 Comment

Umar satu-satunya tokoh dan pemimpin yang sangat  kreatif dan inofatif. Beliu juga yang mempopuerkan istilah bidah, yang kemudian saya sebut dengan bidah kreatif dan inofatif. Bagiamana tidak, beliaulah  orang pertama kali mengagas Alquran menjadi satu mushaf. Padahal Nabi Saw tidak pernah memerintahkan, dan juga tidak pernah melakukakan. Umar pula sosok lelaki yang memiliki gagasan kreatif seputar jumlah rakaat tarawih berjamaah selama sebulan penuh. Kemudian, Umar mengatakan:’’ inilah nikmatnya bidah’’.

Tahun Hijriyah

Untung saja, Umar Ibn Al-Khattab hidup pada masa itu, sehingga gagasan-gagasan yang cemerlang dan visioner bisa dinikmati oleh umat islam. Walaupun Abu Bakar pernah mengatakan:’’ demi Allah…aku tidak akan pernah melakukan, apa yang berlum pernah dilakukan Rosulullah Saw’’. Walaupun ahirnya, menerima gagasan Umar. Seandainya gagasan itu disampaikan pada masa sekarang (perkembangann wahabisme), pasti akan dikecam dan disesatkan. Sesuatu yang belum pernah dilakukan dan dan tidak pernah direkomendasikan Nabi Saw termasuk bidah (mengada-ngada), dan hukumnya masuk neraka.

Dan, Umar Ibn Al-Khattab termasuk orang yang merintis awal tahun hijriyah. Gagasan bidah kretif dan inofatif Umar terkait dengan penentuan awal tahun hijriyan begitu terasa manfaatnya. Dengan adanya tahun hijriyah, umat islam bangga, karena memiliki tahun sendiri, sekaligus menjadi bukti bahwa umat islam itu harus kreatif dan inofatif yang positif, sebagaimaan kreatifitas Umar Ibn Al-Khattab ra.

Pada masa pemerintahan Kholifah Umar Ibn al-Khattab r.a, tradisi surat menyurat belum terbiasa menulis tanggal dan tahun. Sebab, Nabi Saw tidak mengajari dan tidak merekomendasikan, tetapi Alquran secara terang-terangan mengajarkan tulis menulis, sebagaimana penjelasan QS Al-Baqarah (2:282) Allah Swt berfirman:’’ Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar.

Jadi, menulis tanggal dan bulan itu sangat penting, karena akan menjadi bukti nyata bagi orang yang hidup setelahnya. Terkait dengan penulisan tanggal dalam sebuah surat, ahirnya menjadi sebuah kewajiban bangi setiap katib (penulis/ sekertaris) menulias tanggal setiap surat yang dikeluarkan, dan setiap surat yang masuk.

Di dalam kasus penanggalan Hijriyah ini, bermula dari sebuah surat yang diterima dari Gubernur Kuffah, Abu Musa al-Asaary. Tertulis dalam surat tersebut, tanpa tanggal. Surat ini membuat Umar Ibn al-Khattab resah nan gelisah sebagai seorang pemimpin (kholifah) di Madinah. Muncullah sebuah ide baru di dalam benak Umar Ibn al-Khattab untuk menentukan penulisan tanggal pada setiap surat yang tertulis. Itulah gagasan Umar Ibn Al-Khattab yang cemerlang yang menjadi warisan umat islam dunia.

Selanjutnya, Umar r.a mengumpulkan para sahabat untuk merumuskan masalah tersebut, Usman bin Affan, Ali bin Abi tholib selaku tokoh-tokoh sahabat. Tujuannya adalah bermuswarah untuk penanggalan islam. Dalam sebuah diskusi antara pemuka sahabat, muncullah beberapa pendapat.  Di antaranya yaitu memulai penanggalan islam sejak kelahiran Nabi Saw (Rabiul Awal). Ada lagi yang berpendapat, bahwa penanggalan islam itu dimulai pada masa kerasulan Nabi. Ada juga yang mengatakan bahwa yang paling tepat penanggalan islam itu dimulai ketika Nabi isra’ mi’roj (Bulan Rajab). Ada juga pendapat, agar dimulai ketika hijrah dari Makkah ke Madinah (Rabiul Awwal).

Setelah melalui perdebatan sengit, maka mereka sepakat bahwa penanggalan islam dimulai sejak hijrahnya Nabi dari Makkah ke Madinah. Disepakati awal kalender islam dari hijrahnya Nabi, ini sangat beralasan. Karena makna hijrah adalah perubahan dan pembaharuan, artinya dalam sebuah perjalanan Nabi dari Makkah ke Madinah adalah sebuah proses perubahan dari kondisi yang kurang baik menuju kondisi yang lebih baik atau dari tempat yang tidak aman menuju tempat yang aman.

Dalam sebuah literatur, makna hijrah adalah berpindah dari satu tempat ketempat lain dengan tujuan menyelamatkan aqidah (keyakinan), sehingga semua aktifitas ibadah, muamalah, belajar mengajar berjalan dengan baik tanpa ada ancaman dan ganguan. Nabi Saw.membuktikan ketika berada di Madinah beliau mampu membangun peradapan baru serta masyarakat baru, yang berdasarkan nilai nilai agama yang bersumber dari al-Qur’an. Nabi Saw mampu mengayomi semua lapisan masyarakat yang beraneka ragam keyakinan, budaya, serta bahasa di bawah kepemimpinnya yang adil.

Masyarakat baru yang dibangun oleh Nabi Saw dikenal dengan; “Masyarakat Madani”, yang mengedepankan nilai-nilai moral, etika serta Ahlaqul Karimah. Dalam waktu relative singkat, terbentukklah daulah islamiyah sebagaimana yang telah direncanakan tuhan di muka bumi ini. Madinah satu-satunya negara percontohan dunia, yang menjadi referensi utama di dalam membangun sebuah peradapan islam, yang mengedapankan ilmu serta nilai-nilai agama.

 


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook