Posted by Abdul Adzim Irsad On Juli - 17 - 2014 0 Comment

FitnahSebuah kisah menarik seputar pernyataan Qurais Sihab seputar penjelasanya bahwa Nabi SAW tidak bisa masuk surga, kecuali atas ampunan dan rammat Allah SWT. Penjelasan itu bersumber dari ceramah Quraisy Sihab di Metro TV pada menit ke 19.

Dari pernyataan itu, Quraisy Sihab dituduh Syiah, serta di sesatkan habis-habisan, seolah-olah surga sudah terkuci untuk Quraisy Sihab. Bahkan ada pernyataan yang keluar dari lisan dan tulisan seorang muslim yang tidak pantas di ucapkan seorang mukmin sejati, karena meras benci terhadap Quraisy Shihab.

Pernyataan itu seolah-oleh Prof.Dr.Quraisy Sihab sudah menjadi penghuni neraka selamanya. Sementara para pencaci maki, penuduh itu, merasa tidak pernah berdosa dengan tuduhannya. Seolah-olah mereka paling benar dan berhak atas surga-Nya.

Sebenarnya, Quraisy Sihab itu hanya menjelaskan hadis Rosulullah SAW yang artinya begini:” Dari Abi Hurairah, ia berkata: Rasulullah Saw. telah bersabda: “Amal saleh seseorang diantara kamu sekali-kali tidak dapat memasukkannya ke dalam surga.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Hai Rasulullah, tidak pula engkau?” Rasulullah SAW menjawab, “Tidak pula aku kecuali bila Allah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya kepadaku.” (Riwayat Muslim; kitab Shahih Muslim, Juz II, halaman 528)

Sebenarnya, makna yang tersirat dalam hadis ini ialah, bahwa Rosulullah SAW ingin memberikan pelajaran tauhid kepada para sahabat bahwasanya  Allah SWT berkuasa atas segalanya. Jika Allah SWT tidak meng-hendaki, manusia tidak akan bisa masuk surga atau neraka kecuali atas ampunan dan rahmat Allah SWT. Hadis ini bukan berarti menafikan penjelasan ayat lain dan hadis lain seputar jaminan Allah SWT terhadap Rosulullah SAW dan sahabatnya.

Hanya dengan semata-mata rahmat-Nya, manusia akan mendapatkan surga Allah. Amal soleh yang dilakukan, seperti ;puasa, sholat, zakat, sholat malam tidaklah cukup untuk memperoleh tiket masuk surga. Sesempurna apapun amal sholeh yang dilakukan manusia, tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah SWT. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah. Begitulah makna hadis Rosulullah SAW.

Sebaliknya, Akhlak dan amal ibadah yang dilakukan manusia, juga tidak cukup menjamin manusia terbebas dari sengatan api neraka yang menyala-nyala. Hanya dengan ampunan (magfirah-Nya), manusia yang beriman itu terbebas dari api neraka. Oleh karena itulah, umat islam harus selalu berdoa kepada Allah SWT memohon rahmat dan ampunan Allah setiap saat dan waktu.

Memahami cermah Dr.Qurais Sihab itu tidak boleh hanya sepotong-sepotong. Kalaupun dia salah, bukan berarti langsung disesatkan, hanya karena masalah benci. Bukankah menyesatkan orang yang bersahadat, sholat, pusa, haji, dan juga mengeluarkan zakat itu dilarang oleh Rosulullah SAW. Nabi SAW juga melarang membangun kebencian (tabaghodu), saling hadud (tahasadu), saling tidak menyapa (tadabaru), saling mengintai (tajassasu). Nabi SAW menyuruh umat islam menjadi hamba yang saling bersuadara.

Negeri nusantara dibangun atas dasar kerukunan, bukan atas dasar kebencian. Tidak dipungkiri, seiring perkembangan waktu, cukup banyak kelompok-kelompok yang masuk di Indonesia, seperti; Syiah dan Wahabisme. Kedua aliran ini memiliki sahwat yang begitu kuat di dalam menjajah keyakinan (teologi) umat islam Indonesia yang berteologi ahlussunah waljamaah.  NU dan Muhammadiyah, kedua-duanya berteologi Aswaja yang mengikuti Abu Hasan Al-Asyari sebagaimana penjelasan Syafii Maarif.

Wahabisme begitu kuat ke-inginanya merubah akidah yang selama ini diyakini oleh muslim nusantara. Berbagai cara dilakukan untuk merubahnya, baik melalui media cetak (majalah, makalah, buku), tv, radio. Saking semangatnya, sampai-sampai mereka lupa mengkafirkan ulama, bahkan sahabat Rosulullah SAW. Mereka lupa, apa yang dilakukan itu sudah betentangan dengan Al-Quran dan Sunnah Rosulullah SAW, tetapi mereka mengaku bahwa akidahnya paling benar dan sesuai dengan Rosulullah SAW.

Sebuah contoh nyata, mereka melarang (mensyirikan) orang berziarah kubur ke Makam Nabi SAW, juga melarang tawassul, bahkan mengingkari bahwa sahabatsahabat Nabi SAW juga melakukan ziarah ke Makam Rosulullah SAW.

Sebuah kisah menarik, seorang sahabat bernama Abu Ayyub ra. mengempaskan wajahnya ke kuburan Rosulullah SAW. Kemudian sahabat Marwan berkata kepada Abu Ayyub ra” Hai…sadarkan apa yang engkau perbuat?seru Marwan sambil menghampirinya. Ternyata lelaki yang dilihatnya itu adalah temanya sendiri (Abu Ayyub ra).  Abu Ayyub-pun menjawab” ya tentu’’. Ayyub ra menjawab:”yang aku datangi adalah Rosulullah SAW, bukan Batu. Aku mendengar Rosulullah SAW bersabda:”Janganlah kalian bersedih jika agama diurus oleh ahlinya, tetapi bersedihlan jika agama ditangani oleh bukan ahlinya (HR Ahmda, Hakim, Thabrani). Apa yang dilakukan Abu Ayyub ra bukanlah meminta kepada kuburan. Ternyata, sahabat Marwan yang menyaksikan Abu Ayyub juga tidak berkomentar lagi.

Dalam riwayat lain, ketika terjadi paceklik (kekeringan). Seorang laki-laki datang di kuburan Rosulullah SAW untuk ber-istighosah.  Ketika berada di kuburan Nabi Muhammad SAW, laki-laki itu mengatakan:”

?? ???? ???? ????? ????? ????? ?? ?????……(??? ?????? ?? ??? ???? ???????? 2/495)

Ibn Hajar Al-Askolani, Al-Hafid Ibn Katsir, dan Ibn Taimiyah dalam kitab “Iqtidha ash-Shirath Al-Mustaqim, halaman 373” membenarkan hadis di atas. Bahkan, Ibn Hajar men-shohihkan hadis di atas. Dan laki-laki yang di sebutakan adalah seorang sahabat yang bernama “Bilal Ibn Harist Al-Muzanni” sebagaimana dikemukakan oleh ulama di atas.

 Tetapi, Syekh Ibn Baz dalam ketika men-Tahqiq hadis di atas beliau mengingkari nama laki-laki yang disebutkan oleh Ibn Hajar, Ibn Katsir, dan Ibn Taimiyah, belia-pun mengatakan:” …..apa yang dilakukan laki-laki tersebut adalah mungkar dan perantara syirik. Bahkan sebagian ulama menganggab perbuatan tersebut merupakan bagian dari syirik (menyekutukan Allah SWT) (lihat: Tahqiq Ibn Baz, bab Al-Istisqo’ Maktabah Al-Ashriyah-Beirut, 2005. Hlm 704.

Beberapa ulama hadis, seperti; Ibn Hajar, Ibn Abi Syaibah, Al-Baihaqi, Ibn Katsir, Al-Khalili, Al-Daruqutni, Ibn Asakir, Muhammad Said Mamduh, Ibn Abdul Barqi, membenarkan nama sahabat di atas, sementara Syekh Ibn Baz meng-ingkarinya, bahkan menganggab apa yang dilakukan laki-laki itu (sahbat Nabi SAW Bilal Ibn Harist Al-Muzanni” perbuatan syirik. Padahal, itu sama dengan meng-kafirkan sahabat.

Terkait dengan pernyataan Qurais Sihab, beliau mengutip sebuah hadis shahih, sebagaimana penjelasan di atas. Sedangkan pernyataan Ibn Baz itu benar-benar mengingkari apa yang telah dijelaskan oleh ulama-ulama hadis yang pengetahuan dan kemampuanya jauh lebih bagus dari pada Ibn Baz. Bahkan beliau mengingkari nama sahabat yang telah dijelaskan sebutkan di atas.

Jadi, tidaklah berlebihan jika sebuah pernyataan keras yang menyudutkan, menyesatkan, sementara mereka yang menyesatkan itu tidak memahami ilmu hadis. Bahkan, sebagian dari mereka hanya ikut-ikutan, karena dasarnya benci kepada seseorang, atau karena perbedaan politik. Wal hasil, jangan menyesatkan, apalagi sampai mengkafirkan orang yang bersahadat kepada Allah SWT. Plintiran dan fitnah itu bagian dari cara orang-orang bani israil, bukan cara umat Rosulullah SAW yang cinta damai dan membangun silaturahmi.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook