Posted by Abdul Adzim Irsad On Agustus - 3 - 2013 0 Comment

TowafSudah seharusnya Kemenag membuat terobosan baru terkait langsung dengan Jamaah Haji Indonesia. Sebab, secara tidak disadari umat islam Indonesia yang jumlahnya cukup besar telah memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap negara. Jumlah jamaah haji setiap tahun mencapai 25o ribu jamaah. Sebagian dari mereka telah ngantri bertahun-tahun. Sedangkan, kebijakan pemerintah mengharuskan membayar uang 25 juta.

jadi, pemerintah (Kemenag) telah menyimpan duitnya jamaah haji dengan jumlah fantastis. Jika jumlah jamaah haji indonesia mencapai 2,5 juta. Maka uang yang terkumpul benar-benar fantastis. Jika duit jamaah haji yang terkumpul itu di depositkan, maka keuntunganya benar-benar luar biasa jumlahnya. Jika ini terus berlangsung sampai berpuluh-puluh tahun, akan semakin banyak keuntunganya yang diperolehnya.

Tidaklah berlebihan jika jamaah haji Indonesia mendapatkan perhatian khusus, mulai urusan kesehatan, beasiswa bagi putra-putri mereka, serta mendapatkan kemudahan-kemudahan lainya. Kemenag harus membuat trobosan baru, seperti; membangun rumah sakit khusus, yang mana setiap jamaah haji (pernah menunaikan) Ibadah haji mendapatkan kemudahan, bahkan mendapatkan asuransi kesehatan karena duit mereka telah ditaruh di Bank selama bertahun-tahun. Pendidikan dan kesehatan bagi jamaah haji yang sudah atau masih dalam penantian harus mendapatkan perhatian khusus, sekaligus bentuk perhatian dari kemenag.

Ahir-ahir ini, Menteri Agama Suryadharma Ali akan mengupayakan memberikan bea siswa kepada putra/putri yang orangtuanya wafat tatkala melaksanakan ibadah haji dan program ini diharapkan mendapat dukungan dari Bank Penerima Setoran (BPS) haji. Itu sangat bagus, dan merupakan kemajuan. Akan tetapi, akan lebih bermanfaat jika setiap orang yang pernah menunaikan haji juga mendapatkan perhatian kesehatan mereka. Untuk itulah diperlukan rumah sakit-rumah sakit haji yang bisa melayani semua jamaah haji dimana saja berada.

Lebih lanjut lagi, menteri agama RI menjelaskan  bahw a jumlah jemaah haji yang wafat di tanah suci saat menunaikan ibadah haji setiap tahunnya berkisar 400 orang dan sangat wajar jika BPS ikut meringankan anggota keluarga, dengan cara memberikan bea siswa, kata Menteri Agama Suryadharma Ali seusai lauching Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (SPMB-PTAIN) di Jakarta, Jumat.

Jemaah haji wafat di tanah suci bisa berbagai sebab. Karena sakit, kecelakaan dan sebagainya. Yang jelas, yang wafat ketika melaksanakan ibadah haji pada tahun 2012 lalu saja sekitar 400 orang.

Bagi kalangan perbankan sebagai BPS, untuk memberikan bea siswa kepada anggota keluarga jemaah haji yang wafat tentu sangat membantu. Cara itu sangat mulia. Jumlahnya pun tak terlalu besar jika dilihat dari jumlah jemaah haji Indonesia setiap tahunnya mencapai 211 ribu orang.

Jemaah haji Indonesia sebanyak itu memasukkan setoran awal Rp25 juta dan dilunasi ketika beberapa tahun kemudian sesuai dengan daftar tunggu (waiting list). “Tentu memberi bea siswa bagi anggota jemaah yang wafat nilainya kecil,” kata Menag.

Dana itu, lanjut dia, bisa diambil dari Corporate Social Responsibility (CSR). Meski program ini belum disosialisasikan ke kalangan BPS, diharapkan hal ini mendapat dukungan.

Banyak anggota keluarga jemaah haji yang wafat merasa sedih berkepanjangan. Pasalnya, selain merasa ditinggalkan selamanya juga hilang harapan lantaran tulang punggung ekonomi keluarga tak ada lagi, kata Menteri Agama.

Karena itu, program ini ke depan mendapat dukungan. “Saya optimis, pihak bank pun bisa memahami hal ini,” katanya (www.wisatahaji.com)


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook