Posted by Abdul Adzim Irsad On September - 24 - 2012 1 Comment

Nabi Ibrahim as indentik dengan kota suci Makkah. Sedangkan Nabi Muhammad Saw identik dengan kota suci Madinah. Jadi, ketika menyebut kota suci Makkah, seolah-olah mengupas tuntas napak tilasa perjalanan Nabi Ibrahim sang pemilik kota suci Makkah. Hampir semua kisah seputar Ibadah haji, seperti; thowaf, sai, wukuf, mabit, lontar jumrah tidak lepas dari apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim as. Yang paling menarik perhatian ialah, proses pembangunan Baitullah, secara khusus dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan putranya Ismail as.

Terkait dengan praktek ritual haji yang dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim, memiliki manasik atau tata cara yang lebih rinci. Khususnya lokasi yang digunakan, hingga saat ini menjadi ajaran dan di syariatkan oleh Rosulullah Saw. Dan, secara khusus, Muhammad Saw. merupakan keturunan Ibrahim as dari keturunan Nabi Ismail as.

RENOVASI KA'BAH

Konon, Nabi Ismail adalah orang yang pertama kali menggunakan bahasa Arab. Dari Nabi Isamil, muncullah keturnan yang secara khusus melestarikan menjadi pelayan Baitullah. Dan, orang Qurais merupakan kabilah terbesar Arab merawat rumah Allah Swt.

Di dalam beberapa referensi dalam agama Islam dan Kristen, Ibrahim adalah putera Terakh, seorang keturunan Sam bin Nuh. Alqur’an paling banyak mengupas tuntas kehidupan Nabi Ibrahim sejak pengahncuran berhala-berhala, pencariah tuhan. Dan, yang paling fenomenal adalah pembangunan Baitullaah. Sebagian sejarah mencatat bahwa kebanyakan kehdiupan beliau berhubungan dengan peristiwa-peristiwa setelah ia diutus menjadi utusan Allah Swt.

Sebelum memutusakan bertempat tinggal di kota suci Makkah, Nabi Ibrahim Ibrahim dan istrinya, Sarah, tinggal di tanah leluhur mereka di Ur, sebuah daerah di kawasan Mesopotamia. Karena suatu alasan, ia kemudian hijrah ke Harran. Selama beberapa waktu Ibrahim dan keluarganya tinggal di kota tersebut hingga akhirnya datang wahyu dari Allah yang memerintahkannya pindah ke Kan’an. (www.republika.co.id)

Selama menetap di Kan’an, Ibrahim menghidupi keluarganya dengan beternak kambing. Konon, ia pernah menggembalakan kambing-kambingnya hingga ke Palestina dan bahkan ke Mesir. Pada masa-masa di Kan’an itulah Ibrahim diyakini banyak menerima wahyu dari Allah.

Ibrahim AS yang oleh Allah SWT akan dijadikan sebagai bapak para nabi (abui anbiya’) dan leluhur bangsa-bangsa besar di dunia hingga usia tuanya belum dikaruniai seorang keturunan pun dari istrinya.

Hal itulah yang membuatnya menikah lagi dengan seorang perempuan bernama Hajar. Dari perkawinan kedua itu, Ibrahim mendapatkan seorang anak yang ia beri nama Ismail. Dan dari Ismail itulah, lahir para nabi sekaligus bangsa-bangsa yang mendiami Jazirah Arab bagian Utara.

Setelah Ismail lahir ke dunia, barulah Sarah, yang waktu itu sudah sangat uzur, melahirkan seorang anak yang kemudian diberi nama Ishak. Nabi Ishak itulah yang selanjutnya menjadi leluhur Bani Israel.

Kan’an bukan tempat tinggal terakhir bagi Ibrahim dan keluarganya. Pada tahap berikutnya, Allah SWT memerintahkan Ibrahim AS untuk hijrah ke Makkah bersama istri keduanya, Hajar. Ketika itu Makkah bukan tempat yang layak untuk dihuni. Tanahnya gersang sebab pepohonan dan mata air sulit ditemukan

 

One Response so far.

  1. Dee Glapion mengatakan:

    I simply want to mention I am newbie to blogs and seriously enjoyed your page. Most likely I’m want to bookmark your website . You actually have awesome stories. Thanks for sharing your web site.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook