Posted by Abdul Adzim Irsad On Oktober - 25 - 2013 0 Comment

Sultan HBHubungan sejarah antara Makkah dan Madinah nampak lebih nyata Rasulullah SAW, bahkan sebelum Nabi Muhammad dilahirkan. Para sahabat dan kaum muslimin hijrah dari Makkah ke Madinah. Setelah Rasulullah SAW. dan kaum muslimin kembali ke Makkah yang dikenal sebagai Fath Makkah, kota Madinah tetap memiliki posisi penting terlebih sesudah Rasulullah memilih Madinah sebagai tempat tinggal beliau hingga wafatnya. Dua kota suci yang dikenal dengan sebutan Haramain ini selanjutnya menjadi pusat kunjungan ummat Islam yang menunaikan ibadah haji dan umrah.

Dalam perkembangan selanjutnya Haramain memiliki peran penting lain, menjadi pusat pengajaran agama Islam, dimana bangsa-bangsa dari seluruh dunia terutama dari kawasan Asia Tengah, India, Malaysia dan Indonesia menuntut ilmu disini. Kebanyakan setelah mereka selesai menunaikan ibadah haji tidak langsung pulang ke negaranya tapi ‘mukim’ dahulu selama beberapa tahun untuk belajar.

Peran tambahan yang unik dari Haramain adalah ‘pemanfaatan’ nya sebagai legitimasi bagi kekuasaan raja-raja Jawa pada masa lalu. Pada abad ke 17 raja Banten dan Mataram berlomba mengirim utusan ke Makkah untuk memperoleh ‘pengakuan’ dan mendapatkan gelar Sultan sebagai dukungan spiritual atau supernatural atas kekuasaannya.

‘Sulthan’ dalam bahasa Arab berarti kekuatan ata kekuasaan, antara lain terdapat dalam surat Ar Rahman ayat 33, dimana Allah SWT. berfirman: “Hai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus penjuru langit dan bumi, maka tembuslah, kamu tidak akan dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan/kekuasaan (‘illaa bisulthaanin’)”.

Gelar ‘Sultan’ tidak hanya disandang oleh raja-raja Jawa saja tapi dikenakan oleh raja-raja Sumatera, Malaka dan India yang beragama Islam. Pada waktu itu ada anggapan bahwa pemangku (Syarief) Haramain (dua kota suci Makkah dan Madinah) memiliki otoritas spiritual untuk mengukuhkan kedudukan raja-raja yang beragama Islam. Sepulang dari tanah suci, para utusan yang biasanya sekaligus menunaikan ibadah haji atau umrah, membawa pulang sobekan kain kiswah (potongan kain berwarna hitam penutup Ka’bah yang sudah tidak digunakan lagi) sebagai bukti bahwa mereka telah diterima oleh Syarief Haramain.

Seorang pangeran Jawa bernama Abdul Qahar, putera Sultan Ageng Tirtayasa, pada tahun 1674 melaksanakan ibadah haji ke Makkah; dimana sepulangnya setelah menggantikn ayahnya sebagai raja, lebih dikenal dengan sebutan Sultan Haji. Abdul Qahar sudah tiba kembali di Banten satu setengah tahun sejak keberangkatannya, ini termasuk cepat untuk perjalanan haji pada waktu itu, yang biasanya memakan waktu rata-rata dua tahun atau lebih. Sejak saat itu bangsawan atau raja yang melaksanakan ibadah haji di tanah suci, disamping tujuan utamanya memenuhi rukun Islam ke lima, juga bermakna sebagai ‘pengakuan kekuasaan atau keilmuan’ atas kerajaan Banten.

Ada beberapa ceritera legendaris yang sulit dicerna oleh logika tapi dipercaya banyak orang secara tradisional menyangkut proses perjalanan ibadah haji dari Jawa (Banten, Pandeglang, Tasikmalaya) ke tanah suci Makkah dan Madinah; bahkan ada yang tertulis dalam sebuah kitab seperti Hikayat –Hasanuddin yang ditulis sekitar tahun 1700, yang konon berceritera tentang perjalanan haji Sunan Gunung Jati bersama puteranya Hasanuddin melalui media metafisika, sehingga dalam waktu sekejap sudah sampai di Makkah dan Madinah (lihat buku: Ulama Tanah Haam: Kiprah Ulama Indonesia di Tanah Haram olehAbdul Adzim Irsad)

 

 


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook