Posted by Abdul Adzim Irsad On Januari - 4 - 2013 1 Comment

 Antrean HajiJika usia kita masih muda, yakni sekitar 25-40 tahun, masih ada kesempatan dan harapan untuk menunaikan ibadah haji. Namun, jika usia sudah memasuki 40-50 tahun, kesempatan dan harapan tetap ada, tetapi dengan harap-harap cemas. Jika usia sudah memasuki usia 60-70 tahun, harapan untuk menunaikan ibadah haji sangat tipis, karena haji memerlukan tenaga yang pripa. Sedangkan usia 70 ke atas sangat rawan penyakit dan kadang kena angina malampun sakit-sakitan.

Untuk untuk segeralah menunaikan ibadah haji, karena manusia tidak tahu apakah masih diberikan kesempatan untuk menunaikan ibadah haji. Sebuah pesan singkat Rosulullah SAW yang begitu dalam maknanya, terkait dengan kesempatan dan kesehatan pernah dikemukana oleh Nabi SAW yang artinya:’’ dua kenikmatan yang terlupakan, sehat dan sempat (Al-Sihhah wa Al-Faragh)’’.

Kenikmatan itu akan terasa bermakna dan penting ketika sudah tiada. Oleh karena itulah Nabi SAW mewanti-wanti agar supaya manusia mengunakan kesempatan yang diberikan dengan sebaik-baiknya agar tidak rugi dikemudian hari. Dalam kesempatan tertentu, Allah SWT bersumpah dengan waktu (QS Al- Ashr (103:1-3) yang artinya ‘’Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Sampai-sampai Nabi-pun mengingatkan dalam sebuah hadis singkat terkait dengan pengingya menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Rosulullah SAW mengatakan:’’ jika kalian memasuki waktu pagi, janganlah menunggu waktu sore, dan ketika kalian memasuki waktu sore, janganlah menunggu waktu pagi. Adakah pesan lebih indah melebihi indahnyanya pesan Rosulullah SAW kepada kita terkait dengan waktu dan kesempatan?

Kenapa Nabi SAW mengingatkan demikian, karena Rosulullah SAW sangat mencintai umatnya. Bahkan, cintanya itu melebihi cintanya kepada dirinya sendiri. Tetapi, Nabi SAW hanyalah manusia biasa yang tugasnya ialah menyampaikan pesan Allah SWT melalu lisan dan tindakan. Selebihnya, Allah-lah yang menentukan segala-galanya. Terkait dengan otoritas mutlak Allah SWT terkait dengan keterbatasan Rosulullah SAW. QS Yasin (36:17)17. Dan kewajiban Kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas’’.

Masih membincangkan masalah kesempatan dan kesehatan. Tidak dipungkiri, dua kenikmatan ini sangat besar dan begitu penting sebagaimana penjelasan Allah SWT dan Rosulullah SAW di atas. Tetapi, realitasnya sebagian besar manusia, khususnya umat islam banyak yang melalaikannya.

Biasanya, ketika dalam kondisi sibuk dengan pekerjaan, jarang sholat berjamaah, tidak pernah membuka kitab sucunya, enggan menunaikan ibadah haji padahal biaya sudah ada. Sementara, kondisi fisiknya juga sehat wal afyat. Ketika Allah SWT memberikan ujian dengan sakit, dan tidak ada lagi kesempatan, maka ia-pun menyesali. Dan, penyesalan itu itu tiada artinya, karena masa muda nan sehat, serta kesempatan itu telah berlalu. Orang Arab sering mengatakan”’ semoga masa mudaku kemabli lagi’’. Sesuatu yang mustahil terjadi, dan ini harapan yang sia-sia.

Terkait dengan perintah Allah SWT, seperti; sholat, puasa, zakat dan haji, jangan sekali-kali menunda-nunda, karena manusia tidak tahu kapan ajal menjemputnya. Dan, bagi orang yang sudah mampu untuk menunaikan ibadah haji, jangalah mengabaikan panggilan Allah SWT. Sebab, memenuhi panggilan ibadah haji itu wajib, jika sudah cukup bekal materi, dan sehat fisiknya.

Ketika membincangkan seputar panggilan Allah SWT di dalam menunaikan ibadah haji. Allah SWT menjelaskan dalam QS Al-Hajj (22) ayat 27–29 mengisyaratkan bukan hanya datang ke Makkah secara ?sik. Lebih dari itu, Allah menjelaskan makna dan hakikat ibadah haji adalah memenuhi panggilan-Nya lahir dan batin sebagai bentuk ketaatan seorang hamba terhadap Tuhannya.

Lebih lanjut lagi, gambaran ayat di atas ialah bagaimana manusia yang sedang menunaikan haji datang dari penjuru dan pelosok dunia dengan mengenakan pakaian yang lusuh, dengan perawakan yang kurus karena melakukan perjalanan yang panjang dan melelahkan. Semua itu dilakukan semata-mata karena ingin memenuhi panggilan Allah Swt., sebagai wujud atas ketundukannya (Abdul Adzim: (Haji: Memenuhi Panggilan Ilahi Ketanah Suci).

Gunakanlah kesempatan yang diberikan kepada kita dengan sebaik-baiknya, karena kesempatan itu cepat atau lambat akan dicabut oleh Allah SWT. Gunakanlah kesehatan fisik untuk mengabdikan diri kepada Allah SWT, sebab suatu ketika sehat itu akan di cabut oleh Allah SWT. Gunakan harta itu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalu ibadah haji, sebab suatu ketika harta itu akan dicabut. Jangan khawatir harta itu akan berkurang untuk biaya haji, sebab Allah SWT telah berjanj bahwa semua materi yang gunakan untuk haji akan dikembalikan oleh Allah SWT dengan berlibat ganda.

 Begitulah ibadah haji yang sebenarnya. Menurut Nabi Saw., ibadah haji adalah amal yang paling mulia. Orang yang menunaikan haji disebut dengan duta Allah (wafdullâh), apa yang mereka mohonkan akan dikabulkan oleh Allah, apa yang diminta pasti diberi oleh Allah Swt. Apa yang mereka keluarkan dari sebagian materi, Allah akan menggantinya dengan berlipat ganda. Sampai-sampai Nabi Saw. menyebutkan angka, setiap 1 dirham akan dilipatgandakan Allah Swt. menjadi 700 dirham.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

One Response so far.

  1. ADEN NERO mengatakan:

    kenapa jarak antrean begitu lama…..karean sistem pemerintahan bagian ibadah haji kebanyakan beranggota iblis..tangkap dan siksa mentri agama dan birokrasinya


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook